Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

0
75

Soal:

Apakah shalat tarawih berjumlah 11 rakaat atau 20 rakaat? Di dalam al-Sunnah disebutkan 11 rakaat dan Syekh al-Albani –Rahimahullah– menyatakan di dalam bukunya al-Qiyam wa at-Tarawih, jumlahnya 11 rakaat, dan sebagian orang pergi ke masjid yang melaksanakan 11 rakaat, sebagian lainnya pergi menuju masjid yang melaksanakan 20 rakaat.

Masalah ini menjadi sensitif bagi sebagian orang. Kalangan yang shalat 11 rakaat akan mencela orang-orang yang mengerjakan 20 rakaat, dan sebaliknya.

Mengapa di Masjidil Haram serta Masjid Nabawy menyelisihi Sunnah? Kenapa mereka shalat tarawih sebanyak 20 rakaat di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawy?

Jawaban:

Kami tidak sepakat bila seorang muslim bersikap sensitif terhadap ulama dalam menghadapi masalah ijtihadiyah, sehingga mengakibatkan terpecah belah dan kekacauan di tengah kaum muslimin.

Syekh Ibnu Utsaimin –Rahimahullah– mengatakan saat menjelaskan kasus orang yang shalat bersama imamnya 10 rakaat, kemudian ia duduk menunggu shalat witir, tidak mengikuti shalat tarawih secara sempurna dengan imamnya:

“Sangat disayangkan, kami mendapati di tengah umat Islam yang terbuka luas ini, ada sekelompok orang berbeda pendapat -dalam masalah yang memang wajar terjadi perbedaan- hingga menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai penyebab perselisihan dalam hati.

Perbedaan pendapat di dalam umat ini memang sudah ada sejak masa sahabat, sekalipun demikian hati mereka tetap bersatu.

Bagi kaum muda khususnya serta kalangan yang dikenal kuat dalam beragama, seharusnya mereka bersatu dan menyatu; karena mereka mempunyai musuh yang mengintai menunggu kesempatan.” (Lih: al-Syarh al-Mumti’ (4/225).

Di dalam masalah ini ada dua kelompok yang sangat ekstrem:

Pertama: mengingkari orang yang mengerjakan tarawih lebih dari 11 rakaat dan memvonis bid’ah, dan kedua: mereka mengingkari kalangan yang hanya mengerjakan 11 rakaat, seraya berkata bahwa mereka menyelisihi ijma’.

Mari kita simak arahan Syekh Ibnu Utsaimin –Rahimahullah-, di mana beliau mengatakan:

“Pada kesempatan ini kita ingin menyampaikan, bahwa kita tidak boleh berlebih-lebihan atau meremehkan permasalahan ini. Sebagian orang terlalu berlebihan dalam menerapkan sunnah terkait bilangan rakaat, seraya berkata: ‘Tidak boleh melebihi bilangan yang disebutkan dalam hadits’, sehingga ia pun mengingkari orang yang melaksanakan lebih dari bilangan tersebut dengan keras, dan mengatakan bahwa ia berdosa dan telah bermaksiat.

Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu keliru. Bagaimana bisa dikatakan ia berdosa dan bermaksiat, padahal Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– pernah ditanya tentang shalat malam, beliau menjawab, “Dua rakaat, dua rakaat.” Beliau tidak menentukan/membatasi bilangannya, dan sudah dipastikan orang yang bertanya tentang shalat malam tadi tidak mengetahui bilangan; karena orang yang tidak mengetahui tata cara, maka kemungkinan besar ia tidak mengetahui jumlah bilangan rakaat. Penanya tersebut bukan di antara kalangan sahabat yang pernah melayani Rasul –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, sehingga ia tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah beliau.

Jika Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– menerangkan tata cara shalat kepadanya tanpa menyebutkan bilangan tertentu, maka dapat diketahui bahwa dalam hal ini terdapat kelonggaran, dan siapa pun boleh shalat sebanyak 100 kali dan witir sekali.

Adapun untuk sabda beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat”, hadits ini tidak ditafsirkan secara umum, dan mereka pun (yakni kalangan yang mengharuskan 11 rakaat) sependapat dengan ini.

Oleh sebab itu, mereka tidak mewajibkan untuk shalat witir sebanyak 5 rakaat, sesekali 7 rakaat, dan terkadang 9 rakaat. Seandainya hadits itu berlaku umum, maka seseorang sesekali harus shalat witir 5 rakaat, terkadang 7 rakaat, dan sesekali 9 rakaat berturut-turut. Sehingga maksud hadits tersebut adalah: ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku tata cara shalatku, sedangkan terkait bilangan rakaat, maka tidak ada dalil yang jelas-jelas menentukan bilangan rakaat’.

Bagaimana pun juga, seseorang tidak boleh bersikap keras terhadap orang lain dalam hal yang memang terdapat kelonggaran. Hingga kita pernah mendapati beberapa saudara seiman, bersikap keras dalam hal ini, mereka memvonis bid’ah apa yang dilakukan imam-imam yang mengimami lebih dari 11 rakaat. Akibatnya mereka keluar dari masjid dan pahala pun terlewatkan, padahal beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

 ‘Barangsiapa yang shalat bersama imamnya hingga selesai, maka ia tercatat sebgai orang yang shalat semalam suntuk.” (HR. at-Tirmidzi no. 806, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani di dalam Shahih at-Tirmidzi no. 646).

Mereka juga terkadang duduk setelah selesai 10 rakaat, sehingga shaf pun statusnya menjadi terputus lantaran mereka yang hanya duduk-duduk, atau biasanya mereka mengobrol sehingga mengakibatkan orang lain yang sedang shalat terganggu.

Dan kita yakin, bahwa mereka menginginkan kebaikan dan mereka pun telah berijtihad, namun tidak semua orang yang berijtihad benar.

Kedua: Kebalikan dari mereka, yaitu mereka mengingkari orang-orang yang hanya shalat 11 rakaat dengan keras, mereka mengatakan: ‘Kamu telah menyelisihi ijma’, Allah Ta’alaberfirman:

 “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. al-Nisa’: 115).

Orang-orang terdahulu sebelum masa Anda tidak pernah shalat tarawih kecuali 23 rakaat!’ Kemudian mereka pun mengingkari (yang shalat 11 rakaat) dengan keras. Sikap ini juga keliru. (Lih: al-Syarh al-Mumti’ (4/73-75).

Adapun dalil yang dipegang oleh kalangan yang melarang melebihi 8 rakaat dalam shalat tarawih, yaitu haditsnya Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwasanya ia bertanya kepada Aisyah –Radhiyallahu ‘anha-, “Bagaimana tata cara shalat (malam) Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– di bulan Ramadhan?’, Aisyah menjawab:

‘Beliau tidak pernah shalat (malam) melebihi 11 rakaat di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, beliau shalat 4 rakaat, jangan ditanya tentang kualitas dan panjang shalatnya, kemudian shalat lagi 4 rakaat, jangan ditanya tentang kualitas serta panjang shalatnya, kemudian shalat 3 rakaat, lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda tidur terlebih dahulu sebelum witir?’, beliau menjawab, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnya mataku terpejam, namun hatiku tidak’.” (HR. al-Bukhary no. 1909 dan Muslim no. 738).

Mereka berpendapat, hadits ini menunjukkan bahwa Rasul –Shallallahu ‘alaihi wasallam– merutinkan tata cara shalat malamnya tersebut di bulan Ramadhan dan di bulan lainnya.

Para ulama membantah metode mereka dalam segi pengambilan dalil melalui hadits di atas. Karena hadits tersebut merupakan perbuatan beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, sedangkan sebuah perbuatan itu sendiri tidak menunjukkan wajib.

Di antara dalil lain yang cukup jelas, yang menerangkan bahwa shalat malam itu, salah satunya tarawih tidak dibatasi oleh bilangan tertentu, adalah hadits Ibnu Umar, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– mengenai shalat malam, maka Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– menjawab,

Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat, apabila di antara kalian khawatir waktu Subuh akan tiba, maka shalatlah satu rakaat witir sebagai penutup shalatmu.” (HR. al-Bukhary no. 946 dan Muslim no. 749).

Dan melihat kepada beragam pendapat para ulama madzhab-madzhab yang populer, maka jelaslah bahwa ada kelonggaran dalam masalah ini, dan tidak masalah jika seseorang shalat lebih dari 11 rakaat.

As-Sarakhsy, beliau termasuk termasuk ulama besar madzhab Hanafy mengatakan,

“Menurut madzhab kami, shalat malam itu 20 rakaat selain witir.” (Lih: al-Mabsuth (2/145).

Ibnu Qudamah bertutur:

“Pendapat yang dianut oleh Abu Abdullah (yakni Imam Ahmad) Rahimahullah, shalat malam 20 rakaat, dan ini merupakan pendapatnya ats-Tsaury, Abu Hanifah, asy-Syafi’y, sementara Malik: 36 rakaat.” (Lih: al-Mughni (1/457).

Al-Nawawy berkata:

“Shalat tarawih hukumnya sunnah menurut ijmak ulama. Dan madzhab kami (Syafi’iyah) meyakini sebanyak 20 rakaat, dengan 10 kali salam, serta boleh dilaksanakan sendirian ataupun secara berjamaah.” (Lih: al-Majmu’ (4/31).

Inilah pemaparan dari empat madzhab mengenai bilangan rakaat shalat tarawih, dan mereka semua berpendapat lebih dari 11 rakaat. Barangkali faktor penyebab mereka mengatakan bahwa shalat malam itu lebih dari 11 rakaat, di antaranya:

  1. Mereka menganggap bahwa hadits Aisyah –Radhiyallahu ‘anha– tidak berarti membatasi dengan bilangan tersebut.
  2. Banyak riwayat dari generasi salaf yang menyebutkan lebih dari 11 rakaat. Lihat: al-Mughni (2/604) dan al-Majmu’ (4/32).
  3. Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– shalat 11 rakaat, dan shalatnya sangat panjang, hampir saja memakan waktu seluruh malam, bahkan pernah suatu malam di mana Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– shalat tarawih bersama para sahabatnya, shalatnya baru saja selesai beberapa saat sebelum fajar terbit, sehingga para sahabat pun khawatir akan melewatkan waktu santap sahur. Para sahabat –Radhiyallahu ‘anhum- menyukai shalat bersama Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– dan mereka tidak menganggapnya terlalu panjang. Maka para ulama berpendapat, jika imam memanjangkan shalatnya seperti itu, maka para makmum akan merasa berat, dan bisa juga menjadikan mereka enggan kembali shalat. Sehingga para ulama berpendapat, bahwa sang imam sebaiknya meringankan bacaan namun menambahkan rakaat.

Kesimpulannya: Bahwa orang yang shalat 11 rakaat, sesuai dengan yang tertera dalam hadits Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– maka itu bagus dan sesuai sunnah. Sementara, bagi yang meringankan bacaan serta menambah rakaat, maka itu pun baik, dan tidak ada yang perlu diingkari dari kedua tata cara tersebut.

Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah menuturkan:

“Shalat tarawih, jika seseorang melaksanakannya berdasarkan madzhab Hanafy, Syafi’y, dan Hanbaly maka sebanyak 20 rakaat. Atau berdasarkan madzhab Maliky sebanyak 36 rakaat, atau 13 rakaat, atau 11 rakaat itu sudah cukup bagus. Sebagaimana yang dikutip dari pernyataannya imam Ahmad, karena memang tidak ada dalil yang menentukan jumlah, maka memperbanyak atau menyedikitkan rakaat itu tergantung pada panjang dan pendeknya bacaan.” (Lih: al-Ikhtiyarat (hal. 64).

As-Suyuthi menuturkan:

“Hadits-hadits yang statusnya shahih dan hasan menyebutkan perintah untuk melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan, anjuran untuk menunaikannya tanpa membatasi bilangan rakaatnya. Dan tidak ada berita valid yang menyebutkan, bahwa Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– shalat tarawih sebanyak 20 rakaat, namun nukilan terkait shalatnya beliau beberapa malam tidak menyebutkan bilangan. Lalu di malam keempat beliau tidak keluar, karena khawatir shalat malam itu akan diwajibkan dan tidak sanggup untuk dilaksanakan.”

Ibnu Hajar al-Haitsami mengatakan:

“Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan bahwa Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– shalat tarawih 20 rakaat. Adapun ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa beliau pernah shalat 20 rakaat, status haditsnya sangat lemah.”

(Lih: al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (27/142-145).

Setelah pemaparan panjang di atas, wahai Saudara penanya, Anda tidak perlu heran terhadap bilangan shalat tarawih yang 20 rakaat, karena para ulama besar terdahulu pun dari generasi ke generasi telah menerapkannya, dan dalam setiap amalan mengandung kebaikan.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://Islamqa.info/ar/9036

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here