Jika Sakitnya Divonis Tak Akan Sembuh, Namun Kemudian Terbukti Bisa Sembuh; Wajibkah Mengqadha’ Puasa?

  • 2 min read
  • Jul 11, 2018

Soal:

Karena menderita luka di lambung, saya terpaksa harus meninggalkan puasa Ramadhan selama beberapa tahun, saya sampai tidak menghitung jumlahnya. Selama tahun-tahun itu saya selalu menunaikan pembayaran fidyah. Setelah akhirnya saya sembuh, Alhamdulillah, apakah saya wajib mengqadha’?

Jawaban:

Pertama,

Allah membolehkan bagi orang sakit untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, sebagai gantinya dia harus mengqadha’ puasa itu di hari-hari lainnya. Sebagaimana dalam firmanNya,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka siapa di antara kalian yang menyaksikan bulan (Ramadhan) itu hendaklah dia berpuasa padanya. Dan siapa yang tengah sakit atau sedang melakukan perjalanan jauh hendaklah (dia mengganti) sejumlah (hari yang ditinggalkannya)itu untuk (dilakukan puasa) pada hari-hari lainnya.” (al-Baqarah (2):185)

Ini berlaku jika sakitnya bisa diharapkan sembuh. Adapun jika penyakitnya tidak bisa diharapkan sembuh –menurut perkiraan klinis dokter- maka dia boleh tidak berpuasa dan sebagai gantinya harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin sebagai ganti untuk tiap hari yang dia tinggalkan.

Kedua,

Jika si sakit meninggalkan puasa, dan penyakitnya ini termasuk yang tidak bisa diharapkan sembuh, lalu dia membayar fidyah, kemudian ternyata Allah berikan kesembuhan, maka tetap tidak wajib mengqadha’ puasa. Karena dia telah menunaikan kewajibannya berupa fidyah. Dan dengan itu kewajibannya telah gugur. (Lih: “al-Inshaf”,  3/285)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,

“Jika seseorang akhirnya pulih total dari sebuah penyakit yang sebelumnya pernah divonis dokter bakal mustahil sembuh, dan itu terjadi setelah beberapa hari Ramadhan berlalu, apakah dia diharuskan mengqadha’ hari-hari yang terlewat itu?”

Beliau menjawab,

“Jika seseorang meninggalkan puasa Ramadhan sebagian ataupun sebulan penuh, dikarenakan sakit yang dianggap susah diharap sembuh, baik menurut fakta yang banyak terjadi, atau dengan pernyataan para dokter terpercaya, maka yang wajib atas si sakit adalah membayar fidyah, yaitu memberi makan seporsi mengenyangkan untuk fakir-miskin sejumlah hari yang dia tinggalkan.

Jika dia telah menunaikan kewajiban ini, namun kemudian Allah taqdirkan dia sembuh setelah itu, dia tetap tidak wajib mengqadha’ hutang puasa yang sudah dia ganti dengan fidyah itu. Karena dengan membayar fidyah sebagai ganti puasa yang dia tingggalkan, dia telah menggugurkan kewajiban atas dirinya. Jika kewajiban telah digugurkan dengan pelaksanaan, maka sudah tidak ada kewajiban tambahan baginya. sehingga tidak ada kewajiban berlapis.

Serupa dengan ini adalah apa yang sering dicontohkan oleh para fuqaha’ rahimahumullahmengenai seorang lelaki yang tidak mampu melaksanakan ibadah fardhu haji karena udzuryang tidak bisa diharapkan bakal berakhir. Lalu dia sudah mewakilkan hajinya kepada orang lain. Namun ternyata Allah berkehendak membebaskannya dari udzur tersebut. Maka orang ini tidak terkena kewajiban haji untuk kedua kalinya.” (Lih. Majmu’ Fatawa al-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 19/126)

Demikianlah. Dan kami bersyukur kepada Allah bahwa Dia telah memberikan kesembuhan dan keselamatan kepada anda. Kami bermohon kepadanya untuk diri kami dan untuk anda agar diberikan tambahan karunia juga kebaikan-Nya. Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/84203