Hukum Shalat Witir 9 Rakaat Dengan 2 Tasyahud dan 1 Kali Salam

0
91

SOAL:

Apa hukum shalat tarawih secara berjamaah di masjid sebanyak 9 rakaat dengan tasyahud awal di rakaat kedelapan, lalu tasyahud akhir di rakaat kesembilan setelah itu salam, karena sebagian orang mengatakan bahwa shalat tersebut bid’ah? Saya berharap Anda menyebutkan hukumnya disertai dalil dan diperkuat dengan pendapat para ulama dahulu atau pun terkini.

JAWABAN:

Shalat tarawih lebih utama jika dikerjakan sebanyak 11 rakaat, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– baik itu di bulan Ramadhan atau di bulan lainnya.

Jumlah rakaat shalat tarawih beliau, dua rakaat, dua rakaat, kemudian shalat witir tiga rakaat. Apabila seseorang shalat tarawih lebih dari 11 rakaat atau kurang dari itu, tidak masalah.

Adapun tatacara shalat witir yang ditanyakan merupakan di antara berbagai jenis tata cara shalat witir. Diriwayatkan oleh Aisyah –Radhiyallahu ‘anha– bahwasanya ia ditanya tentang tata cara shalat witirnya Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, ia menjawab:

“Sesungguhnya Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam- shalat 9 rakaat, beliau tidak duduk tasyahud (awal) kecuali pada rakaat kedelapan, berzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan berdoa kepada-Nya, kemudia beliau bangkit kembali untuk melanjutkan rakaat kesembilan. Lalu duduk tasyahud (akhir) berzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan berdoa kepada-Nya, lantas mengucapkan salam hingga kita pun mendengarnya.” (HR. Muslim no. 746).

Ibn al-Qayyim menuturkan –terkait penjelasan macam- variasi tata cara shalat witir Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

“Jenis yang kelima: Sembilan rakaat, shalat berturut-turut hingga rakaat kedelapan beliau tidak duduk tasyahud kecuali di rakaat kedelapan, duduk sambil berzikir kepada Allah ta’ala, memuji-Nya, dan berdoa kepada-Nya, kemudian bangkit kembali tanpa salam, lantas melanjutkan rakaat kesembilan, lalu duduk tasyahud akhir dan salam, kemudian shalat dua rakaat sambil duduk setelah salam tersebut.” (Lih: Zad al-Ma’ad (1/317).

Sebagian orang mengira bahwa hadits-hadits ini menyelisihi hadits yang tercantum secara valid di dalam ash-Shahihain yaitu sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam“Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat.” Padahal tidak kontradiksi, sebab hadits ini menerangkan tentang shalat malam, sedangkan tata cara yang kami sebutkan di atas serta yang ditanyakan, ia mengenai mengenai shalat witir.

Ibn al-Qayyim –Rahimahullah– bertutur –setelah memaparkan hadits-hadits tentang ragam tata cara shalat witirnya beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

“Semua hadits tersebut statusnya shahih dan redaksinya cukup jelas tidak ada kontradiksi, sehingga klaim adanya kontradiksi terbantahkan oleh sabda beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam“Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat”  dan status hadits ini shahih.

Akan tetapi, apa yang dikatakan tersebut maksudnya shalat witir itu ada yang sembilan, tujuh, dan lima rakaat. Semua tata cara beliau benar dan saling menguatkan. Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– menjawab seseorang yang bertanya mengenai shalat malam, “Dua rakaat, dua rakaat”, tidak bertanya tentang shalat witir. Sementara jumlah shalat yang rakaatnya berjumlah tujuh, lima, sembilan, dan satu: ini merupakan shalat witir, witir sendiri sebutan untuk shalat satu rakaat yang terpisah dari shalat sebelumnya, sedangkan shalat yang berjumlah lima, tujuh, dan sembilan rakaat ia adalah rangkaian yang saling menyambung.

Seperti halnya shalat Maghrib, sebutan untuk shalat tiga rakaat yang saling menyambung. Apabila shalat yang berjumlah lima atau tujuh rakaat dikerjakan secara terpisah dengan dua salam, seperti shalat yang sebelas rakaat, maka witir di sini sebutan untuk satu rakaat yang terpisah, sebagaimana tertera dalam sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

صَلاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى , فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ أَوْتَرَ بِوَاحِدَةٍ تُوتِرُ لَهُ مَا صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Jika di antara kalian khawatir waktu shalat Subuh tiba, maka shalatlah satu rakaat witir, sebagai penutup shalat malamnya.” Hadits ini menunjukkan keselerasan antara perbuatan beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam– dan sabdanya, dan satu sama lainnya saling menguatkan.” (Lih: I’lam al-Muwaqqi’in (2/424-425).

Penjelasan tentang shalat witir termasuk dari rangkaian shalat malam, tetapi ada perbedaan dalam tata caranya.

Melalui penjelasan ini semua, maka shalat tarawih bukanlah shalat yang dikerjakan sebanyak sembilan rakaat yang berturut-turut dengan dua tasyahud dan sekali salam, karena tata cara ini merupakan shalat witir.

Wallahu a’lam.

Sumber: https://islamqa.info/ar/66652

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here