HUKUM ORANG YANG BERIHRAM SETELAH MELEWATI MIQAT

0
80

Soal:

Tahun ini saya bersama suami berangkat menunaikan haji. Perjalanan kami terbang menuju Jeddah. Pilot pesawat kami adalah seorang non-muslim, dan ia menyampaikan bahwa dalam 45 menit lagi kami akan berada sejajar dengan miqat. Namun setelah batas waktu itu habis, ia tak lagi menginformasikan tentang posisi sejajar dengan miqat, hanya saja kami mendengarkan para penumpang telah mulai mengucapkan talbiyah.

Apakah (dengan begitu) kami harus membayar dam atau tidak?

Jawaban:

Jika Anda semua berihram setelah melewati miqat, maka Anda berkewajiban menyembelih seekor kambing untuk Anda dan seekor lagi untuk istri Anda. Anda menyembelihnya di Mekkah lalu membagikannya kepada orang-orang miskin di sana.

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (22/140) dijelaskan:

“Siapa yang melewati miqat dalam keadaan tidak berihram, maka ia wajib untuk kembali ke miqat untuk berihram darinya jika memungkinkan. Jika ia kembali untuk berihram di miqat, maka ia tidak wajib membayar dam. Ini disepakati para ulama; karena ia telah berihram dari miqat yang diperintahkan untuk berihram dari situ.

Namun jika ia melewati miqat dan berihram (setelah melewatinya), maka ia wajib membayar dam; baik itu ia memutuskan untuk kembali ke miqat atau tidak. Ini pendapat kalangan Malikiyah dan Hanabilah.”

Syekh Ibn Baz rahimahullah pernah ditanya: apakah hukum melewati miqat saat berhaji dan berumrah?

Beliau pun menjawab:

“Seorang muslim jika ingin menunaikan haji atau umrah tidak boleh melewati miqat yang dilewatinya kecuali dengan berihram.

Jika ia melewatinya tanpa berihram, maka ia harus kembali ke sana dan berihram darinya.

Jika ia tidak melakukan hal itu dan berihram dari tempatnya berada –baik itu lebih dekat pada miqat atau lebih dekat ke Mekkah-, maka ia wajib membayar dam dalam pandangan banyak ulama. Ia menyembelihnya di Mekkah dan membagikannya kepada kaum fakirnya; karena ia telah meninggalkan satu kewajiban haji, yaitu berihram dari miqat yang syar’i.” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 9/17)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya:

“Saya naik pesawat dari Riyadh menuju Jeddah dengan niat berumrah. Lalu pilot pesawat mengumumkan bahwa setelah 25 menit kami akan melintas di atas miqat, tapi saya sekitar 4 atau 5 menit setelah pesawat melintas di atas miqat saya baru tersadar (untuk berihram). Dan sekarang ini kami telah menyelesaikan manasik umrah. Maka bagaimanakah hukumnya, Syekh?”

Beliau menjawab:

“Hukumnya –berdasarkan penjelasan para ulama-adalah bahwa sang penanya harus menyembelih seekor kambing di Mekkah dan membagikannya kepada kaum fakir. Namun jika ia tidak mampu, maka Allah tidak membebani seseorang kecuali dalam kemampuannya.

Namun saya menasehatkan kepada saudara-saudara: bahwa jika pilot telah mengumumkan bahwa 25 atau 10 menit lagi (melintasi miqat), segeralah berihram; sebab sebagian orang mungkin akan tertidur setelah pengumuman itu dan tidak merasakannya kecuali setelah mendekati Bandara Jeddah. Sementara jika Anda telah berihram 5 atau 10 menit, atau (bahkan) 1 atau 2 jam sebelumnya, maka itu tidak mengapa dilakukan. Yang terlarang adalah jika Anda menunda berihram sampai Anda melewati miqat. Dan 5 menit untuk sebuah pesawat terbang itu bisa mencapai jarak tempuh yang jauh.

Maka saya katakan kepada saudara penanya: sembelihlah hewan fidyah di Mekkah untuk masing-masing Anda yang tidak berihram kecuali setelah melewati miqat, lalu bagikanlah kepada kaum fakir. Tapi di lain waktu, perhatikanlah jika pilot sudah mengumumkan tentang itu: (jika) kondisinya masih lapang, berihramlah, sehingga jika Anda tertidur sesudah itu, tidak ada masalah lagi untuk Anda.” (Lih: al-Liqa’ al-Syahri no. 56, soal ke 4)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/113877

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here