Hukum Wanita Berpuasa Saat Sedang Haid

  • 2 min read
  • May 15, 2018

Soal:

Dahulu saya berpuasa setiap hari dalam bulan Ramadhan, dan saya belum mengetahui bahwasanya pada masa haid tidak diperbolehkan berpuasa, dan juga tidak mengetahui bahwasanya wajib melakukan qadha’ setelah itu.

Saya ingin mengqadha’ hari-hari tersebut dengan berpuasa dan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Akan tetapi saya tidak mengetahui orang miskin tertentu yang bisa saya beri makanan.

Apakah diperbolehkan menyumbangkannya ke mana saja; seperti anak-anak yatim atau masjid-masjid jami’ sebagai penggantinya?

Jawaban:

Para ulama telah bersepakat bahwasanya orang yang mengalami haid tidak diwajibkan berpuasa, dan apabila ia berpuasa, maka puasanya tidaklah sah, dan bahwasanya ia wajib mengqadha’ hari-hari yang ia berbuka pada bulan Ramadhan karena sebab haid.

Maka yang wajib atas Anda adalah mengqadha’ hari-hari tersebut, dibarengi dengan taubat kepada Allah Ta’ala atas keteledoran Anda dalam menuntut ilmu yang menyebabkan Anda terjerumus dalam melakukan amalan yang diharamkan.

Apabila qadha’ yang Anda lakukan untuk hari-hari tersebut Anda lakukan pada tahun yang sama sebelum datangnya Ramadhan berikutnya, maka tidak ada kewajiban atasmu kecuali qadha’ saja, dan tidak diwajibkan memberi makan.

Namun apabila Anda mengakhirkan qadha’ tanpa udzur sampai memasuki Ramadhan berikutnya, maka para ulama berbeda pendapat, apakah diwajibkan bersamaan dengan qadha’ diharuskan memberi makan atau tidak?

Pendapat yang kuat menurut kami adalah tidak diwajibkan memberi makan (fidyah).

Namun jika Anda ingin lebih berhati-hati: Anda dapat memberi makan bersamaan dengan qadha’, maka hal itu lebih baik.

Dan yang dimaksud dengan memberi makan adalah Anda memberi makan untuk sehari satu orang miskin sejumlah setengah sha’ berupa makanan pokok negeri tersebut, seperti beras dan kurma. Syaikh Ibnu Baz memperkirakan satu sha’ kira-kira setara dengan 1,5 kilo beras. (Lih: Fatawa Ramadhan hal. 545).

Mayoritas ulama berpendapat tidak boleh mengganti fidyah untuk puasa dengan uang. Maka Anda tidak diperbolehkan mengeluarkannya dalam bentuk uang. Anda harus mengeluarkan makanan untuk diberikan kepada orang-orang miskin.

Anda boleh saja menyerahkan uang kepada salah satu yayasan sosial, atau imam masjid yang dikenal baik agamanya dan istiqamah, untuk mewakili Anda membelikan makanan dan membagikannya kepada orang-orang miskin.

Anda juga dapat memasak makanan untuk dimakan oleh orang-orang miskin sesuai kadar jumlah puasa yang Anda tinggalkan. Imam al-Bukhary mengatakan:

“Adapun orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka (Sahabat Nabi) Anas (bin Malik) ketika telah memasuki usia tua setahun atau dua tahun, ia memberikan makanan satu orang miskin untuk sehari berupa roti dan daging, kemudian beliau berbuka (tidak berpuasa)”.

Dan diperbolehkan juga mengeluarkan kafarat ini kepada anak-anak yatim apabila mereka termasuk orag-orang fakir, karena tidak semua anak yatim itu fakir atau miskin.

Wallaahu a’lam.

 

Link : https://islamqa.info/ar/38867