Mulai Berpuasa Di Luar Negeri, Saat Kembali Tanah Air Belum Ramadhan

0
93

Pertanyaan:

Pertanyaan saya berkaitan dengan kewajiban berpuasa dengan adanya perbedaan hasil rukyat antara dua negara. Kami meninggalkan wilayah Saudi Arabia setelah penetapan masuknya bulan Ramadan. Dan saat kami tiba tanah air, di sini belum ditetapkan masuknya bulan Ramadan. Sejumlah besar musafir tidak berpuasa pada hari itu, hal itu dikarenakan mereka belum mengetahui hukum syariat dalam masalah ini.

Apa hukumnya? Apakah mereka meng-qadha’puasa hari itu? Orang-orang yang safar pada hari itu dan sedang berpuasa, apakah puasa mereka sah dan menggenapkan puasanya bersama kaum muslimin di tanah air meskipun harus berpuasa sampai 31 hari?

Jawaban:

Pertama, bahwa posisi keluarnya bulan berbeda-beda untuk setiap wilayah. Dengan adanya perbedaan itu, maka setiap negara memiliki rukyat masing-masing. Dan tidak diharuskan berpuasa ketika hilal terlihat di negara lain.

Kedua, tampaknya –wallahu alam– bahwa jika Ramadhan dimulai ketika seseorang berada di satu negara, maka dia harus berpuasa dengan penduduk negara itu, bahkan jika dia bepergian pada hari itu ke negara lain yang belum mengumumkan masuknya bulan Ramadan. Karena puasa pada hari itu telah menjadi wajib baginya dengan masuknya bulan Ramadan di negara pertama. Berdasarkan firman AllahSubhanahu wa Ta’ala,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa di antara kamu melihat bulan (hilal), maka hendaklah ia berpuasa.” (QS. al-Baqarah: 185).

Dan dia telah hadir menyaksikan bulan (hilal), maka diharuskan baginya berpuasa.

Ketiga, adapun kaitannya dengan bilangan hari dalam sebulan, dan adanya perbedaan apakah melengkapi Ramadhan dengan perhitungan negara pertama atau perhitungan negara yang dia tuju?

Maka dalam hal ini, prinsip dasar yang disebutkan oleh banyak ahli fikih adalah bahwa orang yang safar ke negara lain mengikuti hukum di negara yang dia datangi. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Majmu, 6/274.

Kalau penduduk negara kedua menggenapkan puasa mereka tiga puluh hari, maka dia harus berpuasa bersama mereka–kendati baginya itu adalah hari ketiga puluh satu.

Adapun kalau mereka berpuasa hanya dua puluh sembilan hari, maka tidak ada masalah dalam hal itu karena berarti ia menyempurnakan puasanya tiga puluh hari. Sementara hitungan 1 bulan bisa saja: 30 hari dan terkadang 29 hari.

Al-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab ‘al-Majmu’, 6/274,

“Kalau suatu negara telah memulai puasa kemudian ada yang safar ke negeri yang jauh yang belum melihat hilal sebagaimana di negeri pertama, maka hendaknya ia menyempurnakan tiga puluh hari sejak dia berpuasa.”

Jika kita berasumsi bahwa setiap negara mempunyai ketetapan tersendiri, maka ada dua pandangan tentang itu. Dan pandangan yang terkuat adalah bahwa ia diharuskan berpuasa bersama mereka, karena dia telah menjadi bagian dari mereka.

Bagaimana jika dia melihat hilal di satu negara, dan waktu pagi hari berhari raya bersama mereka, lalu dia melakukan perjalanan dengan kapal ke negara lain dan menemukan orang-orang di sana masih berpuasa?

Syaikh Abu Ahmad berkata, ‘Dia harus menahan diri dari makan dan minum selama sisa hari itu, jika kita mengatakan bahwa setiap negara memiliki putusan sendiri.’”

Disebutkan dalam Tuhfat al-Muhtaj (3/383) karangan Ibnu Hajar al-Haitsami rahimahullah,

“Jika kita tidak mewajibkan puasa kepada penduduk negara lain disebabkan adanya perbedaan mathla’ (tempat munculnya hilal), kemudian ada orang yang pergi ke negara yang melihat hilal, maka pandangan terkuat dalam hal ini adalah mengikuti puasa bersama penduduk negeri yang dituju meskipun harus menggenapkan tiga puluh hari. Karena dengan berpindahnya dia ke negara tersebut, maka dia menjadi bagian dari penduduk negeri itu.”

Disebutkan dalam kitab al-Inshaf salah satu buku rujukan dalam mazhab Hanbali (3/373),

“Dikatakan dalam al-Ri’ayah al-Kubra, bahwa jika seseorang bepergian meninggalkan negara yang telah melihat hilal pada malam Jumat ke negara yang baru menyaksikan hilal pada malam Sabtu, ketika dia telah menyempurnakan puasanya selama sebulan (tiga puluh hari) sementara penduduk negeri itu belum melihatnya, maka dia harus berpuasa bersama penduduk negeri itu.”

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa bahwa pendapat yang benar adalah ikut bersama yang berpuasa, dan menyempurnakan puasa di hari pertama di bulan Ramadan. Karena Anda berada di negara yang telah menetapkan rukyatul hilal pada hari itu, maka Anda diharuskan berpuasa, meskipun Anda masuk ke negara Anda–yang belum mengumumkan puasa hari itu-pada pertengahan hari.

Kemudian ketika Anda kembali ke negara asal Anda yang puasanya terlambat sehari dari puasa di negara Anda berada sebelumnya, maka Anda harus tetap berpuasa bersama orang-orang di negeri Anda, walaupun itu berarti bahwa jumlah hari Anda berpuasa adalah 31 hari.

 

Wallahu a’lam.

Sumber: https://islamqa.info/ar/93432

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here