Pengaruh Al Qur’an Pada Hati

  • 3 min read
  • Mar 15, 2021
Al-Qur'an

Walid al-Marzuqy

Tidak diragukan lagi bahwa di dalam hati ada rasa pengagungan dan penghormatan untuk al-Qur’an. Dan pengaruh al-Qur’an dalam hati tidaklah terbatas. Bagaimana tidak, sementara dia adalah kalam Rabb semesta alam, yang diturunkan melalui al-Ruh yang terpercaya (malaikat Jibril ‘alaihi as-salam), kepada Nabi kita Muhammad agar beliau menjadi salah seorang pemberi peringatan? Tidakkah engkau merenungkan firman-Nya:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…” (QS Az-Zumar [39]:23)

Al-Qur’an memiliki dampak yang agung lagi mulia untuk hati, terlebih lagi hati orang beriman dan para ahlul Qur’an. Sesungguhnya, Andai saja al-Qur’an ini diturunkan kepada gunung, niscaya gunung tersebut akan tunduk penuh kekhusyuan dan terbelah karena rasa takutnya kepada Allah. Lalu bagaimana jika al-Qur’an ini diturunkan kepada segumpal daging kecil di dalam dada seorang manusia?

Maka adalah sesuatu hal yang mengherankan apabila seseorang membaca al-Qur’an atau mendengarnya namun hatinya tidak menjadi khusyu’ dan lembut. Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“…Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah…” (QS Az-Zumar [39]:22)

Kalamullah menghadirkan ketenangan dan ketenteraman dalam hati. Maka engkau dapat melihat seorang penghafal al-Qur’an dan mengamalkannya tingkah laku perbuatannya senantiasa lurus, serta tidaklah dia berkata-kata kecuali dengan ucapan yang bijak. Hal itu dikarenakan di dalam hatinya termuat kalam Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Apabila terjadi hal yang tidak seperti itu maka tidak diragukan lagi bahwa ada sesuatu ketidakberesan padanya. Karena sesungguhnya al-Qur’an ini menunjuki kepada hal yang paling lurus, maka mustahil terlahir darinya akhlaq yang tercela.

Dan di antara bukti sangat agungnya Kalamullah ini, bahwasanya dia merupakan penyembuh untuk penyakit-penyakit fisik maupun maknawi. Maka tidak dapat dibenarkan seorang manusia berpaling darinya setelah sampai kepadanya keagungan ini. Sungguh dahulu seorang pemuka kafir telah bersaksi atas keagungannya, yakni Walid bin al-Mughirah, dia berkomentar tentang al-Qur’an setelah mendengarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya,

“Sesungguhnya apa yang dia ucapkan itu ucapan yang manis. Padanya terdapat kenikmatan jiwa. Dan sesungguhnya bagian atasnya berbuah sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta dia menghancurkan apa yang ada dibawahnya” (al-Mustadrak ‘al al-Shahihain no. 3.872, Shahih al-Sirah al-Nabawiyah hlm. 158)

Sesungguhnya pembicaraan tentang keagungan al-Qur’an dan dampaknya untuk jiwa merupakan pembahasan yang panjang. Akan tetapi dapat saya katakan di sini bahwa seorang hamba haruslah terpengaruh oleh Kalamullah, agar ia dapat memperoleh kedekatan dengan Rabbnya. Al-Qur’an akan mewariskan keimanan di dalam hati dan sikap untuk menyukai kebaikan serta berbuat baik. Manusia setiap kali membaca al-Qur’an akan bertambah kerinduan dan kecintaannya untuk mentaati Rabb Sang Pencipta serta bertaqarrub kepada-Nya dengan hal-hal yang Dia sukai dan ridhai. Maka Dia-lah yang memerintah dan melarang. Dan engkau melihat mereka tidak memiliki keinginan seujung jari pun untuk keluar dari ketaatan kepada-Nya, disebabkan sesungguhnya mereka amat sangat menginginkan surga-Nya.

Sebagai penutup yang aku sampaikan:

Wahai manusia yang membaca al-Qur’an namun tidak mendapatkan di dalam hatinya kebahagiaan dan ketenteraman, sadarkanlah jiwamu sebelum masanya berlalu. Sungguh Anda sedang berada dalam bahaya besar karena yang demikian itu bukanlah sifat seorang mukmin. Sesungguhnya seorang mukmin hari demi hari akan bertambah rasa cinta dan rindunya kepada al-Qur’an. Jangan sampai engkau mengharamkan dirimu untuk menjadi seorang mukmin. Allah ta’ala telah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) …” (QS al-Anfal [8]:2)

Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk dapat memahami al-Qur’an dan mengamalkannya, karena sesungguhnya Dia-lah yang mengurus hal itu dan berkuasa atasnya.

Sumber Tulisan: https://ramadaniat.ws/zikr/337

 

 

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *