Hukum Menghirup Uap Air Bagi Yang Berpuasa

  • 2 min read
  • May 15, 2018

Soal:

Bagaimanakah hukum puasa seseorang yang mandi di siang hari Ramadhan dengan menggunakan air panas? Biasanya ini akan menyebabkan terbentuknya uap air di kamar mandinya, dan pasti akan terhirup olehnya.

Hal lain, suatu hari saya mengalami mimpi basah di siang hari Ramadhan dan saya terpaksa untuk memercikkan air panas ke bagian kemaluanku untuk mengeluarkan mani yang tersisa. Saya juga terkadang mandi dalam keadaan berpuasa dengan menggunakan air panas, walaupun saya tidak dalam keadaan junub.

Jawaban:

Pertama:

Menghirup uap air yang dihasilkan karena sebab mandi dengan air panas bagi orang yang berpuasa, tidaklah membatalkan puasa, karena masuknya uap air ini ke dalam perut merupakan perkara yang sulit dihindari. Disamping itu tidak ada maksud darinya untuk melakukan hal itu.

Dalam hal ini,  para ulama Komisi Tetap Fatwa Saudi Arabia pernah ditanya:

“Sebagai informasi bahwasanya kami tetap bekerja pada bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa di tempat yang di dalamnya terdapat uap air yang dihasilkan oleh stasiun tempat kami bekerja. Dalam banyak keadaan kami sering menghirup uap air tersebut, apakah hal ini membatalkan puasa kami? Dan apakah kami diharuskan untuk mengqadha’ hari yang dimana kami menghirup uap air pada hari tersebut?

       Jawabannya:

Jika perkara tersebut terjadi sebagaimana disebutkan maka puasa Anda tetaplah sah, dan tidak ada kewajiban apapun atas Anda.” (Lihat: Fatawa Al-Lajnah Al-Daimah 10/275).

Kedua:

Pernyataan Anda: “Saya terpaksa untuk memercikkan air panas ke bagian kemaluanku untuk mengeluarkan mani yang tersisa”, maka perlu Anda ketahui bahwasanya mengeluarkan mani dengan cara seperti ini termasuk masturbasi yang diharamkan, dan ia termasuk pembatal puasa. Karena itu Anda diharuskan untuk bertaubat yang dibarengi dengan qadha’.

Perbuatan Anda ini melanggar apa yang diharamkan oleh Allah. Orang yang berpuasa tidak akan disiksa karena sebab mimpi basah, karena tidak ada campur tangan darinya dalam perkara ini. Adapun mengeluarkan mani yang tersisa dengan sengaja, maka ini dapat membatalkannya.

Catatan:

            Penanya ini kembali mengirimkan pertanyaan sebagai berikut:

“Sebagai informasi bahwasanya saya sangat tidak mengetahui bahwasanya hal ini termasuk masturbasi, karena ketika saya melakukan hal itu saya tidak merasakan kelezatan apapun ataupun syahwat.”

Maka kami menjawab:

Apabila penggunaan air panas yang engkau lakukan untuk mengeluarkan mani yang tersisa dari mimpi basah tidak dibarengi dengan kelezatan ataupun syahwat, maka puasamu tetaplah sah, karena keluarnya mani tanpa merasakan kelezatan tidaklah membatalkan puasa.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullaah mengatakan:

“Apabila mani keluar tanpa dibarengi dengan syahwat, maka puasanya tetaplah sah, dan tidak ada kewajiban qadha atasnya.” (Lihat: Majmu’ Fatawa Al-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 19/238).

Berdasarkan hal ini, maka puasa Anda pada hari tersebut di bulan Ramadhan tetaplah sah, dan tidak ada kewajiban atasmu untuk mengqadha’nya. Adapun qadha’ yang engkau lakukan berpatokan pada fatwa sebelumnya, maka ia akan dihitung sebagai puasa sunnah insya Allah Ta’ala, dan puasa enam hari yang Anda lakukan setelah Ramadhan tetap sempurna (sah), walhamdulillaah, dan Anda tidak perlu mengulangi puasa tersebut.

Wallaahu a’lam

Link : https://islamqa.info/ar/93821