MOTIVASI MEMBACA #02: MEMBACA ITU SUMBER KEKUATAN!

  • 4 min read
  • Aug 30, 2021

 

 Ketika Allah Ta’ala menyampaikan dalam Surah al-Anfal (ayat 60):

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ

Artinya:

“Dan kalian persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang sanggupi dari kekuatan dan dari tali-tali kekang kuda, agar dengan itu kalian dapat menakut-nakuti musuh Allah dan musuh kalian serta orang-orang lain selain mereka yang tidak kalian ketahui…”

Ketika Allah Ta’ala menyampaikan ini, maka kita harus menyadari bahwa salah satu sumber kekuatan terpenting dan terbesar itu adalah ilmu dan pengetahuan. Dan jalan serta sumber terbesar ilmu pengetahuan itu adalah membaca!

Karena itu, generasi awal umat ini sangat menyadari dan memahami betul persoalan ini. Sehingga dampak dan efeknya tidak kira-kira. Sebuah sejarah yang kaya dengan capaian-capaian ilmu pengetahuan yang agung di semua ranah dan bidang: dalam ranah agama, sains, militer, ekonomi, budaya, sosial dan ranah-bidang lainnya.

Kita kemudian tidak heran saat negara dan kekuasaan Islam menjelma menjadi sebuah menara ilmu dan pengetahuan. Semua daulah dan kedaulatan Islam menjadi sumber mata air besar ilmu dimana semua umat dan bangsa di dunia menyiduk bagiannya masing-masing. Siapa saja yang mencermati perkembangan sejarah Islam, akan menemukan dengan jelas bahwa ia dengan semua perkembangannya selalu diikuti dan diserta dengan tradisi membaca, kecintaan dan kerakusan terhadap ilmu!

 

***

 

Pada akhirnya, dalam perjalanan histori manusia, kita akan menemukan bahwa umat dan bangsa yang melejit maju dan berkembang, rahasia utama mereka adalah karena mereka menjadikan “proses ilmu dan pembelajaran: sebagai asas pijakan peradabannya. Sehingga mereka berusaha dan bekerja untuk mengembangkan semua metode pengembangan ilmu itu sendiri. Dan selalu yang menjadi kuncinya adalah memberikan dorongan dan motivasi membaca kepada seluas-luasnya lapisan masyarakat.

Coba perhatikan -misalnya- apa yang terjadi di Washington pada akhir musim panas tahun 1951, ketika sejumlah penulis, penerbit dan pustakawan berkumpul. Pertanyaan utama yang “mengganggu” mereka adalah bahwa:

“…Membaca di era modern ini telah menjadi sesuatu yang dinamis, dimana tidak ada satu masyarakat pun yang tidak bisa hidup tanpanya. Hari ini, membaca telah menjelma menjadi sebuah kebutuhan, dan bukan lagi hiburan. Jadi apa yang dapat kita lakukan untuk mendorong orang banyak untuk membaca dan memotivasi mereka untuk terus melakukannya?”

Hari ini, kita bisa mengatakan bahwa mereka telah mendapatkan apa yang mereka harapkan. Faktanya menunjukkan itu, terutama jika Anda pernah bepergian dan melihat “tradisi membaca” di tengah masyarakat Barat.

Kenyataan itu tentu saja sangat kontras dan jauh berbeda jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang disebut sebagai “negara-negara berkembang” pada hari ini -termasuk didalamnya (sangat disayangkan) negara-negara kaum muslimin-; mereka semua memiliki satu titik kesamaan, yaitu ketiadaan konstruksi pengetahuan yang benar.

Itu semua tidak lain merupakan dampak alamiah dari mundurnya tradisi dan perhatian terhadap kegiatan membaca. Waktu-waktu generasi mudanya dihabiskan dan disibukkan dengan ragam-aneka hiburan dan permainan; apalagi sejak meledaknya “Revolusi Internet” yang menawarkan tontonan, games dan interaksi media sosial tanpa batas tempat dan waktu!

Akibatnya membaca kehilangan jam dan waktunya dalam kehidupan mereka. Sampai-sampai para pegiat dan pelaku tradisi kebaikan ini dianggap sebagai “makhluk-makhluk aneh”…

 

***

Sungguh menyedihkan…

Padahal “membaca” dalam sejarah generasi Islam pertama mempunyai kedudukan yang tidak main-main. Tentu saja demikian, bukankah kalimat pertama yang tersampaikan dari Allah kepada umat Islam adalah kalimat Iqra’? Kalimat inilah yang mengawali risalah manusia terbaik, Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalimat ini -bahkan- menjadi perintah pertama dari Allah kepada rasul terakhirNya.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ * الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ * عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan.

Yang telah menciptakan sang insan dari segumpal darah.

Bacalah dan Tuhanmu yang Maha mulia.

Yang telah mengajarkan dengan pena.

Yang telah mengajari sang insan apa yang tidak diketahuinya. (Surah al-‘Alaq: 1-5)

Salah satu “maestro” Tafsir al-Qur’an, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya terhadap ayat ini:

“(Rangkaian ayat-ayat ini) adalah awal rahmat yang Allah curahkan kepada hamba-hambaNya. Awal nikmat yang Allah karuniakan kepada mereka. Di dalamnya ada peringatan tentang kebermulaan penciptaan manusia dari segumpal darah, dan bahwa salah satu bukti kepemurahanNya adalah bahwa Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya, sehingga (dengan itu) Ia memuliakannya dengan ilmu. Inilah kadar karunia yang mengistimewakan bapak semua manusia, Adam alaihissalam, dibandingkan para malaikat.

Ilmu itu sendiri kadang dalam akal, terkadang ada di lisan, dan terkadang pula ada dalam tulisan yang ditoreh oleh jemari. (Ilmu itu dengan demikian bersifat) logis (dzhiny), verbal (lafzhy) dan teks tulisan (rasmy). (Ilmu yang bersifat) rasmy pastilah melazimkan keduanya (dzihny dan lafzhy), namun tidak sebaliknya…”[1]

Selain Ibnu Katsir, Syekh ‘Abdurrahman al-Sa’di -seorang ulama tafsir terkemuka abad ini-dalam tafsirnya, Taisir al-Karim al-Rahman, menjelaskan tentang ayat-ayat awal Surah al-‘Alaq ini:

“…Maka Allah Ta’ala telah mengeluarkannya dari rahim ibunya tanpa ia mengetahui apa-apa. (Allah) memberikannya pendengaran, penglihatan dan hati, lalu memudahkan jalan-jalan ilmu untuknya, mengajarkannya al-Qur’an dan al-Hikmah. Lalu mengajarkannya (menggunakan) pena untuk menjaga ilmu, mencatat hak-kewajiban (di antara mereka), menjadi media penyampai pesan di antara manusia dan menggantikan peran perbincangan langsung mereka. Maka segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat ini kepada para hambaNya yang tidak pernah mampu membalas dan mensyukurinya…”[2]

 

***

 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan…” (al-‘Alaq: 1)

Adalah motivasi al-Qur’an kepada para pengikutnya untuk membaca. Ini adalah pesan yang telah menggerakkan kesadaran manusia sejak 14 abad lamanya. Yang membuka akal fikiran mereka tentang kedudukan mereka di semesta dan kehidupan ini. Yang mengenalkan mereka tentang arti keberwujudan dan tujuan kehadiran mereka di dunia ini.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan…” (al-‘Alaq: 1)

Adalah sebuah perintah bijaksana dari Sang Mahabijaksana kepada hambaNya yang bernama manusia di muka bumi, agar mereka membaca. Karena sungguh tidak layak manusia yang diistimewakan dengan “akal pikiran” ini untuk tidak membaca. Ia harus membaca agar terlepas dari kungkungan kebodohan dan dan kejahilannya.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan…” (al-‘Alaq: 1)

Adalah sebuah penghormatan terhadap tradisi membaca. Ia adalah media transformasi dan eksplorasi ilmu-pengetahuan. Ia adalah sebuah jalan alamiah yang telah disediakan untuk semua upaya menegakkan peradaban dan meluhurkan akhlak-budi pekerti. Dan setelah itu semua: tidak layakkah “membaca” ini mendapatkan perhatian dan kesungguhan kita semua? Tentu saja ia sangat layak mendapatkannya.

Karena itu -sekali lagi-, tentu saja sangat menyedihkan melihat kenyataan bahwa umat yang kalimat wahyu pertamanya adalah Iqra’, justru mengalami sebuah kemunduran yang sangat memprihatinkan dalam soal membaca ini. Itulah sebabnya, salah satu proyek kebaikan kita hari-hari ini adalah bekerja keras dan bahu-membahu untuk mengembalikan “membaca” sebagai “ritual ibadah kemusliman” kita!

Dalam hal ini, mengembalikan orisinalitas ajaran Islam -yang berarti mengembalikan cara keberislaman kita kepada al-Qur’an dan Sunnah yang shahih- juga berarti: mengembalikan semua perintah-perintah al-Qur’an dan Sunnah yang berkaitan dengan peradaban dan ilmu. Dan itu juga berarti: mengembalikan “membaca” sebagai bagian ibadah harian seorang muslim.

Tidak bisa tidak: hari-hari seorang muslim harus diisi dengan membaca dan membaca, tanpa mempertimbangkan profesi yang dijalaninya: guru besar, guru sekolah, pebisnis, pegawai biasa, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, pegojek online, penjual sayur di pasar, kanak-kanak, bahkan “pengangguran” sekalipun!

Karena “membaca” itu sumber kekuatan!

Karena -seperti ungkapan al-Mutanabbi-:

“…Sebaik-baik kawan di perjalanan zaman adalah buku!”

 

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

https://t.me/IhsanZainuddin

 

Sumber bacaan:

Khalid bin ‘Abd al-‘Aziz al-Nashshar, al-Idha’ah fi Ahammiyah al-Kitab wa al-Qira’ah, Dar al-‘Ashimah)

 

[1] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, (8/438).

[2] Al-Sa’di, Taisir al-Karim al-Rahman, hal. 930.

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published.