Menggauli Istri Sampai Ejakulasi Saat Berpuasa

  • 2 min read
  • May 31, 2018

Soal:

Dahulu saya ditimpa penyakit berat di sela-sela bulan Ramadhan dan dokter memintaku untuk berbuka puasa dan mengonsumsi beberapa obat-obatan. Perintah tersebut aku laksanakan. Dan dokter memintaku untuk melakukan hal tersebut selama 5 hari.

Pada hari keempat dari sakitku, saya memutuskan untuk berpuasa tanpa mengabari istriku, karena dia pasti akan menolaknya karena permintaan dokter untuk menghabiskan obat secara keseluruhan. Aku benar-benar percaya bahwa Allah telah mengembalikan kesehatanku dan aku ingin berpuasa, oleh karena itulah aku berpuasa.

Pada pagi hari yang sama kami saling menggoda dan istriku tidak berhenti sampai aku memintanya. Sampai ketika syahwat menguasaiku dan disusul dengan ejakulasi. Tentu saja istriku kaget ketika aku mengabarinya bahwasanya aku sedang berpuasa.

Berdasarkan hal ini apakah wajib bagiku untuk berpuasa selama 60 hari berturut-turut? Ataukah aku boleh berpuasa sehari saja? Ataukah kasus saya ini termasuk dalam hadits tentang berbuka puasa karena lupa, dimana Allah mengetahui bahwasanya saya tidak berniat melakukan hal itu?

Jawaban:

Anda telah melakukan kebaikan dengan berbuka ketika penyakit Anda parah. Anda juga melakukan kebaikan dengan berpuasa ketika melihat diri Anda mampu melakukannya. Dan yang terbaik adalah Anda mengkonsultasikannya kepada dokter.  Jika Anda berpuasa pada hari itu dan tidak mengalami kesulitan karenanya, maka Anda wajib menyempurnakannya.

Dan tidak ada masalah menggoda istrinya dalam keadaan berpuasa jika ia merasa aman dari batalnya puasanya maupun puasa istrinya. Jika ia tidak merasa aman dari itu, maka ia tidak boleh melakukan hal tersebut.

Syekh Musthafa al-Ruhaibany dalam kitab Mathalib Uuli al-Nuha (2/204):

“Dan diharamkan hal yang menyerupai ciuman seperti berpelukan, sentuhan, dan mengulang pandangan bagi yang was-was akan mengalami ejakulasi tanpa ada perbedaan pendapat diantara ulama.”

Apabila Anda bersenda-gurau dengan istri Anda dalam keadaan merasa aman dari batalnya puasa, maka Anda tidak berdosa itu walaupun puasamu batal karena tidak sengaja.

Namun bila Anda merasa was-was bahwasanya Anda akan mengalami ejakulasi, maka Anda berdosa karenanya dan Anda wajib bertaubat kepada Allah.

Dan dalam kedua kondisi ini, puasa akan batal jika Anda mengalami ejakulasi; baik Anda berniat untuk berbuka ataupun tidak.

Syaikh Muhammad Bin ‘Utsaimin rahimahullah:

“Apabila seseorang menggauli istrinya, entah itu dengan tangan, atau dengan wajah dengan ciuman, atau dengan kemaluan (tanpa berjima’); jika ia mengalami ejakulasi maka puasanya batal. Namun jika ia tidak mengalami ejakulasi, maka puasanya tidak batal.” (Lihat: al-Syarh al-Mumti’ 6/388).

Karena itu, Anda wajib mengqadha puasa sehari sebagai ganti puasa yang batal dan Anda tidak wajib membayar kaffarat.

Imam al-Nawawy dalam kitab al-Majmu’ (6/377):

“Apabila puasanya batal bukan karena jima’, makan, minum, onani, dan mendatangi istri yang menyebabkan ejakulasi, maka tidak ada kaffarat, karena dalil yang berbicara tentang hal ini hanya terbatas pada jima’, dan perkara-perkara ini tidak termasuk dalam makna jima’”.

Wallaahu a’lam

Link : https://islamqa.info/ar/110086