Pasien Wanita Ini Merasakan Ada Darah yang Turun Ke Pangkal Tenggoroknya, Apa yang Harus Dia Lakukan?

0
84

Soal:

Ada seorang wanita pengidap penyakit pembuluh darah pecah. Saat puasa, terasa ada rasa asin darah di pangkal tenggoroknya. Dia memang tidak selalu merasakan hal ini secara terus-menerus, namun sangat sering. Saat mengqadha’ puasanya pun dia juga mengalami hal yang sama. Apa yang seharusnya dilakukan oleh wanita ini dengan puasanya? Apakah sekedar rasa darah di pangkal tenggorokan memang membatalkan puasa? atau hanya batal jika memang ada sesuatu yang masuk?

Jawaban:

Seorang yang sakit dan mendapat rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa hendaknya mengerti bahwa tetap berpuasa meskipun berat melaksanakannya saat sakit itu hukumnya makruh. Bahkan sampai taraf haram, jika hal itu membahayakan dirinya. Karena Allah sendiri telah memberikan rukhsah untuk tidak puasa bagi dirinya. Maka dia tidak boleh memberatkan diri atau bahkan membahayakan diri sendiri.

Menelan darah jelas termasuk pembatal puasa. Namun orang yang di pangkal tenggoroknya ada darah yang masuk tanpa disengaja, dan tanpa bisa dicegah maka dia tidak berdosa dan puasanya tidak batal. Hanya jika dia memang sengaja menelan darahnya baru lah puasanya batal.

Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan,

“Jika mulutnya mengalirkan darah, lalu dia menyesapnya (menelannya seperti menelan ingus, red-) maka puasanya batal. Meskipun dalam jumlah yang sedikit. Karena mulut itu dihukumi sesuai zhahirnya. Dan hukum asalnya adalah bahwa puasa akan batal dengan sebab masuknya apapun melalui mulut. Terkecuali air liur, karena tidak mungkin dihindari sama sekali. Maka segala macam zat selain air liur tetap pada hukum asalnya. Jika dia sudah membuang zat itu dari mulutnya, tapi mulutnya masih najis, atau ternajiskan oleh benda lain dari luar. Lalu dia menelan ludahnya, maka perlu diperhatikan; jika dalam ludahnya terkandung unsur zat lain tadi, maka puasanya batal karena zat campuran yang ikut masuk tersebut. Namun jika tidak, maka puasanya tidak batal. (Lih: al-Mughny, 3/36)

Ulama al-Lajnah al-Da’imah menyatakan,

“Jika di gusinya ada sariawan, atau berdarah karena gosok gigi, maka dia tidak boleh menelan darahnya dan harus membuangnya keluar. Namun jika merembes masuk tanpa sengaja, tanpa bisa dicegah, maka tidak mengapa. Begitupula muntah, jika ada yang kembali masuk ke lambung tanpa sengaja maka puasanya tetap sah.” (Lih: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah, 10/254)

Syaikh Muhammad al-Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah seseorang batal puasanya karena darah yang keluar saat cabut gigi?”

Beliau menjawab:

“Keluar darah saat cabut gigi tidak berpengaruh apa-apa terhadap puasa. Namun orang yang berpuasa hendaknya menghindari jangan sampai menelan darah. Karena darah itu keluarnya secara temporal dan bukan seperti saat normal. Maka menelannya menyebabkan puasa batal. Berbeda dengan menelan ludah (yang memang keluar terus menerus secara normal), hal itu tidak membatalkan. Maka jika mencabut gigi saat puasa, hendaknya berhati-hati jangan sampai ada darah yang tertelan ke lambungnya, karena itu membatalkan puasa. Meskipun, jika memang darah itu merembes tanpa bisa dicegah, maka tidak mengapa.  Karena dia dalam hal ini tidak menyengaja.” (Lih: Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 19/ Soal no. 213).

Beliau rahimahullah juga menyatakan,

“Jika seseorang mimisan di hidungnya, lalu ada sebagian darah yang turun ke tenggorokannya, dan sebagian lain keluar melalui lubang hidungnya, maka puasanya tidak batal gara-gara itu. Karena yang menetes ke tenggorokan itu mengalir tanpa bisa dicegah, sementara yang keluar juga tidak mengganggu puasanya.” (Lih: Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 19/328)

Ringkasnya:

Bagi pasien wanita ini yang dianjurkan adalah dia lebih baik meninggalkan puasa, jika puasa terasa berat dilaksanakan. Bahkan menjadi wajib meninggalkan puasa, jika hal itu membahayakan dirinya. Jika dia meninggalkan puasa maka dia wajib menggantinya dengan mengqadha’ puasa di hari lain jika dia memang mampu melaksanakannya. Jika dia tidak mampu melakukan puasa qadha’ maka harus diganti dengan fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin sebagai ganti tiap sehari yang dia tinggalkan.

Kita bermohon kepada Allah Ta’ala agar menetapkan pahala yang besar untuk muslimah ini atas kesabarannya. Lalu memberikan kesembuhan baginya juga keselamatan yang segera tanpa tertunda.

Wallahu a’lam.  

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/78484

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here