Jika Terjadi Kesalahan dalam Penetapan Rukyat Hingga Puasa Kita Kurang Satu Hari di Bulan Ramadhan, Apakah Kita Wajib Meng-qadha’-nya?

0
95

Pertanyaan:

Apa konsekuensinya jika pemerintah keliru menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan, dan terbukti bahwa kita tidak berpuasa sehari di bulan Ramadhan, apakah kita harus meng-qadha’ atau bagaimana?

Jawab:

Alhamdulillah.

Jika terbukti dengan metode syar’i umat Islam membuat kesalahan dalam menetapkan awal dan akhir Ramadhan, mereka harus bersegera menebus kesalahan ini dan meng-qadha’ sejumlah hari yang mereka berbuka di bulan Ramadhan.

Kekeliruan dalam penetapan hal ini dapat ditentukan dengan sejumlah metode syar’i, di antaranya:

Pertama: Menyempurnakan Sya’ban tiga puluh hari, kemudian ada salah seorang yang terpercaya bersaksi bahwa dia telah melihat hilal (bulan sabit) malam tiga puluh Sya’ban dan hakim menerima persaksiannya.

Kedua: Pada saat mereka berpuasa Ramadhan pada hari kedua puluh delapan, kemudian mereka melihat hilal Syawal. Jika hal itu terbukti, maka mereka harus menebus satu hari sebagai pengganti hari yang keliru di awal Ramadhan.

Terdapat beberapa hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa bulan (hijriah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari. Dan ketika terbukti masuknya bulan Syawal dengan metode-metode syar’i saat umat Islam baru berpuasa dua puluh delapan hari, maka berarti mereka tidak berpuasa pada hari pertama Ramadhan. Karenanya mereka harus meng-qadha’-nya, sebab tidak mungkin dalam sebulan (hijriah) hanya 29 hari, melainkan 29 atau 30 hari.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menyebutkan dalam juz 25 dari Fatawanya hal. 154-155 bahwa hal ini pernah terjadi pada masa Ali radhiallahu ‘anhu, mereka berpuasa dua puluh delapan hari. Maka Ali memerintahkan untuk berpuasa sehari sebagai pengganti yang mereka lewatkan dan menyempurnakan bulan dua puluh sembilan hari.”

Hal ini pernah terjadi di Tanah Haram (Arab Saudi) pada tahun 1404 H, maka Komisi Tetap Fatwa Saudi Arabia mengeluarkan fatwa kewajiban meng-qadha’ puasa sehari sebagai pengganti hari di mana mereka berbuka di awal Ramadan. (Lih. Fatawa Lajnah Daimah li al-Ifta, 10/122)

Penampakan hilal tidak dapat dibuktikan berdasarkan metode-metode syar’i pada Ramadhan tahun 1404 H oleh  pihak berwenang Kerajaan Saudi Arabia kecuali pada malam Kamis. Maka mereka mengeluarkan instruksi untuk menyempurnakan Sya’ban 30 hari sebagai pengamalan hadits shahih dalam hal ini, dan mengumumkan bahwa permulaan puasa bulan Ramadhan tahun ini jatuh pada hari Kamis.

Pihak berwenang Kerajaan Saudi Arabia kemudian melakukan pemantauan hilal Syawal tahun 1404 H, dan ternyata hilal dapat disaksikan pada malam Jumat. Maka mereka mengumumkan bahwa Idul Fitri tahun 1404 H jatuh pada hari Jumat. Sehingga puasa mereka hanya berjumlah dua puluh delapan hari. Padahal jumlah hari dalam bulan Hijriyah tidak mungkin dua puluh delapan hari, melainkan kadang dua puluh sembilan atau tiga puluh hari, sebagaimana hal itu ditetapkan dalam hadits shahih.

Maka mereka memerintahkan untuk meng-qadha’ sehari sebagai pengganti hari yang mereka berbuka di awal bulan, sebagai bentuk tanggung jawab dan melakukan apa yang benar.

Adapun jika koreksi itu tidak ditetapkan berdasarkan metode-metode syar’i, alih-alih itu didasarkan pada perhitungan astronomi atau hisab semata, atau hanya berlandaskan pada prasangka sebagian orang, maka hal ini tidak perlu diperhatikan dan tidak dapat dijadikan landasan hukum syariah.

Wallahu a’lam.

 

https://islamqa.info/ar/246642

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here