Jangan Menyelisihi Masyarakat Umum Dalam Berpuasa

  • 2 min read
  • May 14, 2018

Pertanyaan:

Di negara kami ada orang-orang yang komitmen mengamalkan syariat, akan tetapi mereka seringkali berbeda dengan kami dalam masalah agama. Dalam hal puasa misalnya, mereka tidak akan berpuasa sampai melihat bulan sabit dengan mata telanjang. Pada beberapa kesempatan kami  berpuasa sebelum mereka sehari atau dua hari pada bulan Ramadhan. Dan melaksanakan Iedul Fitri setelah kami melaksanakan Ied sehari atau dua hari.

Saat kami tanyakan kepada mereka, mereka menjawab kami tidak akan berpuasa atau berlebaran sampai melihat bulan sabit dengan mata kepala. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahualaihi wasallam,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِه

“Berpuasalah kalian ketika melihat (hilal) dan berbukalah ketika melihatnya”.

Mereka tidak mengakui rukyatul hilal dengan memakai instrumen.

Perlu diketahui bahwa mereka menyelisihi kami dalam pelaksanaan shalat Iedul Fitri dan Iedul Adha. Mereka tidak melaksanakan shalat kecuali setelah kami melaksanakan Ied, dan itu setelah mereka melihat bulan dengan mata telanjang.

Begitu juga dalam menghadapi Iedul Adha, mereka berbeda ketika menyembelih korban, waktu wukuf di Arafah. Mereka baru melaksanakan Iedul Adha dua hari setelah kami melaksanakannya dan tidak menyembelih kurbannya kecuali setelah seluruh kaum muslimin menyembelih kurban. Apakah yang mereka lakukan itu benar?

Jazakumullah khairan.

Jawaban:

Seharusnya menjadi kewajiban mereka untuk melakukan puasa dan lebaran bersama masyarakat banyak. Mereka juga harus melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha bersama umat Islam di negerinya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahualaihi wasallam,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ، فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِين

“Berpuasalah kalian ketika melihat (hilal) dan berbukalah ketika melihatnya. Jika pandangan kalian terhalangi awan maka genapkan bilangan bulan tiga puluh hari.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Maksud perintah untuk berpuasa dan berlebaran adalah ketika telah ada itsbat rukyat dengan mata telanjang atau dengan sarana-sarana yang membantu untuk bisa melihat hilal. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahualaihi wasallam,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّون

Berpuasalah di waktu orang-orang berpuasa, dan berbukalah di waktu orang-orang berbuka dan berkurbanlah di waktu orang-orang berkurban“. (HR. Abu Dawud, 2324, al-Tirmizi, 697. Dan dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih al-Tirmizi, 561).

(Sumber: Al-Lajnah Al-Da’imah li al-Buhuts wa al-Ifta’: 10 / 94).

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/12660