Hukum Wanita Berkumpul Untuk Shalat Tarawih Di Rumah

0
104

Soal:

Kami tinggal di desa yang tidak satu pun wanita pergi ke masjid, terlebih masjidnya tidak memiliki tempat khusus untuk kamu wanita.

Apakah para wanitanya boleh berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah di rumah salah satu dari mereka? Jika boleh, apakah bacaan shalatnya dengan suara lirih atau seperti apa? Lantas bagaimana bila memang mereka boleh shalat berjamaah, dan shalat tersebut adalah shalat Jahr (bacaannya dikeraskan) semisal shalat Subuh atau Isya, salah satu mereka ada yang menjadi imam, apakah bacaannya dikeraskan atau tidak?

Jawaban:

Pertama:

Kaum wanita dibolehkan untuk berkumpul guna mengerjakan shalat tarawih berjamaah di salah satu rumah mereka, dengan syarat tidak bersolek saat menuju rumah tersebut, serta aman dari fitnah.

Syekh Ibnu Utsaimin –Rahimahullah– menuturkan,

“Kaum wanita boleh mengikuti shalat tarawih berjamaah, bila aman dari fitnah, serta dengan syarat mereka keluar rumah tanpa bersolek dan berhias dengan hiasan apapun, tidak pula memakai parfum.” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 14/ Pertanyaan no. 808).

Sebaiknya mereka shalat sendiri-sendiri di rumah masing-masing, bahkan di tempat yang paling privasi di rumahnya; sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bahwa shalat fardhu bagi kaum wanita adalah di rumah mereka masing-masing itu lebih baik daripada shalat di masjid, maka shalat sunnah pun lebih layak kondisinya untuk dikerjakan di rumah.

Dari Ummu Salamah –Radhiyallahu ‘anha– , dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bahwasanya beliau bersabda,

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ

“Tempat shalat terbaik bagi kaum wanita ialah di dalam ruang rumahnya.” (HR. Ahmad no. 26002 dan statusnya dinyatakan hasan oleh al-Albani di dalam Shahih at-Targhib no. 341).

Bahkan seorang wanita shalat di rumahnya lebih baik daripada shalat berjamaah di Masjidilharam atau di Masjid Nabawi di belakang Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Dari Ummu Humaid istri Abu Humaid as-Sa’idi –Radhiyallahu ‘anhuma– bahwa ia mendatangi Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya suka shalat bersama Anda’, beliau bersabda,

قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاةَ مَعِي ، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي . قَالَ : فَأَمَرَتْ ، فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Saya tahu, bahwa kamu menyukai shalat bersamaku, sedangkan shalatmu di ruang khusus (lebih kecil dari kamar) lebih baik daripada di kamarmu, dan shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di rumahmu, dan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalat di masjid desamu, serta shalat di masjid desamu lebih baik daripada shalat di masjidku’. Ia memerintahkan agar dibangunkan sebuah ruangan khusus paling tersembunyi di dalam rumahnya, dan ia pun shalat di sana hingga bertemu Allah Azza wa Jalla (maksudnya sampai meninggal dunia).”

(HR. Ahmad no. 26550 dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah no. 1689, serta statusnya hasan menurut al-Albani di dalam Shahih at-Targhib no. 340)

Imam Ibnu Khuzaimah mengategorikan hadits tersebut dengan redaksi: “Bab seorang wanita lebih mengutamakan shalat di ruang khusus di dalam rumahnya daripada di dalam rumah, dan shalatnya di masjid kaumnya lebih baik daripada shalat di masjid Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– meskipun shalat di masjid Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– setara dengan 1000 kali lipat shalat di masjid lain”.

Dalilnya sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-,

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ مِنَ الْمَسَاجِدِ

“Mengerjakan shalat di masjidku ini lebih utama 1000 kali lipat daripada mengerjakan shalat di masjid lainnya.” Yang dimaksud ialah shalatnya kaum laki-laki bukan kaum wanita.

Syekh Abdul Azhim Abadi –Rahimahullah– menuturkan,

“Alasan dari perihal seorang wanita shalat di rumah itu lebih utama, supaya terhindar dari fitnah, dan akan lebih terlarang lagi bila mereka bersolek dan berhias.” (Lih: Aun al-Ma’bud, 2/193)

Kedua:

Apabila kaum wanita berkumpul di sebuah rumah dan segala syarat di atas terpenhuhi, maka mereka boleh untuk shalat berjamaah di sana. Untuk imam sesama wanita, ia berdiri di tengah, bukan di depannya. seorag wanita tidak boleh mengimami kaum laki-laki  sekalipun ia termasuk mahramnya. Imam wanita tersebut mengeraskan suara sebagaimana yang dilakukan kaum laki-laki dalam shalat Jahr, dengan syarat jangan sampai terdengar oleh kaum laki-laki, kecuali bila mereka adalah mahramnya.

Dari Ummu Waraqah binti Abdullah bin Naufal al-Anshariyah, bahwasanya ia meminta izin kepada Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– agar mengambil seseorang untuk menjadi muazin di rumahnya, dan beliau pun mengizinkannya…lalu beliau memerintahkannya agar mengimami keluarganya di rumah.” (HR. Abu Daud no. 591 dan dinyatakan hasan oleh syekh al-Albani di dalam Irwa` al-Ghalil no. 493).

Dari Aisyah, bahwasanya ia pernah mengumandangkan azan, iqamat, dan mengimami kaum wanita dengan berdiri di tengah-tengah mereka.

Dari Aisyah, ia pernah mengimami shalat fardhu para wanita dan posisinya di tengah-tengah mereka.

Dari Hujairah binti Hushain, ia berkata,

“Ummu Salamah pernah mengimami kami kaum wanita, ia berdiri di tengah-tengah.”

Dari Ummu al-Hasan, bahwa ia pernah melihat Ummu Salamah istri Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– mengimami kaum wanita, dan ia berdiri tengah-tengah shaf mereka.

Syekh al-Albani –Rahimahullah– menuturkan, setelah meneliti keabsahan riwayat-riwayat tersebut,

“Secara umum, riwayat-riwayat ini dapat diamalkan, terlebih ia diperkuat dengan keumuman sabda beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, ‘Sesungguhnya kaum wanita itu bagian dari kaum laki-laki…’.”

(Lih. Shifah Shalah an-Naby –Shallallahu ‘alaihi wasallam– (hal. 153-155) secara ringkas.

Ibnu Qudamah –Rahimahullah– berkata,

“Seorang wanita membaca dengan keras jika shalat itu termasuk Jahr, namun bila ternyata ada kaum laki-laki, tidak boleh mengeraskan bacaannya, kecuali bila mereka adalah mahramnya, maka tidak masalah.” (Lih: al-Mughni, 2/17)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/65965

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here