Penderita Narkolepsi Dan Harus Minum Obat Di Siang Hari Ramadhan

  • 1 min read
  • May 29, 2018

Pertanyaan:

Saya menderita penyakit berupa ketidakseimbangan waktu-waktu tidur, penyakit ini disebut dengan penyakit narkolepsi. seseorang yang menderita penyakit ini merasa tidaK mampu melakukan apa-apa pada siang hari, bahkan mungkin saja ia akan jatuh tertidur dalam sekejap tanpa ia rasakan.

Oleh karenanya, saya harus minum obat dua kali pada siang hari agar saya tetap bisa selalu terjaga. Sebagaimana diketahui bahwa bulan Ramadhan semakin dekat dan saya akan melaksanakan ibadah puasa. Kemudian, tidak mungkin saya harus menghabiskan hari-hariku dengan tertidur. Masalahnya, tidak dianjurkan mengganti waktu minum obat itu, sebab tujuannya adalah membuat saya tetap terjaga pada siang hari. Bagaimana nasehat Anda kepada saya?

Jawaban:

Jika Anda bisa meminum obat sebelum waktu fajar dan ba’da maghrib dan keadaan Anda berubah lebih baik dengan perubahan waktu minum obat ini, maka kita ucapkan: “Alhamdulillah.

Jika obat ini ada dalam bentuk suntikan yang bisa menggantikannya, maka mintalah saran pada dokter anda untuk menggunakannya pada bulan Ramadhan, sebagai ganti dari obat minum; dan itu tidak mengapa dilakukan pada siang hari.

Jika Anda harus minum obat siang hari, sedangkan mengganti pola minumnya akan menyebabkan kelemahan yang sangat parah atau Anda merasa  sangat berat, maka Anda mendapatkan udzur untuk membatalkan puasa. Anda boleh membatalkan puasa, lalu mengqadha’nya pada masa yang akan datang.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa tidak boleh bagi seoang yang sakit membatalkan puasanya pada bulan Ramadhan kecuali sakitya adalah sakit keras.

Yang dimaksud dengan sakit keras adalah:

  1. Penyakit akan bertambah parah jika melakukan ibadah puasa.
  2. Sakit akan tertunda kesembuhannya jika melakukan puasa.
  3. Seseorang akan merasakan beban yang sangat berat, walau tidak menambah parah penyakit atau tidak memperlambat kesembuhannya.
  4. Sebagian ulama juga mengategorikan seorang yang khawatir terkena penyakit jika ia berpuasa.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/154044