MOTIVASI MEMBACA #01: MEMBACA ITU PENTING!

  • 2 min read
  • Aug 30, 2021
Quran dan Tadabbur

 

Membaca mempunyai posisi yang sangat istimewa dalam sejarah umat Islam. Bahkan itu terjadi sejak awal mula kehadiran “Islam” sebagai agama terakhir yang diturunkan Allah Ta’ala melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wahyu pertama yang dipesankan kepada beliau adalah perintah membaca!

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ * الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ * عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya:

“Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Ia menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah! Dan Tuhanmu yang Maha mulia. Yang telah mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada sang insan apa yang tidak diketahuinya…” (Surah al-‘Alaq: 1-5)

Coba baca rangkaian ayat-ayat itu secara perlahan. Betapa nuansa keilmuan begitu mewarnai setiap barisnya. Bahwa agama ini sejak semula hadir dalam rona dan nuansa ilmu yang begitu kental dan merasuk. Membaca. Membaca. Mengajarkan. Pena. Mengajar demi menghapus ketidaktahuan.

Bukankah warna “ilmu” begitu pekat dalam ayat-ayat wahyu pertama itu?

Bukankah umat Islam harus memberikan perhatian yang tak berbatas terhadap itu semua?

Bukankah kita seharusnya menjadi hamba yang selalu akrab dengan semua bentuk upaya pembacaan?

Bukankah kita seharusnya menjadi hamba dan umat yang menjadikan “membaca” sebagai tonggak peradabannya?

Bukankah kita seharusnya menjadi umat yang menegakkan penghambaan dan peradabannya dengan “pena”?

Tentu saja, upaya pembacaan yang pada akhirnya mengantarkan kita pada puncak keyakinan yang tak tergoyahkan: bahwa hanya Allah-lah Sang Pencipta semesta, maka hanya Dialah saja satu-satuNya yang berhak disembah.

Tentu saja, setiap pena yang berayun dengan lumuran tinta itu seharusnya menjadi pena mengantarkan penoreh dan para pembaca torehan itu menjadi hamba yang menjalani dan -akhirnya- menuntaskan kehidupannya dengan keyakinan La ilaha illaLlah.

Karena itu, bagi kita, membaca itu seharusnya menjadi sebuah kewajiban penting. “Membaca” bagi kita -umat Islam- adalah sebuah “ritual” ibadah yang tidak boleh diabaikan dan ditinggalkan. Terutama karena kehadirannya dalam rangkaian ayat-ayat al-‘Alaq itu terungkap dalam bentuk “kata kerja perintah” atau fi’il amar. Ini tentu bukan perintah main-main.

Karena itu, membaca bagi kita bukan sekedar sebagai sebuah hobi. Bukan sekedar sebagai sebuah budaya dan tradisi. Bukan sekedar sebagai penambah wawasan. Apalagi hanya untuk mengisi waktu luang -meskipun seperti itu pada mulanya kita membangun kebiasaan membaca itu-. Sebab membaca bagi kita sebagai muslim, pada akhirnya, harus bermuara sebagai ibadah. Harus diyakini sebagai ibadah kepada Allah.

Itulah sebabnya, mengapa membaca itu penting!

Dan jika membaca itu menjadi penting, maka tentulah semua perangkat dan prosedur yang berkaitan dan berkitaran dengan proses membaca itu ikut pula menjadi penting. Sebab, jika membaca itu penting: lalu apa yang harus dibaca?

 

Makassar, 09 November 2020

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

 

 

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published.