Mengakhirkan Qadha’ Puasa Sampai Masuk Ramadhan Berikutnya

0
105

Soal:

Seorang wanita telah memasuki Ramadhan (berikutnya), namun dia memiliki kewajiban (qadha’) enam hari pada Ramadhan sebelumnya. Setelah berakhirnya Ramadhan kedua, dia bertanya dan setelah saya membaca, saya katakan kepadanya bahwa dia wajib mengqadha’ dan membayar fidyah untuk setiap harinya.

Maka kami pun mengeluarkan 1,5 kg gandum untuk setiap harinya. Dan kami juga telah keluarkan fidyah untuk enam hari sekaligus kepada anak-anak yatim di sekitar kami. Sebagai informasi bahwa dia belum menyempurnakan qadha’ hari-hari yang wajib untuknya. Apakah ukuran fidyah ini sudah benar? Apakah mengeluarkannya sebelum melaksanakan qadha’ dianggap sah?

Jawaban:

Pertama:

Fidyah tidaklah diberikan kecuali kepada orang-orang fakir dan miskin. Berdasarkan hal ini, anak-anak yatim tersebut termasuk orang-orang fakir, maka diperbolehkan memberikannya kepada mereka. Namun apabila mereka termasuk orang-orang kaya, maka tidak diperbolehkan memberikannya kepada mereka. Dan –untuk itu- Anda wajib mengeluarkan fidyah sekali lagi.

Sungguh tepat apa yang Anda lakukan yaitu mengeluarkannya dalam bentuk makanan. Ini merupakan hukum asal kewajiban yang Allah perintahkan, yaitu berupa makanan, dan tidak diperbolehkan mengeluarkan fidyah dalam bentuk uang. Demikian pula dalam kafarat sumpah, zhihar, zakat fitrah dan yang lainnya, dimana Allah mewajibkan memberi makan karenanya.

Kedua:

Adapun berkaitan dengan pokok masalah dalam pertanyaan, yaitu memberi makan dan qadha’ bagi orang yang telah memasuki Ramadhan berikutnya sementara dia belum mengqadha’ hari-hari yang wajib atasnya, maka dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat.

Intinya: mengakhirkan qadha’ sampai datangnya Ramadhan berikutnya;

  • apabila hal ini dilakukan karena ada udzur seperti sakit yang terus menerus, safar (bepergian), mengandung atau menyusui, maka dia tidak ada kewajiban atasnya kecuali qadha’
  • Dan apabila ia melakukannya tanpa udzur, maka orang yang mengakhirkan ini diwajibkan untuk bertaubat dan memohon ampun. Dan wajib atasnya -menurut Jumhur ulama- membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin untuk satu hari disertai dengan qadha’. Pendapat yang rajih (kuat) adalah tidak diwajibkannya fidyah kecuali kalau dia lakukan hal itu sebagai bentuk kehati-hatian, maka hal itu lebih baik.

Apakah diperbolehkan memberikan fidyah sebelum memulai qadha’? Karena fidyah berhubungan dengan penundaan qadha’ dan tidak berhubungan dengan memulainya qadha’.

Berdasarkan hal ini, maka diperbolehkan mengeluarkan fidyah pada hari dimana dia akan melaksanakan qadha’, atau sebelumnya, maupun setelahnya.

Disebutkan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (28/76):

“Dan qadha’ Ramadhan dapat dilakukan secara terpisah. Akan tetapi jumhur (sebagian besar ulama) memberikan batasan jika tidak terlewatkan waktu qadha’nya dengan datangnya Ramadhan berikutnya, berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallahu anha:

‘Biasanya saya memiliki kewajiban (qadha’) puasa Ramadhan, dan saya tidak mampu mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban. Karena keberadaan Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam.’

Sebagaimana tidak diperbolehkan mengakhirkan shalat yang pertama sampai (datangnya) shalat yang kedua.

Dan menurut Jumhur ulama tidak diperbolehkan mengakhirkan qadha’ Ramadhan sampai datangnya Ramadhan berikutnya tanpa ada uzur, (jika melakukannya), maka dia berdosa.

Berdasarkan hadits ‘Aisyah ini, apabila dia mengakhirkannya, maka dia harus membayar fidyah: Yaitu memberi makan satu orang miskin untuk satu hari. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallaahu ’anhum mereka berkata tentang orang yang memiliki kewajiban (qadha’) puasa, dan belum berpuasa sampai ia mendapati Ramadhan berikutnya, maka dia harus mengqadha’ dan memberi makan kepada satu orang miskin untuk satu hari. Dan fidyah ini (diwajibkan) karena penundaannya. Dan diperbolehkan memberi makan sebelum qadha’, bersamaan dengannya (qadha’) atau sesudahnya.”

Dan yang lebih utama –bagi orang yang berpendapat dengan kewajiban fidyah karena penundaan (qadha’) atau yang berpendapat sebagai bentuk kehati-hatian– agar ia memberikannya sebelum qadha’, sebagai bentuk bersegera dalam kebaikan dan berlepas dari bahaya-bahaya penundaan, seperti  lupa.

Al-Mardawi al-Hanbaly rahimahullah mengatakan:

“Ia memberi makan sebagaimana halnya kafarat, diperbolehkan memberi makan sebelum qadha’, atau bersamaan dengan qadha’ atau sesudahnya. Al-Majd –kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah– berkata:

‘Yang lebih utama adalah mendahulukannya (membayar fidyah) menurut kami, sebagai bentuk bersegera dalam kebaikan dan berlepas dari bahaya-bahaya penundaan.’” (Lih: al-Inshaf 3/333).

Wallaahu a’lam.

 

Link : https://islamqa.info/ar/95736

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here