Puasa Kafarat Tanpa Berpatokan Pada Bulan Hijriyah

0
72

Soal:

Ada seseorang yang diwajibkan melaksanakan kafarat karena sebab jima’ di bulan Ramadhan, dan ia harus melaksanakan puasa selama enam puluh hari.

Namun ketika memulai puasanya, ia memulainya pada awal bulan November dengan niat melaksanakan puasa selama dua bulan, yaitu November dan Desember. Atau dengan kata lain: ia mengikuti penanggalan miladiyah.

Namun setelah mempelajarinya, ia mendapati bahwasanya pelaksanaan kafarat harus sesuai dengan penanggalan qamariyah. Apa yang harus ia lakukan setelah diketahui bahwasanya ia memulai puasa pada tanggal 1 November 2007?

Jawaban:

Seseorang yang berpuasa, apabila ia membatalkan puasanya dengan jima’ yang disengaja, maka wajib atasnya untuk melaksanakan kafarat.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

“Ketika kami tengah duduk di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki, lalu berkata: ‘Wahai Rasulullaah, sungguh aku telah binasa.’

Beliau bertanya: ‘Ada apa denganmu?’

Ia menjawab: ‘Saya telah menggauli istriku dalam keadaan berpuasa.’

Maka Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apakah engkau mempunyai budak untuk dimerdekakan?’

Ia menjawab: ‘Tidak.’

Beliau kembali bertanya: ‘Apakah engkau sanggup melaksanakan puasa selama dua bulan berturut-turut?’

Ia menjawab: ‘Tidak.’

Beliau kembali bertanya: ‘Apakah engkau sanggup memberi makan enam puluh orang miskin?’

Ia menjawab: ‘Tidak.’

Lalu Rasulullah diam sebentar. Dan dalam keadaan seperti ini, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diberi satu ‘irq (alat takar) yang berisi kurma, maka  Beliau berkata: ‘Mana orang yang bertanya tadi?’

Ia menjawab: ‘Sayalah orangnya.’

Beliau berkata lagi: ‘Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!’” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (1936) dan Muslim (1111)).

Maka kafarat berpuasa itu haruslah berlangsung selama dua bulan berturut-turut.

Dan penetapan batasan dua bulan ini haruslah berpatokan dengan hilal, karena dalam syariat ini yang dimaksud dengan bulan adalah apa yang ditetapkan berdasarkan hilal.

Allah Ta’ala berfirman:

 يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Artinya:

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hilal. Katakanlah, “Itu adalah (penunjuk) waktu bagia manusia dan (ibadah) haji.” ( al-Baqarah :189)

Syaikh ‘Abdurrahman al-Sa’dy rahimahullahu berkata:

“Maksudnya: Allah dengan kelembutan dan rahmat-Nya telah merancang pengaturannya berjalan seperti ini, dan hilal akan tampak lemah (kecil) pada awal bulan, kemudian terus bertambah sampai kepada setengah ukurannya, kemudian dari ketidaksempurnaan itu menuju kepada kesempurnaan. Demikianlah, agar manusia mengetahui waktu-waktu ibadah mereka berupa puasa, waktu menunaikan zakat, kafarat, dan waktu menunaikan ibadah haji.” (Lih: Tafsir al-Sa’dy, hal. 88).

Dan penanggalan hilal (qamariyah) terkadang berjumlah 29 hari dan terkadang berjumlah 30 hari, dan tidak akan lebih dari itu.

Maka kafarat berpuasa dua bulan berturut-turut tidak selamanya berjumlah 60 hari, bahkan bisa saja hanya berjumlah 58 hari, dan bisa juga hanya berjumlah 59 hari, dan dalam keadaan normalnya berjumlah 60 hari. (Lih: al-Syarh al-Mumti’ 6/413-414).

Berdasarkan hal ini, maka apabila orang yang berkewajiban melaksanakan kafarat telah melakukan puasa selama enampuluh hari, maka bisa dipastikan dia telah berpuasa selama dua bulan, dan kafaratnya tetap sah dengan tanpa masalah.

Berkata Ibnu al-Mundzir rahimahullaahu:

“Dan para ulama yang kami menghafal (belajar) dari mereka telah bersepakat (ijma’) bahwasanya barangsiapa yang berpuasa tanpa (berpatokan) hilal, maka puasa selama enampuluh hari telah mencukupinya.” (Lih: al-Isyraf 5/308).

Maka kesimpulannya, bahwasanya kafaratnya tetaplah sah dan tidak ada masalah di dalamnya.

Wallaahu a’lam.

 

Link : https://islamqa.info/ar/283122

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here