Hukum Qunut Dalam Witir Dan Apa Yang Harus Dibaca

0
99

SOAL:

Saya merasa kesulitan dalam membaca doa-doa di luar kepala, seperti doa qunut saat shalat witir. Saya pernah membaca sebuah surah al-Qur’an sebagai pengganti doa Qunut, setelah saya tahu, bahwa ia hukumnya wajib, maka saya pun berusaha keras untuk menghafalnya. Dengan cara, ketika shalat, saya meletakkan sebuah buku di atas meja sebelah saya, namun saya tetap menghadap ke kiblat, apakah perbuatan saya ini dibenarkan?

JAWABAN:

  1. Anda boleh membaca doa Qunut sambil melihat secarik kertas atau buku saku saat shalat witir sampai hafal, kemudian setelah hafal, silakan bacalah doa tersebut berdasarkan hafalan. Dibolehkan pula membaca melalui mushaf saat shalat sunnah bagi yang tidak punya banyak hafalan surat al-Qur’an.

Syekh Ibnu Baz –Rahimahullah– pernah ditanya tentang hukum membaca al-Qur’an sambil memegang mushaf ketika shalat Tarawih? Dan apa dalilnya dari al-Qur’an dan al-Sunnah?

Beliau menjawab:

“Seseorang boleh membaca mushaf saat shalat malam di bulan Ramadhan, hal itu sebagai bentuk memperdengarkan seluruh isi al-Qur’an kepada kaum mukminin; serta banyak dalil syariat yang memperbolehkan seseorang membaca al-Qur’an melalui Mushaf saat shalat. Dan ini sifatnya umum, baik itu bacaan sambil memegang mushaf atau bacaan di luar kepala. Sebagai disebutkan secara valid di dalam haditsnya Aisyah –Radhiyallahu ‘anha– bahwa dirinya memerintahkan budaknya, Dzakwan, agar mengimaminya shalat malam di bulan Ramadhan sambil memegang mushaf, hadits ini dicantumkan oleh al-Bukhari secara Mu’allaqdengan redaksi kalimat yang meyakinkan di dalam kitab Shahihnya.” (Lih: Fatawa Islamiyyah, 2/155).

  1. Doa Qunut yang dibaca tidak harus bersumber dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan seseorang boleh membaca doa Qunut selain yang bersumber dari beliau atau menambahkan doa lainnya.

Bahkan jika seseorang membaca ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung doa, maka itu pun dibenarkan. Al-Nawawi –Rahimahullah– menuturkan:

“Ketahuilah, bahwa Doa Qunut itu tidak memiliki redaksi yang paten, dan inilah pendapat mazhab (Syafi’i).

Doa apapun yang dibaca, ia termasuk doa Qunut meskipun  ia hanya membaca satu ayat. Atau jika seseorang membaca beberapa ayat al-Qur’an al-Aziz yang mengandung doa, itu juga sudah termasuk doa Qunut, tetapi memang sebaiknya seorang muslim  membaca doa Qunut sebagaimana yang tercantum dalam sunnah…” (Lih: al-Adzkar al-Nawawiyah, Hal. 50)

  1. Ada pun perkara yang disebutkan oleh saudara penanya, bahwa ia pernah membaca beberapa ayat al-Qur`an sebagai ganti dari doa Qunut, maka tidak diragukan lagi perbuatan ini tidak layak untuk kerjakan, karena tujuan dari Qunut adalah doa, oleh sebab itu, bila ayat-ayat tersebut mengandung doa, maka dibolehkan membacanya sebagai doa Qunut, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala yang artinya:

“(Mereka berdoa): ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau buat hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia.’” (QS. Ali Imran: 8)

  1. Adapun apa yang disebutkan oleh saudara penanya tentang wajibnya membaca doa Qunut, maka hal tersebut tidak benar, sebab Qunut sendiri hukumnya sunnah, dengan demikian, bila seseorang tidak membaca qunut ketika shalat witir, maka shalatnya tetap sah.

Syekh Ibnu Baz –Rahimahullah– pernah ditanya: “Apa hukum membaca doa qunut ketika shalat witir di bulan Ramadhan dan bolehkah jika tidak membacanya?”

Beliau menjawab:

“Membaca doa qunut hukumnya sunnah dalam shalat witir, maka bila suatu waktu seseorang meninggalkannya, tidak masalah.”

Dan beliau pernah ditanya: “Siapakah orang yang sudah merutinkan doa qunut ketika shalat witir setiap malam, apakah amalan ini dicontohkan oleh generasi salaf?”

Beliau menjawab:

“Tidak masalah jika seseorang melakukan hal itu dan ia hukumnya sunnah, karena tatkala Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– melihat Husain bin Ali –Radhiyallahu ‘anhuma– membaca doa qunut dalam shalat witir, beliau tidak memerintahkannya untuk meninggalkannya sesekali dan tidak pula menyuruhnya untuk merutinkannya, ini merupakan bukti bahwa kedua kondisi tersebut dibolehkan.

Oleh sebab itu, terdapat bukti valid sebuah hadits dari Ubay bin Ka’ab –Radhiyallahu ‘anhu– yaitu ketika ia mengimami para sahabat –Radhiyallahu ‘anhum– di masjid Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, ia sengaja tidak membaca qunut beberapa malam, kemungkinan tindakannya tersebut dilakukan agar orang-orang tidak menganggapnya wajib.” (Lih: Fatawa Islamiyah (1/159))

Sumber: https://islamqa.info/ar/9061

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here