Mengapa Kita Menghafal Al-Qur’an

0
151

Syaikh Shalih al-Munajjid

  1. Mengikuti teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghafal al-Qur’an dan senantiasa memuraja’ahnya bersama Jibril dan para sahabatnya.
  2. Mengikuti teladan salafush shalih. Ibnu ‘Abd al-Barr berkata,

“Proses menuntut ilmu itu ada tingkatan-tingkatan dan tahapan-tahapannya. Tidaklah layak bagi seseorang untuk melampaui tahapan-tahapannya. Barangsiapa yang melanggarnya maka dia telah menyelisihi jalannya para salaf rahimahullah. Adapun ilmu pertama untuk dihafal dan dipahami adalah Kitabullah.” (Lih: Jami’ Bayan al-’Ilmu wa Fadhlihi [2/1.129])

  1. Menghafal al-Qur’an telah dimudahkan bagi seluruh manusia. Menghafal al-Qur’an tidak berhubungan dengan kecerdasan maupun usia. Sungguh telah banyak orang yang mampu menghafalnya padahal ketika itu mereka telah tua. Bahkan al-Qur’an juga telah dihafal oleh orang-orang asing yang tidak berbicara dengan menggunakan bahasa Arab, terlebih lagi oleh anak-anak.
  2. Menghafal al-Qur’an adalah sesuatu yang disyariatkan, dan tidak ada istilah “gagal” di dalamnya. Mengapa? Karena ketika seseorang bertekad kuat untuk memulai menghafal al-Qur’an, kemudian rasa malas dan letih merasukinya sehingga ia tidak melanjutkan kembali usahanya tersebut, maka kadar al-Qur’an yang telah dia berhasil hafalkan tidaklah menjadi sesuatu yang sia-sia. Bahkan kalaupun tidak berhasil menghafalkan satu ayat pun, setidaknya dia tetap akan mendapatkan pahala dari membaca al-Qur’an, dan ganjaran membaca al-Qur’an adalah sepuluh kebaikan pada setiap hurufnya.
  3. Disebutkan dalam sebuah Hadits bahwa para penghafal al-Qur’an adalah keluarga Allah di muka Bumi ini dan hamba-hamba pilihannya. Maka cukuplah hal ini sebagai bentuk pemuliaan bagi mereka.
  4. Para penghafal al-Qur’an berhak mendapat penghormatan. Di dalam sebuah Hadits disebutkan:

إِنَّ مِنَ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ، غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ، وَلَا الْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

“Sesungguhnya termasuk bagian dari mengagungkan Allah adalah dengan memuliakan seorang muslim yang beruban (sudah tua) dan para penghafal al-Qur’an, tanpa berlebih-lebihan maupun bersifat kasar kepadanya, serta memuliakan penguasa yang adil.” (HR Abu Daud No. 4.843, dan dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih al-Jami’ No. 2.199)

Maka dimanakah orang-orang mendapatkan buah dari usaha ini?

  1. Ghibthah (iri dalam makna positif) yang sebenarnya adalah dalam hal al-Qur’an dan menghafalnya. Di dalam Hadits disebutkan:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ أَتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آَنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ أتَاهُ اللَّهُ مَالًا؛ فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ آناه اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

“Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: seseorang yang Allah anugerahkan al-Qur’an kepadanya, maka kemudian dia membacanya sepanjang malam dan siang; Dan untuk seseorang  yang Allah anugerahkan harta berlimpah, maka kemudian dia infaqkan hartanya sepanjang malam dan siang.”  (HR Bukhary No. 7529, dan Muslim No. 2199)

  1. Menghafal al-Qur’an dan mempelajarinya adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Dalam suatu Hadits disebutkan:

أَفَلَا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيُعَلِّمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ

 “Tidakkah seseorang di antara kalian pergi ke Masjid, kemudian dia mengetahui atau membaca dua ayat dari Kitabullah ‘Azza wa Jalla melainkan baginya sesuatu yang lebih baik dari dua unta, mengetahui atau membaca tiga ayat melainkan baginya sesuatu yang lebih baik dari tiga unta, mengetahui atau membaca empat ayat melainkan baginya sesuatu yang lebih baik dari empat unta, dan demikian seterusnya baginya sejumlah unta (sebagaimana jumlah ayatnya).” (HR Muslim No. 803)

Bayangkanlah betapa besar pahalanya, sementara unta di zaman itu adalah harta yang paling berharga dan paling mahal!

  1. Penghafal al-Qur’an adalah manusia yang paling berhak untuk dijadikan imam. Dalam suatu Hadits disebutkan:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

 “Hendaknya yang mengimami suatu kaum adalah yang paling ahli di antara mereka dalam hal kitabullah.” (HR Muslim No. 673)

Renungkanlah, bahwasanya shalat merupakan tiang agama dan rukun Islam yang kedua!

  1. Hafal al-Qur’an adalah suatu bentuk keunggulan baik di dunia maupun di akhirat. Dalam sebuah Hadits disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum disebabkan Kitab ini, dan menghinakan kaum yang lain dengannya.” (HR Muslim No. 817)

  1. Para penghafal al-Qur’an lebih didahulukan ketika mereka dikubur. Usai perang Uhud, di saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menguburkan para syuhada, Nabi mengumpulkan dua orang dalam satu kuburan, dan mendahulukan penguburan orang yang lebih banyak hafalan al-Qur’annya di antara keduanya.
  2. Pada hari kiamat, al-Qur’an akan memberi syafaat bagi para penghafalnya, dan syafaatnya akan diterima di sisi Allah ta’ala. Dalam sebuah Hadits disebutkan:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah oleh Kalian al-Qur’an, karena sesungguhnya dia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi para penghafalnya.” (HR Muslim No. 804)

Maka menjadi suatu kenikmatan luar biasa bagi siapa saja yang mendapatkan syafaat dari al-Qur’an pada hari yang teramat sulit tersebut.

  1. Sesungguhnya hafalan al-Qur’an akan menjadi keunggulan bagi seseorang dalam hal ketinggian derajatnya di surga. Disebutkan dalam sebuah Hadits:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ، وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Akan dikatakan kepada para penghafal al-Qur’an, ‘Bacalah dan naiklah, kemudian tartilkanlah bacaannya sebagaimana engkau tartilkan dahulu di dunia. Sesungguhnya tempat kedudukanmu terletak pada akhir ayat yang engkau baca’.” (HR Abu Daud No. 1.464, dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih al-Jami’ No. 8.122)

Ibnu Hajar al-Haitamy mengatakan, “Kabar ini khusus berkaitan dengan orang yang membaca al-Qur’an dari hafalannya. Karena kalau sekedar membaca dari tulisan, maka tentunya orang-orang tidak akan berbeda-beda di dalam hal tersebut.” (Al-Fatawa al-Haditsiyah,  Ibnu Hajar al-Haitamy, halaman 113)

  1. Para penghafal al-Qur’an akan bersama-sama dengan Malaikat yang mulia lagi berbakti. Dalam Hadits disebutkan,

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ، وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ

“Permisalan bagi orang yang membaca al-Qur’an dan dia menghafalnya, maka (ganjarannya) dia bersama-sama dengan Malaikat yang mulia dan berbakti.” (HR Bukhary No. 4.937, Muslim No. 798)

Dalam hal ini terkandung keterangan bahwa di antara bentuk kemuliaan bagi penghafal al-Qur’an adalah dia akan bersama-sama dengan Malaikat yang disebutkan dalam Surat ‘Abasa ayat 13-16:

{فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ * مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ * بِأَيْدِي سَفَرَةٍ * كِرَامٍ بَرَرَةٍ}

“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan; yang ditinggikan lagi disucikan; di tangan para penulis (malaikat); yang mulia lagi berbakti”

  1. Penghafal al-Qur’an adalah orang-orang yang paling banyak membaca al-Qur’an. Karena dalam menghafalnya, dia harus membacanya secara berulang-ulang. Dan untuk menguatkan hafalannya, dia harus mengulang-ulang hafalannya terus menerus. Di dalam Hadits disebutkan:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهَا

Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya ganjaran berupa satu kebaikan. Dan untuk setiap satu kebaikan, akan dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat” (HR Tirmidzy No. 2.910 dan dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih al-Jami’ No. 6.469)

  1. Para penghafal al-Qur’an mampu untuk membaca al-Qur’an dalam setiap kondisi. Dia dapat membacanya sambil bekerja atau sedang mengendarai kendaraan. Dia masih dapat membacanya walaupun dalam keadaan gelap gulita. Dia dapat membaca al-Qur’an sambil berjalan maupun berbaring. Maka apakah seseorang yang tidak hafal al-Qur’an dapat melakukan yang demikian itu?
  2. Para penghafal al-Qur’an tidak butuh untuk melihat mushaf untuk menghadirkan ayat-ayat al-Qur’an di dalam pembicaraan-pembicaraannya, khutbah-khutbahnya, nasihat-nasihatnya, maupun di saat dia sedang mengajar. Adapun selain mereka, maka betapa sering mereka kepayahan untuk menyebutkan suatu ayat ataupun menemukan letaknya.

Maka apakah setelah ini kita masih enggan untuk menghafal al-Qur’an sekemampuan kita?

Sumber Tulisan: https://ramadaniat.ws/zikr/343

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here