Menelan Sisa Makanan Di Mulut Saat Berpuasa

0
90

Soal:

Ketika seseorang bangun dari tidurnya di pagi hari dalam keadaan berpuasa dan ia mendapati sisa makanan sahur di dalam mulutnya, maka apakah hukumnya jika ia menelannya?

Jawaban:

Tidak ada keraguan bahwasanya makan termasuk dalam pembatal-pembatal puasa, Allah Ta’ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Artinya:

“Makan dan minumlah sampai jelas bagi kalian (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. (al-Baqarah: 187).

Dan sebagaimana diketahui oleh kaum muslimin bahwasanya yang dimaksud dengan puasa adalah menahan diri dari makan, minum, jima’, dan seluruh pembatal-pembatal puasa. (Lihat: Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam 25/219).

Dan yang dimaksud makan adalah sampainya (masuknya) suatu benda padat ke dalam lambung melalui mulut. (Lihat: Hasyiyah Ibni Qasim ‘Ala al-Raudhi al-Murbi’ 3/389).

Dalam hal ini tidak dipersyaratkan bahwa dalam makan ini harus bermanfaat dan berjumlah banyak. Bahkan seandainya saja ia menelan sesuatu yang tidak memberi ia manfaat (seperti: tulang),  atau ia menelan sesuatu dalam jumlah yang sedikit, maka ia telah dianggap berbuka dan  telah membatalkan puasanya.

Adapun menelan sisa makanan yang terdapat di gigi, maka ini telah dianggap sebagai “makan” dan termasuk pembatal puasa.

Dan hal ini berlaku apabila ia menelannya dengan sengaja, dimana ia mampu untuk mengeluarkannya, akan tetapi ia menelannya dengan sengaja. Adapun jika makanan itu lebih dahulu masuk ke kerongkongannya (tanpa disengaja) kemudian ia menelannya dan ia tidak sanggup mengeluarkannya, maka tidak ada dosa baginya dan puasanya tetap sah.

Karena dipersyaratkan pada seluruh pembatal puasa, bahwa ia harus dilakukan dengan sengaja. Namun bila ia terpaksa dengan tanpa kehendaknya melakukan hal itu (pembatal puasa), maka puasanya tetap sah dan tidak ada kewajiban apapun atasnya.

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan dalam al-Mughny (3/260):

“Barangsiapa yang bangun dan mendapati makanan di sela-sela giginya, maka hal ini tidak terlepas dari dua kondisi:

Pertama: Makanan itu dalam jumlah yang sedikit dan tidak mungkin untuk diludahkan, kemudian ia menelannya. Maka hal ini tidak membatalkan puasanya, karena tidak dimungkinkan untuk menghindarinya. Ini menyerupai ludah. Ibnu al-Mundzir mengatakan: ‘Para ulama telah bersepakat (ijma’) dalam hal ini’.

Kedua: Makanan itu dalam jumlah yang banyak dan mungkin untuk diludahkan. Apabila ia menelannya dengan sengaja, maka puasanya telah batal menurut pendapat sebagian besar ulama, karena ia telah menelan makanan dengan kehendaknya padahal makanan itu mungkin untuk diludahkan, dan ia dalam keadaan ingat dengan puasanya. Maka puasanya telah batal, sebagaimana jika ia memulai makan.”

Sebagai kesimpulan dari jawaban ini:

Apabila memungkinkan untuk mengeluarkan makanan tersebut, namun ia tidak melakukannya dan lebih memilih untuk menelannya, maka puasanya telah batal. Dan apabila ia menelannya dengan tanpa kehendaknya, maka puasanya tetap sah dan tidak ada kewajiban atasnya.

Wallaahu a’lam

 

Link : https://islamqa.info/ar/78438

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here