Mengalami Pendarahan Otak, Wajibkah Berpuasa?

0
76

Pertanyaan:

Ayah istri saya mengalami pendarahan dan berbagai stroke diotaknya. Semoga Allah menyehatkan kami dan kalian. Ia tidak bisa bergerak dan lumpuh total. Para dokter telah bersepakat bahwa ia tidak mungkin lagi sembuh, Kondisinya seperti ini dan memburuk sejak 6 tahun.  Ia sudah tidak bisa mengingat ayat dan bacaan tasyahhud serta jumlah raka’at pada setiap shalat wajib.

Apakah ia harus membayar kafarat terhadap shalatnya atau puasa pada khususnya? Apakah ia termasuk dalam kategori seorang yang sakit yang keadaannya diwajibkan membayar kafarat puasa? Ataukah ia dikategorikan sebagai seorang yang gila yang sudah tidak mengetahui apa-apa sehingga hilang darinya hukum puasa dan shalat?

Jawaban:

Siapa yang telah hilang ingatannya dan berubah akalnya hingga ia tidak sadar, maka telah terangkat darinya wajib shalat dan puasa. Ia tidak perlu membayar kafarat. Sebab diantara syarat dalam pembebanan syariat adalah sehatnya akal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ : عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ  وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ  وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena diangkat bagi 3 golongan: Dari seorang yang tidur hingga ia terbangun, dari seorang anak bayi hingga ia baligh, dan dari seorang yang gila hingga ia berakal”. (HR. Abu Dawud (4403), al-Tirmidzy (1423) al-Nasay (3432) Ibnu Majah (2041). Abu Dawud berkata: “Diriwayatkan oleh Ibnu Juraij dari al-Qasim bin Yazid dari Ali radhiyallahu ‘anhu dari NabiShallallahu ‘alaihi wasallam dengan tambahan kata al-kharif (pikun). Hadits ini disahihkan oleh al-Albany dalam Shahih Abi Dawud).

Disebutkan dalam Kitab Aun al-Ma’bud dijelaskan bahwa:

“…Yang dimaksud adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut yang telah hilang akalnya karena penuaan. Sebab kadang orang-orang tua yang sudah berusia lanjut telah kacau akalnya sehingga menghalanginya dari kemampuan untuk dapat membedakan. Hal ini mengeluarkannya dari orang-orang yang mendapat pembebanan syariat. Ia tidak disebut sebagai orang gila, dan tidak disebut di dalam hadits sampai ia berakal. Sebab secara umum ia tidak sembuh dari keadaan itu hingga meninggal dunia. Jika ia sembuh pada beberapa waktu, maka ia kembali berkaiatan dengan taklif (pembebanan syariat).”

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“Tidak wajib melaksanakan ibadah puasa kecuali dengan memenuhi beberapa syarat. Yang pertama adalah berakal, kedua, ia telah baligh, ketiga beragam Islam, keempat: memiliki kemampuan, kelima: bermukim, keenam: bersih dari haid dan nifas bagi wanita.

Yang pertama adalah berakal, lawannya adalah hilangnya akal, baik karena gila atau telah pikun, atau karena kecelakaan hingga menghilangkan akal dan perasaannya. Demikian pula seorang yang pingsan karena kecelakaan atau selainnya. Maka seorang yang mengalami keadaan seperti ini, ia tidak wajib berpuasa dan memberi makan. Sebab ia bukanlah seorang yang berakal.” (Lih: Liqa Bab al-Maftuh: 220/4)

Beliau juga berkata:

“Siapa yang hilang akalnya karena penuaan atau kecelakaan yang tidak ada harapan ia akan sembuh, maka tidak wajib baginya berpuasa, seperti seorang yang telah tua yang telah sampai pada tingkatan ketidak baikan akal. Kedudukannya seperti anak bayi dan ia tidak wajib berpuasa.

Demikian pula dengan seorang yang mengalami kecelakaan sehingga menghilangkan akalnya dalam kondisi yang sudah tidak ada harapan untuk sembuh.

Adapun jika masih ada harapan kesembuhannya, dimana ia hanya sekedar pingsan, maka jika ia telah sadar, maka ia harus mengqadha’ puasanya. Namun jika akalnya telah lumpuh secara total, maka ia tidak perlu berpuasa. Jika ia tidak memiliki puasa, maka tidak perlu juga ia membayar fidyah.”

Sehingga yang jawaban untuk pertanyaan Anda adalah bahwa ayah Anda tidak wajib shalat dan puasa, dan tidak perlu membayarkan fidyah sebagai ganti dari puasa.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/107885

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here