Mengira Puasanya Batal, Tapi Ia Tetap Berpuasa. Apakah puasanya harus diganti?

0
156

Pertanyaan:

Ada seseorang yang berpuasa meyakini bahwa puasanya telah batal lantaran telah melakukan perbuatan haram. Meski yakin bahwa puasanya telah batal, dia tetap melanjutkan puasanya karena menghormati kesucian bulan Ramadhan. Beberapa saat kemudian dia sadar bahwa ternyata puasanya tidak batal, maka apakah wajib baginya untuk mengganti puasanya hari itu?

Jawaban:

Jika seseorang meyakini bahwa puasanya batal, tapi dia tetap menahan makan dan minum karena menghormati kesucian bulan Ramadhan, kemudian dia menyadari bahwa ternyata puasanya tidak batal, maka dia tidak wajib mengganti puasanya. Keyakinannya bahwa puasanya telah batal tidak berpengaruh pada puasanya, karena dia tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, juga tidak berniat untuk membatalkan puasanya.

Adapun yang diwajibkan dalam persoalan niat adalah penyertaan hukumnya. Sementara dalam hal ini dia masih menyertakan hukum niatnya, terbukti bahwa dia masih menahan makan dan minum pada sisa hari itu.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pendapat yang paling kuat bahwa barang siapa yang sedang berpuasa kemudian ragu dalam niatnya apakah berbuka atau tidak, bahwa puasanya tersebut dianggap sah.

Dia tidak dianggap berbuka hanya karena ragu-ragu dalam berniat jika ia telah memulai puasa dengan niat yang jelas, dan tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasanya, karena prinsip dasarnya adalah puasanya tetap sah, dan munculnya keragu-raguan untuk berbuka tidak menghilangkan niat puasa hingga dia bertekad untuk benar-benar membatalkan puasanya.

Inilah yang difatwakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikh Ibnu Jibrin rahimahumallahu.

Jika sekadar ragu dalam perkara niat apakah berbuka atau melanjutkan puasa tidak membatalkan puasa, maka orang yang tidak berniat membatalkan puasanya lebih berhak untuk dikatakan puasanya tidak batal, dan juga tidak mengerjakan satupun pembatal puasa. Tujuan dari semua ini adalah agar dia menyempurnakan puasanya demi menjaga kehormatan bulan Ramadhan.

Dan hasilnya puasanya tetap dianggap sah dan  dia mendapatkan pahala dari kewajiban yang telah ia niatkan serta tidak ada dosa baginya. Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/272947

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here