Ingin Beri’tikaf tapi Ada Janji dengan Dokter

0
77

Pertanyaan:

Saya ingin beri’tikaf, akan tetapi saya mempunyai janji penting dengan dokter. Apakah saya boleh pergi ke dokter di sela-sela i’tikaf saya ataukah saya tidak wajib untuk beri’tikaf?

Jawaban:

I’tikaf adalah keharusan menetap di dalam masjid dan berdiam diri di dalamnya.

I’tikaf adalah sunnah yang dianjurkan, terlebih lagi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ibadah ini tidak diwajibkan kecuali jika seorang muslim mewajibkan dirinya sendiri dengan bernazar. Adapun jika tanpa nadzar, maka tidak wajib.

Hukum asalnya adalah orang yang beri’tikaf tidak diperkenankan keluar dari masjid kecuali jika ada keperluan yang tidak dapat dilakukan dalam masjid seperti: berwudhu, mandi dan memenuhi hajat. Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ’anha:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا اعْتَكَفَ لا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلا لِحَاجَةِ الإِنْسَانِ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dahulu ketika beri’tikaf tidak masuk rumah kecuali (untuk memenuhi) hajat ‘kebutuhan’.” (HR. Muslim no. 297)

Jika anda butuh menemui dokter dan hal tersebut tidak mungkin diakhirkan sampai setelah Ramadhan. Maka yang kami lihat, tidak mengapa jika anda keluar dari masjid untuk menemui dokter kemudian kembali lagi ke masjid.

An-Nawawi Rahimahullah telah menyebutkan dalam kitab “al-Majmu’’’, (6/545):

“Bahwa orang i’tikaf yang sakit, jika berat baginya tinggal di masjid karena memerlukan tempat tidur, perawat dan seringkali keluar (untuk berobat) ke dokter atau semisal itu, maka dia dibolehkan untuk keluar.”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan dalam kitab “Jalasat Ramadhaniyah” (tahun 1411 H/ Majlis Ketujuh/ 144):

“Orang yang membutuhkan perawatan dokter, maka dibolehkan keluar. Dan jika tidak (dibutuhkan), maka dia berdiam di masjid.”

 

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/93546

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here