MASUK MEKKAH TANPA IHRAM TAPI BERNIAT UNTUK UMRAH

0
101

Soal:

Saya dan istri menjalankan umrah beberapa tahun yang lalu. Saat itu, kami bersama dengan keluarga lain dengan menumpang kendaraan mereka. Teman itu berkata pada kami bahwa mungkin ia akan masuk ke Mekkah tanpa berihram lalu bermalam di sana. Kami pun melakukan hal itu tanpa mengetahui bahwa hal itu termasuk hal yang dilarang.  Meskipun umrah yang kami kali itu bukanlah umrah wajib (sebagai muslim). Kami sesudah itu juga telah melakukan umrah berkali-kali dengan berihram dari miqat.

Jadi apa yang harus kami lakukan untuk umrah yang kali itu? Jika harus menyembelih, apakah ada lembaga yang bisa mewakili kami untuk melaksanakannya, karena kami tinggal di luar kota Mekkah?

Jawaban:

Tentu tidak diragukan lagi bahwa teman Anda itu keliru mengatakan bahwa kalian boleh melewati miqat tanpa berihram. Ia juga melakukan kesalahan sekali lagi karena membuat kalian berihram dari Mekkah, karena penduduk Mekkah dan yang posisinya sama dengan mereka jika ingin menunaikan umrah, mereka harus keluar dari wilayah Haram terlebih dahulu (untuk berihram).

Syariat sendiri telah menetapkan miqat-miqat makani untuk orang-orang yang datang ke Mekkah dengan tujuan berumrah atau berhaji. Sehingga (pilihannya adalah) melewati posisi miqat itu sendiri untuk berihram, atau berihram dari tempat yang posisinya sejajar dengan miqat itu.

Sementara orang yang tinggal di antara miqat-miqat tersebut dan Mekkah, maka ia berihram dari tempatnya tinggal. Begitu pula yang datang dari Jeddah atau yang semisalnya, yang tinggal di bawah wilayah miqat lalu ingin melakukan umrah, maka ia berihram dari tempatnya berada.

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan miqat untuk penduduk Madinah di Dzulhulaifah, untuk penduduk Syam di Juhfah, untuk penduduk Nejd di Qarn al-Manazil, dan untuk penduduk Yaman di Yalamlam. (Tempat-tempat) itu untuk para penduduknya dan orang-orang yang datang melaluinya dari selain penduduknya yang ingin menunaikan haji dan umrah. Dan siapa yang (tinggal) di bawah (miqat-miqat) itu, maka (ia berihram) dari mana ia mulai, sampai penduduk Mekkah (berihram) dari Mekkah.” (HR. Al-Bukhari no. 1524, dan Muslim no. 1181)

Sehingga menjadi kewajiban teman kalian itu untuk bertaubat dan memohon ampun kaitannya kesimpulan hukum syar’i yang diambilnya, dan kaitannya dengan kalian –semua-, maka menurut Jumhur ulama, wajib (menyiapkan) seekor kambing untuk disembelih di tanah Haram lalu dibagikan kepada kaum fakiqnya. Namun siapa yang tidak mampu melakukan itu, maka ia cukup bertaubat.

Dalam Fatawa al-Lajnah al-Da’imah (11/176-177) disebutkan:

“Yang menjadi kewajiban orang yang berniat untuk umrah dan melewati miqat: berihram dari miqat itu, dan ia tidak boleh melewatinya tanpa berihram. Dan karena Anda tidak berihram dari miqat, maka masing-masing dari Anda harus membayar dam, yaitu menyembelih seekor kambing yang layak untuk dikurbankan, disembelih di Mekkah al-Mukarramah, lalu dibagikan kepada kaum fakirnya dan kalian tidak boleh memakannya sedikit pun. Adapun tidak mengerjakan shalat 2 rakaat setelah mengenakan pakaian ihram, maka itu tidak mengapa.”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan –setelah menjelaskan secara rinci masalah orang yang meninggalkan salah satu kewajiban haji dan umrah-:

“Dengan demikian, kami sampaikan kepada orang yang yang meninggalkan salah satu kewajiban (haji atau umrah): sembelihlah hewan fidyah di Mekkah lalu bagikanlah kepada kaum fakirnya sendiri, atau wakilkan kepada orang yang Anda percayai untuk itu. Namun jika Anda tidak mampu (menyiapkan fidyah), maka taubatmu sudah cukup (sehingga tidak perlu) berpuasa. Inilah pandangan kami dalam masalah ini.” (Lih: al-Syarh al-Mumti’, 7/441)

(Untuk itu) Anda dapat menghubungi lembaga-lembaga yang terpercaya untuk mewakilkan penyembelihan itu di Mekkah.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/205153

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here