Hukum Niat Puasa yang Menggantung

0
114

 Pertanyaan:

Kalau awal Ramadhan belum diumumkan, lalu seseorang yang hendak tidur lebih awal mengucapkan, ”Kalau besok adalah awal Ramadhan, maka saya akan berpuasa”; apakah niat seperti ini dianggap cukup dan puasanya sah?

Jawaban:

Para ulama fikih berbeda pandangan dalam masalah menjadi dua pendapat. Perbedaan ini dilatarbelakangi oleh perbedaan mereka dalam masalah penentuan niat. Persoalannya adalah apakah dia harus berniat berpuasa khusus untuk Ramadhan, atau apakah cukup baginya untuk sekadar berniat puasa, entah itu puasa wajib ataupun sunnah?

Mayoritas ulama dari Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah mensyaratkan penentuan niat puasa Ramadhan.

Sedangkan kalangan ulama bermazhab Hanafiyah tidak mensyaratkan penentuan  niat. Hal yang sama  diriwayatkan dari Imam  Ahmad. Maka berdasarkan pandangan ini, puasa orang yang mengatakan jika besok Ramadhan maka aku akan berpuasa wajib dianggap sah.

Dalam kitab Al-Furu’ (3/40) dikatakan,

“Diharuskan menentukan niat pada setiap puasa wajib, sesuai dengan pendapat Imam Malik dan Syafi’i, yaitu bahwa dirinya yakin akan melakukan puasa Ramadhan, atau puasa qadha’, puasa nadzar atau kaffarat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya   masing-masing orang tergantung apa yang diniatkan.”

Ada riwayat lain dari Imam Ahmad yang mengatakan, “Tidak diwajibkan menentukan niat untuk setiap puasa yang sifatnya wajib sebagaimana pendapat Abu Hanifah. Karena penentuan niat maksudnya adalah untuk membedakan, sementara waktu Ramadhan telah jelas.

Maka berdasarkan pendapat ini, niat secara mutlak dianggap sah, begitu pula niat puasa fardhu (untuk hari) yang masih diragukan (Yaum al-Syak). Yaitu niat pada malam yang meragukan (malam tiga puluh bulan Sya’ban). Misalnya dengan meniatkan: “Jika besok Ramadan, maka ia adalah puasa wajibku, dan kalau bukan Ramadhan, maka ia adalah puasa sunnahku”.

Niat seperti ini menurut riwayat pertama tidak sah sebelum dia   menegaskan bahwa besok dia berpuasa untuk Ramadhan. Sementara menurut riwayat kedua, puasanya dianggap sah.”

Dalam kitab Al-Inshaf (3/295) dikatakan,

“Jika berniat: ‘kalau besok Ramadan, maka saya berpuasa wajib, tapi kalau tidak maka saya berpuasa sunnah’ adalah tidak sah. Ini pendapat kami dan mayoritas pengikut madzhab kami. Dan ini adalah konsekuensi dari disyaratkannya menentukan niat.”

Sedangkan menurut Imam Ahmad adalah sah. Hal tersebut berdasarkan riwayat lain yang mengatakan bahwa tidak harus menentukan niat untuk Ramadhan. Riwayat ini dipilih oleh Syaikh Taqiyuddin dalam kitab al-Faiq dengan mengatakan,

‘Pendapat ini dikuatkan oleh pengarang kitab Al-Muharrar  dan guru  kami, dan inilah pendapat yang dipilih’.”

Silahkan juga merujuk dalam kitab al-Bahru al-Raiq, 2/280, Majma’ al- Anhar, 1/233, Mughni al-Muhtaj, 2/150, al-Mughni, 3/9 dan al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah, 5/165, 28/22.

Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah hukumnya tidak sah. Beliau menjelaskan bahwa masalah ini penting dan sering muncul.

Sebagai contoh, seseorang tidur lebih awal pada malam  tiga puluh bulan Sya’ban, ada kemungkinan malam tersebut adalah permulaan Ramadhan. Maka dia mengatakan, “Kalau besok Ramadhan, maka itu puasa wajib saya”. Atau mengatakan, “kalau besok   Ramadhan, maka saya berpuasa”. Atau mengatakan, “kalau besok Ramadhan, maka  besok puasa wajib, tapi kalau tidak, maka ia puasa untuk kaffarat yang wajib”, atau perkataan semisal itu yang merupakan bentuk niat yang masih menggantung.

Yang seperti ini tidak sah. Karena ucapan, “Jika begini, maka ia puasa wajib saya” terjadi dalam kondisi ragu-ragu, sedangkan niat harus tegas. Jika dia tidak bangun kecuali  telah terbit fajar, dan kemudian diketahui bahwa Ramadhan telah masuk, maka dia harus meng-qadha’ hari itu.

Pandangan kedua diriwayatkan dari Imam Ahmad adalah bahwa puasanya sah jika jelas Ramadhan telah masuk. Pendapat itu dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Bisa jadi ini masuk dalam keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Dhiba’ah binti al-Zubair,

حجي واشترطي أن محلي حيث حبستني ، فإن لك على ربك ما استثنيت

“Berhajilah dan syaratkan bahwa tempat tahallul saya adalah di mana saja saya terhalang, maka Tuhanmu akan memberikan apa yang engkau kecualikan.”

Orang tersebut menggantungkan niat karena tidak tahu  apakah besok Ramadhan atau bukan, maka keraguannya terkait dengan penetapan bulan bukan karena ragu dalam niat apakah berpuasa atau tidak.

Oleh karena itu, sekiranya dia mengatakan pada malam pertama Ramadhan, “Besok saya mungkin berpuasa dan mungkin juga tidak.” Kami katakan, ini tidak sah. Karena dia ragu-ragu.

Dengan demikian, jika kita hendak tidur sebelum adanya kabar pada  malam tiga puluh Sya’ban, maka hendaknya kita berniat, “Kalau besok Ramadhan, maka kami berpuasa.” Lihat: al-Syarhu al-Mumti’ (6/375).

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/70479

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here