Pemilik Hewan Hadyu Harus Ditentukan Oleh yang Mewakili Untuk Menyembelih

  • 2 min read
  • Aug 16, 2018
Hadyu

Soal:

Apakah saya wajib menyembelih hewan hadyu saya sendiri? Atau boleh diwakilkan kepada salah satu instansi (maktab) atau bank yang ada di Mekkah yang khusus bekerja untuk itu?

Jawaban:

Tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk menyembelih hewan hadyunya sendiri. Ia boleh mewakilkannya kepada orang yang dipercaya untuk mengerjakan hal tersebut.

Tapi patut diperhatikan satu hal yang berkaitan dengan “perwakilan”, yaitu bahwa pada saat penyembelihan harus ditentukan siapa (nama) pemilik hewan hadyu tersebut. Jadi yang mewakili harus meniatkan bahwa sembelihan itu dari si fulan. Dan tidak sah jika sejumlah kambing misalnya disembelih atas nama sejumlah orang tanpa ditentukan (secara personal).

Atas dasar itu, maka tidak boleh mewakilkan institusi (maktab) atau pihak bank yang tidak menentukan nama-nama para pemilik kurban, kecuali dalam kondisi darurat, dimana seseorang tidak mungkin pergi ke tempat penyembelihan seorang diri, atau menemukan wakil yang dapat dipercayai untuk menyembelih atas namanya.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Sebagian travel haji biasa mengumpulkan dana untuk hewan kurban dari jamaah haji dan menyembelihkan untuk mereka, namun mereka mungkin tidak menyebutkan nama untuk masing-masing jamaah tersebut. Apakah ini boleh?”

Beliau menjawab:

“Hal ini tidak diperbolehkan. Sembelihan itu harus ditentukan (atas nama siapa). Jadi misalnya dalam travel itu ada 30 orang dan untuk mereka dibelikan 30 ekor kambing, maka mereka seharusnya punya daftar nama mereka. Lalu setiap kali seekor kambing akan disembelih, disebutkan bahwa ini atas nama si fulan, karena memang harus ditentukan namanya. Adapun jika ketigapuluh ekor kambing itu langsung disembelih untuk 30 orang, maka ini tidak dibenarkan.” (Lih: al-Liqa al-Syahri 32/72)

Beliau juga pernah ditanya:

“Kami pernah mendengar penjelasan Anda, wahai Syekh, bahwa Anda melarang untuk menyerahkan penyembelihan itu kepada perusahaan-perusahaan tersebut. Tapi apa solusinya jika itu sudah terjadi? Karena kami sudah berhaji lebih dari sekali dan menyerahkan penyembelihan kepada perusahaan-perusahaan itu tanpa mereka mengambil nama-nama kami? Apa hukumnya yang sudah terjadi itu, apakah sah? Jika tidak sah, maka apa yang harus kami lakukan?”

Beliau menjawab:

“Kami tidak pernah melarang menyerahkan hewan hadyu (kepada mereka), karena penyembelehan hewan hadyu ini sangat penting dan mendesak, sebab seseorang dihadapkan pada 2 pilihan: menyerahkannya kepada perusahaan-perusahaan tersebut (untuk menyembelih dan membagikannya-penj), atau menyembelihnya sendiri lalu membiarkannya tergeletak di jalan tanpa ada yang memanfaatkannya.

Jika seseorang mampu menyembelih sendiri, lalu mengonsumsi dan membagikannya, maka tentu tidak diragukan bahwa ini yang terbaik. Dan ini mungkin dilakukan oleh sebagian orang yang memiliki kenalan di Mekkah yang dapat mewakilinya dengan mengatakan: ‘Tolong sembelihkan hadyu ini untuk kami’, kemudian ia memanfaatkannya. Atau ia turun sendiri ke Mekkah membelinya di pemotongan hewan dan menyembelihnya di sana. Ia pasti akan mendapati orang-orang berdesakan untuk mengambil pembagiannya.

Namun yang saya pandang sebagai sebuah kesalahan besar adalah jika dana sembelihan itu ke negeri lain untuk dilaksanakan di sana. Inilah yang tidak ada dasarnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirimkan hewan hadyu ke Mekkah untuk disembelih di Mekkah, namun tidak pernah dinukilkan dari beliau baik dalam hadits shahih maupun dha’if, bahwa beliau mengirimkan sembelihannya ke tempat lain. Beliau menyembelihnya di rumahnya, lalu menghadiahkan dan menyedekahkannya.” (Lih. Al-Liqa’ al-Syahri 17/34)

Dan jika perusahaan tersebut menuliskan nama pemilik hewan sembelihan dan menggantungkannya di leher hewan tersebut –sebagaimana dilakukan sebagian perusahaan- yang diniatkan oleh si penyembelih bahwa sembelihan tersebut dari pemilik nama di kertas itu, maka ini dibolehkan dan sah, dan penentuan nama itu terwujud dengan itu, tanpa harus menyebutkan nama penyebutnya.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/126662