Menelan Air Liur, Apakah Membatalkan Puasa?

  • 2 min read
  • May 14, 2018

Pertanyaan:

Apakah semua madzhab sepakat tentang hukum menelan kembali ludah, bahwa jika telah meleleh hingga ke bibir bagian luar dapat membatalkan puasa?

Saya mohon untuk diberi penjelasan jika ada perkataan tentang bolehnya menelan ludah jika telah meleleh hingga ke bibir bagian luar sehingga saya dapat mengikutinya. Karena hal itu membuat saya waswas, dan saya sedang mencari hukum yang paling ringan.

Untuk diketahui bahwa saya merasa kurang puas dengan pandangan yang mengatakan bahwa hal itu dapat membatalkan puasa. Saya merasa bahwa pendapat itu tidak logis. Maka ketika suatu hari saya terbangun  dari tidur dan ada air liur keluar dari mulut saya, saya menelannya kembali dengan sengaja.

Jawaban:

Jika seorang yang sedang berpuasa menelan air liurnya setelah meleleh  hingga ke kedua bibirnya, maka dia dianggap telah berbuka menurut pendapat madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. Karena  pada saat itu air liurnya telah keluar dari tempatnya yaitu bagian dalam mulut. Maka menelannya sama saja dengan menelan benda-benda lainnya.

Imam Nawawi rahimahullah berkata tentang menelan air liur yang tidak sampai membatalkan puasa,

“Menelan air liurnya saat masih berada di tempatnya yaitu mulut. Jika telah keluar dari mulutnya, kemudian dia mengembalikannya dengan lidahnya atau selainnya kemudian menelannya, maka dia telah berbuka.

Para ulama kami berkata bahwa ‘…jika air liur itu meleleh hingga ke bagian luar bibirnya kemudian dia menelannya, maka dia dianggap telah berbuka. Karena dia telah lalai dalam hal itu dan karena air liurnya telah melampaui batas tempat yang bisa ditolelir.’

Al-Mutawalli berkata,

‘Bahkan walaupun ail liurnya menetes ke bibirnya kemudian dia menjilatinya dan menelannya maka dia telah berbuka.’” (Lihat: al-Majmu’, 6/342).

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

“Jika air liurnya menetes ke pakaiannya, atau menetes di antara jari-jemarinya, atau di antara ke dua bibirnya, kemudian dia menjilatnya dan menelannya kembali, atau menelan air liur orang lain, maka dia telah berbuka. Karena dia telah menelan air liur yang telah keluar dari mulutnya, maka sama halnya jika dia menelan selainnya.” (Lihat al-Mughni 3/17).

Adapun madzhab Hanafiyah memilih pendapat yang mengatakan bahwa hal itu tidak membatalkan puasa, kecuali jika air liurnya telah keluar dari mulutnya kemudian dia memasukkannya kembali.

Dikatakan dalam Fath al-Qadir (2/332),

“Walaupun air liurnya telah keluar dari mulutnya, kemudian ia menjilatnya kembali dan menelannya, jika belum terpisah dan masih menyatu dengan apa yang ada dalam mulutnya, seperti benang, lalu ia meminumnya, maka hal itu tidak membatalkan puasanya. Dan apabila telah terputus, lalu ia menjilatnya kembali dan memasukkannya ke dalam mulutnya, maka puasanya batal. Tidak ada kafarat baginya.

Sama halnya jika dia menelan air liur orang lain. Jika dia mengumpulkan air liurnya dalam mulutnya kemudian menelannya maka hukumnya makruh, tapi tidak membatalkan puasa.”

Dikutip dalam Majma’ al-Anhar (1/246),

“Walaupun air liurnya menetes dari mulutnya, kemudian dia menjilat dan menelannya, maka jika belum terpisah dan masih menyatu dengan apa yang ada dalam mulutnya, seperti benang, lalu ia meminumnya, hal itu tidak membatalkan puasanya. Dan apabila telah terputus, lalu ia menjilatnya kembali dan memasukkanya ke dalam mulutnya, maka puasanya batal. Tidak ada kafarat baginya.

Sama halnya jika dia menelan air liur orang lain. Walaupun bibirnya basah  oleh air liur ketika berbicara atau sebab lainnya, kemudian dia menelannya maka itu tidak membatalkan puasanya.”

Dinukil dalam kitab al-Jawharah an-Nayyirah (1/140),

“Walaupun air liur orang yang berpuasa itu meleleh ke dagunya baik dia sedang tertidur atau tidak, lalu dia menelannya sebelum air liurnya terputus maka tidak membatalkan puasa.”

Kami belum mengetahui pandangan madzhab Malikiyah dalam hal ini.

Tidak ada masalah bagi Anda untuk berpegang pada pendapat Hanafiyah karena adanya perasaan waswas, dan ini adalah uzur yang  jelas dan dapat dipertimbangkan. Walaupun sebagai bentuk kehati-hatian adalah dengan tidak sengaja melakukan hal tersebut. Wallahu a’lam.