Porsi Fidyah yang Harus Ditunaikan Oleh Orang yang Tidak Mampu Berpuasa

0
78

Soal:

Bapak saya meninggalkan puasa Ramadhan sebulan penuh karena tidak mampu berpuasa berhubung usianya sudah sangat lanjut dan mulai sakit-sakitan. Lalu beliau meninggal sebelum sempat mengqadha’ hutang puasanya sebulan itu. Lalu kami pun membayarkan kafarat dengan cara mengeluarkan sedekah harta untuk para fakir. Lalu kami mendapatkan info bahwa kaffarahnya tidak sah kecuali berupa pemberian makanan. Apakah kami harus mengulang kaffarahnya dalam bentuk ini? Jika iya, berapakah proporsinya?

Jawaban:

Pertama,

Mayoritas ahli fiqh baik dari kalangan penganut madzhab Maliki, Syafi’i maupun Hanbali telah bersepakat bahwa penunaian fidyah dalam bentuk mata uang tidak sah. Fidyah darus disalurkan dalam bentuk makanan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala berikut:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Menjadi kewajiban atas orang yang keberatan melaksanakan puasa itu (untuk menggantinya dengan) menunaikan fidyah berupa makanan bagi orang miskin.” (al-Baqarah (2):184)

Ibnu ‘Abbas menyatakan, “maksudnya adalah lelaki jompo, atau wanita tua renta yang tidak mampu melakukan puasa. Maka mereka berkewajiban memberi makan seorang miskin sebagai ganti tiap sehari yang dia tinggalkan.” HR al-Bukhary (4505)

Dalam Fatawa al-Lajnah al-Da’imah (10/198) juga disebutkan:

“Jika para dokter telah memvonis bahwa penyakit yang anda derita yang menyebabkan anda tidak mampu puasa ini bersifat menahun, tidak bisa diharapkan sembuh, maka yang menjadi kewajiban anda adalah memberi makan seorang miskin sebagai ganti per hari yang anda tinggalkan. Yaitu berupa bahan makanan pokok penduduk sekitar, sejumlah setengah sha’. Bisa berupa kurma atau selainnya. Bisa ditunaikan sebelum ataupun sesudah ramadhan. Kalaupun anda mentraktir si miskin untuk makan siang atau makan malam bersama anda, sejumlah hari yang wajib anda tunaikan, maka itu pun cukup. Namun jika berupa sejumlah uang maka tidak sah.”

Maka orang yang telah lanjut usia maupun orang yang sakit menahun, tidak ada harapan sembuh, mereka harus mengganti puasanya, setiap hari yang dia tingalkan diganti dengan memberi makan seorang miskin. Yaitu sejumlah ½ sha’ berupa bahan makanan; gandum, korma, beras, atau semisalnya. ½ sha’ itu setara sekitar 1,5 kilogram. (Lih: “Fatawa Ramadhan” hal. 545)

Fidyah ini boleh ditunaikan semuanya di akhir bulan, sehingga terkumpul sejumlah 45 kg (1,5 kg x 30 hari) dalam bentuk beras misalnya. Jika beras ini diolah menjadi makanan lalu diundanglah 30 orang miskin untuk makan, maka bagus juga. Hal itu sebagaimana dicontohkan oleh Anas radhiyallahu’anhu.

Kedua:

Jika anda sudah menunaikan pembayaran fidyah dalam bentuk sejumlah uang, dengan berdasar fatwa ulama yang membolehkan hal itu. Maka anda tidak perlu mengulang pelaksanaannya. Tapi jika itu anda lakukan tanpa dasar, hanya inisiatif pribadi, maka anda wajib mengulangnya sesuai cara yang sah sebagaimana dijelaskan di atas. Demikian itu langkah yang lebih hati-hati dan lebih bernilai birrul walidain sebagai bentuk bakti kepada ayah anda yang sudah meninggal itu. Semoga Allah merahmati beliau dan mengampuninya.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/93243

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here