MOTIVASI MEMBACA #04: INDAHNYA SEBUAH BUKU…

  • 2 min read
  • Aug 30, 2021

 

Saat berbicara tentang indahnya sebuah buka, maka para sastrawan, penulis dan pecinta buku akan memberikan ungkapan dan ekspresi yang beragam. Seringkali ekspresi-ekspresi itu sangat mengejutkan. Tapi selalu menunjukkan betapa indahnya sebuah buku.

Coba kita baca ungkapan seorang sastrawan besar dalam sejarah Islam, Abu ‘Amr al-Jahizh yang meskipun dikenal sebagai pengikut Mu’tazilah, tapi tetap diakui kepiawaiannya dalam soal sastra. Tentang “keindahan sebuah buku”, al-Jahizh menuliskan:

Buku itu adalah bejana yang dipenuhi ilmu. Ia adalah sebuah sampul yang ditata begitu indah. Ia adalah taman yang bertamasya di ruang kamar. Ia berbicara tentang mereka yang telah mati, dan menerjemahkan perkataan mereka yang masih hidup. Aku tak pernah tahu ada pendamping yang lebih berbakti, kawan yang lebih patuh, guru yang lebih menaklukkan, sahabat yang selalu mencukupi dan paling tidak membosankan…dan tidak pernah menggunjing, jauh dari mendebat…tidak ada pohon yang lebih kekal usianya, lebih menyatukan, lebih menyenangkan buahnya, mudah untuk dipetik, dan cepat untuk diraih; melebihi sebuah buku…”[1]

Kepada seorang ulama pernah ditanyakan: “Seberapa besar kegembiraan Tuan saat Bersama dengan kitab-kitab Tuan?” Lalu ia menjawab:

Kitab-kitab itu, jika aku bersendiri akan menjadi sumber kenikmatanku, dan jika aku gundah-gulana akan menjadi penghiburku. Jika aku katakan bahwa: bunga dan cahaya di taman itu menerangi pandangan mata, keindahannya menyenangkan pandangan; maka taman kitab-kitab itu menerangi akal, menyemangati fikiran, menghidupkan hati, menguatkan firasat, membahagiakan dalam kesendirian, menemani kesunyian, selalu bermanfaat meski tak pernah terbalas, memberi dan tak pernah mengambil. Kelezatannya terasa hingga ke dalam jiwa, tanpa ada rasa jemu yang menghampirimu, dan tanpa ada kepayahan yang menghinggapimu…”[2]

 

 Sang penyair, Abu al-Thayyib al-Mutanabbi menuturkan:

Kawan bicara dan sahabat terbaik adalah buku

Engkau berdua bersamanya saat kawan membuat jemu.

Tak pernah ia menebar rahasia yang kau titipkan

Darinya, engkau temukan hikmah dan kebenaran.

 

Sang sastrawan nan ilmuwan, al-Jurjany pun bersenandung:

Aku tak pernah cicipi lezatnya hidup sehingga

Aku dalam sendiri bersama sang kitab yang membersama

Tiada yang melebihi sebuah kemuliaan bagiku

Selain kemuliaan ilmu, hingga tak ingin sahabat selain itu.

 

Seorang sastrawan di era Khalifah al-Ma’mun pernah diberitahu: “Kami akan berikan untukmu pengganti untuk kitabmu dengan berat setara emas.” Namun ia bersenandung:

Buku ini, ada dijual dengan timbangan emas,

Pastilah merugi sang penjualnya!

Bukankah sungguh merugi tiada tara

Jika kau buang permata manikam demi setimbang emas?

 

Di kalangan pemikir Barat pun tidak jauh berbeda. Buku memiliki kedudukan yang begitu diperagungkan. Seorang orator Romawi, Cicero, pernah menyebut “buku” sebagai salah satu kebutuhan primer dalam kehidupan. Ia mengatakan: “Sebuah rumah tanpa buku, seperti jasad tanpa ruh.”

Bacon, filosof Inggris itu mengungkapkan:

“Buku adalah teman dalam kesendirian, kenikmatan dalam kesepian, perhiasan di tengah pesta perayaan, dan pengasah potensi. Ia membuat seorang pria menjadi bijak dalam mengambil tindakan dan bersiasat dalam segala urusan. Dan jika engkau menginginkan kawan bermusyawarah dan berpikir, maka temukanlah ia dalam buku-buku.”

Jadi, seberapa indahkah kehadiran sebuah buku dalam hidupmu?

 

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

https://t.me/IhsanZainuddin

 

Sumber bacaan:

Khalid bin ‘Abd al-‘Aziz al-Nashshar, al-Idha’ah fi Ahammiyah al-Kitab wa al-Qira’ah, Dar al-‘Ashimah)

 

[1] Al-Jahizh, al-Mahasin wa al-Adhdhad, 1/3.

[2] Al-Nashshar, al-Idha’ah, hal. 15.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published.