HUKUM SA’I DENGAN JALAN MUNDUR ATAU TERBALIK ATAU MENYAMPING: APAKAH SA’INYA SAH?

  • 1 min read
  • Aug 16, 2018
Sa'i

Soal:

Dalam salah satu putaran antara Shafa dan Marwah saat melakukan sa’i, saya melakukan sa’i dengan berjalan mundur sebanyak 4 langkah karena berbicara dengan putri-putri saya. Bagaimana hukum umrah saya? Apa yang harus saya lakukan sementara saya sudah kembali ke kampung halaman saya?

Jawaban:

Tindakan Anda berjalan mundur dalam sa’i Anda tidaklah mengapa, karena tujuan utamanya adalah menyelesaikan/menempuh jarak yang ada antara Shafa dan Marwah, dan itu sudah terjadi; sehingga bagaimanapun cara orang yang melakukan sa’i dalam menempuhnya, maka itu boleh.

Dikatakan dalam Nihayah al-Muhtaj (3/292):

“(Dan jika melakukan sa’i sebanyak 7 kali)…meskipun dengan terbalik, atau berjalan dengan mundur –dalam pendapat yang kuat- karena tujuan utamanya adalah menyelesaikan jarak (antara Shafa dan Marwah).”

Dalam Fatawa al-Ramly (2/86) disebutkan:

“Ditanyakan tentang orang yang melakukan sa’i dengan cara menyamping atau berjalan mundur atau terbalik: apakah (sa’i)nya sah? Beliau (al-Ramly-seorang ulama Syafi’i) menjawab: ‘Iya, sah.’”

Ini jika yang Anda maksudkan dengan “berjalan mundur” adalah bahwa Anda berjalan ke arah rute sa’i Anda namun dengan punggung Anda (membelakang-penj).

Dan jika yang Anda maksudkan adalah Anda berjalan mundur meninggalkan posisi sa’i Anda dan Anda mundur beberapa langkah ke belakang, maka itu juga tak mengapa, karena jedanya singkat dan itu tidak berpengaruh, meskipun dikatakan bahwa “keberturutan” dalam sa’i itu merupakan syarat seperti dalam tawaf; karena yang Anda lakukan tidak lebih dari beberapa langkah yang tidak terlalu berpengaruh dan sangat singkat.

Dan pendapat yang paling kuat adalah bahwa keberturutan bukanlah syarat (dalam sa’i), dan bahwa seseorang boleh beristirahat sejenak dalam sa’inya. Itu sama dengan jika ia merasa perlu untuk kembali (mundur) di tempat sa’inya.

Kesimpulannya adalah bahwa yang Anda lakukan itu tidaklah mengapa dan umrah Anda sah.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/270962