HUKUM SEPUTAR ORANG YANG BERANGKAT KE JEDDAH UNTUK BEKERJA ATAU KUNJUNGAN, LALU BERNIAT MELAKUKAN UMRAH

  • 4 min read
  • Aug 16, 2018
Pekerja

Soal:

Ayah saya berangkat ke Jeddah untuk menghadiri sebuah konferensi. Kepada para peserta disampaikan bahwa mereka akan menunaikan umrah setelah bermalam 1 atau 2 malam di Jeddah setelah konferensi selesai. Dalam pesawat diumumkan sampainya pesawat di atas wilayah miqat bagi yang hendak berumrah. Namun ayah saya tidak berihram (karena agenda yang sebelum telah ditetapkan). Tapi setelah ia sampai di Jeddah, tiba-tiba terjadi perubahan agenda, dan bahwa mereka harus segera menunaikan umrah di malam ketibaan itu. Maka ayah saya pun berihram dari Jeddah dan menunaikan umrah, namun beliau tidak membayar kaffarah (dam). Apakah ia wajib melakukan sesuatu?

Jawaban:

Orang yang berangkat menuju Jeddah untuk bekerja dan umrah, kondisinya tidak lepas dari 2 kondisi:

Pertama, ia berniat umrah sebelum tiba di Jeddah. Sehingga niat perjalanannya ke Jeddah dengan niat bekerja dan umrah secara bersama tanpa memandang mana yang terlebih dahulu.

Kedua, ia berniat pergi ke Jeddah tanpa niat berumrah, lalu (setibanya di Jeddah) barulah ia berniat untuk berumrah.

Dalam kondisi pertama, ia wajib berihram dari miqat, lalu menyelesaikan pekerjaannya di Jeddah, lalu berumrah. Meskipun yang utama adalah jika ia memulainya dengan berumrah terlebih dahulu. Jika tidak memungkinkan baginya melakukan umrah terlebih dahulu dan ia mengalami kesulitan untuk tinggal beberapa di Jeddah dalam keadaan mengenakan pakaian ihram, maka ia boleh tidak berihram saat melewati miqat, namun saat pekerjaan telah selesai di Jeddah dan ia bermaksud untuk berihram, maka ia harus keluar menuju miqat untuk berihram darinya. Jika ia tidak melakukannya dan berihram dari Jeddah, maka berarti ia telah meninggalkan salah satu kewajiban ihram, dan ia wajib menyembelih seekor kambing di Mekkah lalu membagikannya kepada kaum fakir di Tanah Haram.

Adapun dalam kondisi kedua: maka ia tidak diharuskan berihram di miqat, karena ia memang sejak semula tidak berniat untuk berumrah. Dan jika ia berniat untuk berumrah setelah urusan pekerjaannya di Jeddah selesai, maka ia berihram dari tempatnya berada di Jeddah.

Dalam kasus yang serupa dengan ini, para ulama Komite Tetap Fatwa Saudi Arabia menjelaskan:

“Menjadi kewajiban orang yang berniat melakukan umrah lalu melewati miqat untuk berihram darinya dan tidak boleh melewatinya tanpa berihram. Dan karena Anda tidak berihram dari miqat, maka masing-masing dari Anda harus mengeluarkan dam, yaitu dengan menyembelih seekora kambing yang boleh disembelih untuk kurban, disembelih di Mekkah lalu dibagikan kepada kaum fakirnya, tanpa Anda boleh mengonsumsinya sedikit pun.” (Lih: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah, 11/176-177)

Syekh Muhammad al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang bepergian dari negerinya menuju Jeddah, lalu ia berniat untuk umrah; apakah ia boleh berihram dari Jeddah?” Beliau menjawab:

“Kondisinya tidak lepas dari 2 kondisi:

  1. Ia bepergian ke Jeddah tanpa niat umrah, namun niat umrah itu muncul ketika ia berada di Jeddah; maka ia boleh berihram dari Jeddah dan itu tidak mengapa, berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma saat menyebutkan lokasi-lokasi miqat: “Dan siapa yang berada di bawah (wilayah miqat) itu, maka (ihram dilakukan) di mana ia berada, hingga penduduk Mekkah (berihram) dari Mekkah.”
  2. Ia bepergian dari negerinya memang dengan niat umrah sejak awal, maka dalam kondisi ini ia harus berihram dari miqat yang dilewatinya, dan tidak boleh berihram dari Jeddah; karena ia berada di bawah wilayah miqat. Sementara miqat-miqat itu telah ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: “(Miqat-miqat) itu untuk penduduknya dan siapa saja yang melewatinya selain dari penduduknya bagi yang ingin berhaji atau umrah.”

Maka bila ia berihram dari Jeddah lalu pergi ke Mekkah dalam situasi ini, maka menurut para ulama ia wajib membayar fidyah (yaitu) hewan yang disembelih di Mekkah, lalu disedekahkan kepada kaum fuqara’(nya), dan (dengan begitu) umrahnya sah.

Namun jika ia tidak berihram dari Jeddah setelah tiba di sana sementara ia sudah meniatkan umrah sebelum tiba di sana, maka ia harus kembali ke miqat lalu berihram dari sana, dan (dengan begitu) ia tidak wajib melakukan apapun.” (Lih: Fatawa Arkan al-Islam, soal no. 467)

Syekh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah juga pernah ditanya:

“Seorang yang terbang dengan pesawat dari Riyadh dan bermaksud melakukan umrah, namun singgah di Jeddah untuk mengunjungi kerabatnya atau kawan-kawannya satu atau 2 hari. Apakah ia harus berihram saat pesawat berposisi sejajar dengan miqat di udara?”

Beliau menjawab:

“Ia wajib berihram dari miqat tersebut jika ia melewatinya atau berada sejajar dengannya, baik di bumi atau di udara, karena ia tidak boleh melewatinya tanpa berihram. Sehingga yang bepergian dengan pesawat hendaknya menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk berihram sebelum naik ke pesawat. Dan jika ia berada sejajar dengan miqat, maka ia dapat bertanya kepada para awak kabin atau mungkin mereka yang mengumumkan kepada para penumpang, atau penumpang itu sendiri yang berjaga-jaga dan berihram saat ia menduga kuat bahwa ia sudah mendekati miqat, sehingga ia berihram dari udara.

Adapun jika ia (sengaja) melewati miqat hingga mendarat di Bandara Jeddah, maka ini satu kesalahan. Jika ia melakukannya, maka ia wajib membayar dam.”

Beliau ditanya lagi:

“Meskipun ia akan tinggal satu atau dua hari di Jeddah untuk berziarah?”

Beliau menjawab:

“Meskipun ia akan tinggal di Jeddah selama 1 atau 2 hari sebelum menunaikan manasik (haji atau umrah), ia harus tetap berada dalam ihramnya. Andai ia ke Mekkah dan menunaikan ibadah (umrah)nya lebih dulu lalu kembali ke Jeddah untuk menyelesaikan pekerjaannya, maka ini lebih baik, karena bersegera menunaikan manasik maka itu lebih baik. Artinya: selama ia berniat untuk umrah, ia tidak boleh melewati miqat kecuali dalam keadaan berihram. Ini tidak diragukan. Lalu setelah itu, ia boleh memilih: jika ia mau, ia dapat tinggal di Jeddah dengan ihramnya, atau jika ia mau ia pergi ke Mekkah (untuk umrah), lalu setelah itu kembali ke Jeddah untuk pekerjaannya.” (Lih: al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan, 4/119-120, soal. 118 dan 119)

Kesimpulan:

Jika ayah Anda dalam perjalanannya menuju Jeddah telah meniatkan umrah –dan ini yang tampak dari pertanyaan-, maka ia wajib berihram dari miqat atau keluar dari Jeddah untuk berihram dari miqat. Dan karena ia tidak melakukan satu pun dari kedua hal ini, maka ia harus menyembelih seekor kambing di Mekkah lalu membagikannya kepada kaum fakirnya. Namun jika ia telah meninggalkan Mekkah dan pulang ke negaranya, maka ia dapat mencari orang yang dapat mewakilinya untuk melakukan penyembelihan hewan itu di Mekkah.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/106771