Keluarganya Memaksa Wanita Ini Agar Tidak Puasa Karena Penyakit Yang Dideritanya, Apakah Mereka Berdosa?

0
77

Soal:

Bibiku pernah mengalami kecelakaan lalu-lintas di masa kecilnya. Dia kehilangan satu organ penglihatannya. Para dokter telah memvonis bahwa gadis kecil ini tidak boleh menangis dan tidak boleh lapar. Karena hal itu dapat mempengaruhi kemampuan penglihatannya di bola mata yang tersisa. Maka orang tuanya pun melarang dia untuk berpuasa ketika puasa telah menjadi kewajibannya (saat dia sudah mencapai usia baligh). Hal itu didasari saran dokter sebagaimana disebutkan. Namun wanita ini seorang yang sangat menjaga agamanya sekali. Setelah ia menikah, ia berpandangan bahwa puasa tidak berakibat buruk untuknya, maka ia pun membiasakan puasa.

Pertanyaannya, wanita ini sekarang hampir selalu berpuasa setiap hari, dimaksudkan agar ayahnya (yang selama hidup melarang dia berpuasa, padahal terbukti ternyata sebenarnya dia mampu) tidak tertimpa adzab di kuburnya. Karena wanita ini sangat mencintai ayahnya –semoga Allah mengasihi almarhum-, maka dia menanyakan:

Apakah larangan puasa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya selama ini hukumnya haram? Apakah dia sendiri wajib mengqadha semua bulan-bulan puasa yang telah dia lewatkan semasa remaja hingga saat sebelum menikah itu?

Jawaban:

Sakit termasuk udzur yang menyebabkan bolehnya meninggalkan puasa. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

 “Dan siapa pun diantara kalian yang tengah sakit atau melakukan perjalanan jauh maka (hendaknya mengganti) sejumlah (hari-hari yang dia tinggalkan) itu untuk dilakukan puasa pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah(2):184)

Hukum puasa bagi orang sakit tidak keluar dari dua hal, jika bukan makruh maka haram. Dimakruhkan bagi yang tetap memaksakannya padahal sangat berat, diharamkan jika hal itu sampai menyebabkan bahaya.

Seorang pasien hanya boleh meninggalkan puasa jika direkomendasikan oleh dokter terpercaya yang spesialis untuk penyakit yang dideritanya. Sebagian ulama menambahkan syarat bahwa si dokter haruslah seorang muslim juga.

Siapa saja yang meninggalkan puasa atas arahan dari dokter, maka dia tidak berdosa. Jika dia mengalami penyakit menahun (permanen), maka dia meninggalkan puasa, dan menggantinya dengan membayar fidyah, sedekah makanan dihitung seporsi makan mengenyangkan bagi fakir-miskin untuk setiap hari yang dia tinggalkan. Adapun jika sakitnya temporal maka dia tinggalkan puasa lalu wajib mengqadha’nya saat sudah sembuh.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berpendapat,

“Jika para dokter spesialis sudah menyatakan bahwa penyakit anda ini termasuk penyakit kronis yang susah diharapkan untuk sembuh. Maka yang wajib dilakukan adalah membayar fidyah sesuai ketentuannya. Dan tidak ada kewajiban menqadha’. Porsi fidyah adalah setengah sha’ berupa bahan makanan pokok setempat. Boleh berupa kurma, beras, atau semisalnya. Bisa juga anda mentraktir si miskin untuk makan siang ataupun makan malam, itu juga mencukupi.

Adapun jika para dokter itu menyatakan bahwa penyakit tersebut bisa sembuh, maka anda tidak perlu membayar fidyah, yang wajib bagi anda adalah mengqadha’ puasa saat Alloh memberikan kesembuhan nanti. Sesuai firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa tengah sakit atau melakukan perjalanan jauh, maka (hendaknya dia mengganti) sejumlah (hari-hari yang dia tinggalkan) itu untuk dilakukan puasa pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah(2):185)

(Lih:  Fatawa Syaikh Ibnu Baz (15/221)

Menurut pengamatan kami berdasarkan soal yang tertera, bahwa orang tua si sakit ini tidak berdosa. Karena dia mengharuskan si anak untuk tidak berpuasa sesuai arahan dari dokter.

Adapun jika saudari pasien sudah membuktikan bahwa dia mampu berpuasa tanpa menimbul efek samping yang membahayakan untuk penglihatannya, maka tidak mengapa dia berpuasa. Namun seyogyanya hal itu juga dikonsultasikan kepada para dokter terpercaya terlebih dulu, dikhawatirkan ia hanya tertipu dengan pengamatan lahiriah sesuai keadaan yang dia rasakan, padahal bisa jadi sebenarnya ada efek-efek lain yang tak kasat mata atau belum terasa.

Adapun mengenai puasa qadha’ yang dia lakukan untuk mengganti bulan-bulan ramadhan yang telah dia lewatkan selama beberapa tahun yang telah lalu. Nampaknya, hal itu tidak perlu dilakukan. Fidyah yang selama ini telah dibayarkan itu cukup menjadi pengganti kewajiban puasanya. Karena saat itu dia meninggalkan puasa atas dasar diagnosa dan arahan dokter.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah juga pernah ditanya tentang seseorang yang menderita sakit menahun dan telah disarankan oleh dokter untuk tidak puasa selamanya. Namun dia mencoba merujuk ke dokter lain di luar negri, dan atas izin Allah dia pun sembuh. Sementara sudah berlalu lima kali Ramadhan dia tidak pernah puasa. Apa yang harus dia lakukan setelah Allah berikan kesembuhan? Apakah dia wajib mengqadha’ lima bulan Ramadhan yang dia lewatkan atau tidak?

Beliau menjawab,

“Jika yang menyarankan untuk tidak boleh puasa selamanya itu adalah dokter-dokter muslim yang terpercaya, yang sangat mengenali jenis penyakit tersebut, dan mereka menyatakan bahwa dia tidak ada harapan sembuh, maka dia tidak wajib mengqadha’, hanya wajib bayar fidyah saja. Kemudian dia harus siap mulai berpuasa lagi untuk Ramadhan selanjutnya.” (Lih: Fatawa Syaikh Ibnu Baz (15/355)

Ringkasnya:

Orang tua si pasien wanita ini tidak berdosa dalam hal mengharuskan putrinya untuk meninggalkan puasa, karena hal itu didasari saran dokter yang tentu bukan tanpa pertimbangan cermat. Yang wajib bagi wanita ini hanyalah membayar fidyah berupa sedekah seporsi makanan mengenyangkan bagi si miskin  dikalikan jumlah hari-hari puasa yang telah ditinggalkannya, terhitung sejak masuk usia baligh.

Adapun jika para dokter spesialis terpercaya menyatakan bahwa sekarang si pasien sudah kuat untuk berpuasa tanpa ada yang perlu dikhawatirkan dari sisi kesehatan. Maka sejak saat itu puasa Ramadhan kembali wajib dia lakukan, tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan puasa berdasar saran dokter yang lama. Dan jika dia mau melakukan puasa sunnah pun boleh. Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/97798

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here