Mengikuti Rukyatul Hilal Negeri Lain, Namun Ingin Berlebaran Bersama Penduduk Negerinya

  • 2 min read
  • May 15, 2018

Pertanyaan:

Saya tidak berpuasa dan berlebaran dengan menyaksikan hilal dengan mata kepala saya sendiri, akan tetapi saya berpuasa berdasarkan persaksian dua orang muslim yang adil. Masalahnya adalah di negeri saya awal puasa dan akhir puasa selalu lebih lambat sehari dari mayoritas kaum muslimin. Padahal saya meyakini wajibnya penyatuan puasa (bagi seluruh kaum muslimin), sehingga saya berpuasa dan berlebaran bersama mayoritas kaum muslimin. Kita semua adalah muslim di negeri Islam, dari Indonesia hingga Maroko.

Pertanyaan saya adalah seputar pelaksanaan shalat Id. Saya tidak dapat melakukan safar (ke negeri lain) untuk shalat Id. Apakah jika saya shalat bersama masyarakat di negeri saya, maka hal itu dianggap terlambat, dan apakah hal tersebut dianggap sah atau tidak? Atau saya tidak shalat (bersama mereka) sehingga saya tidak mendapatkan pahala shalat Id?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Jika masyarakat di negeri Anda berpedoman pada rukyatul hilal, maka hendaknya Anda mengawali puasa dan mengakhirinya bersama mereka. Tidak selayaknya Anda berbeda dengan mereka dan lebih mengikuti rukyatul hilal negara lain. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Puasa adalah hari di mana kalian semua berpuasa, sedangkan berlebaran (Idul Fitri) adalah hari di mana kalian semua berlebaran, dan Idul Adha adalah hari di mana kalian semua berkurban.” (HR. Tirmizi, no. 797).

Imam al-Tirmidzy berkata, “Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan berkata, “Maknanya adalah hendaknya berpuasa dan berbuka bersama jamaah dan mayoritas masyarakat.”

Hadits ini diklasifikasikan sebagai hadits shahih oleh Al-Albany dalam Shahih al-Tirmizi.

Jika Anda memilih mazhab yang menyatakan bahwa menyaksikan hilal di sebuah negeri mengharuskan seluruh penduduk di berbagai negara untuk mengikutinya,  itu berakibat ‘Id bagi Anda lebih cepat sehari, sehingga hendaknya Anda berbuka secara sembunyi-sembunyi, lalu mengerjakan shalat ‘Id bersama mereka keesokan harinya sebagai qadha’.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

“Jika Anda berpendapat bahwa wajib mengikuti pendapat pertama, yaitu bahwa apabila telah terbukti rukyatul hilal di sebuah tempat di negeri Islam dengan menggunakan metode syar’i, maka Anda wajib menjalankan konsekuensinya. Namun karena negeri Anda tidak mengamalkan hal tersebut dan lebih memilih pendapat lainnya, maka tidak selayaknya Anda menampakkan perbedaan itu, karena dapat menimbulkan fitnah, kekacauan, dan kontroversi.

Anda dapat berpuasa secara sembunyi-sembunyi saat masuk awal  Ramadhan dan berbuka secara diam-diam pada awal Syawal. Karena memperlihatkan perselisihan secara terbuka, tidaklah tepat dan bukan termasuk yang diperintahkan oleh Islam.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin, 19/44).

Wallahu a’lam

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/157275