Puasa Membuatnya Lemah Dan Turun Berat Badan; Bolehkah Tidak Puasa Karenanya?

  • 3 min read
  • Jun 02, 2018

Pertanyaan:

Saya berumur 23 tahun. Berat badan saya sangat rendah sekali jika dibandingkan dengan umur saya. Berat badan saya hanya mencapai 50 kg saja. Pertanyaan saya tentang kekhususan puasa pada bulan Ramadhan. Saya sudah pergi ke beberapa orang dokter hanya khusus memeriksakan berat badan saya. Mereka mengatakan bahwa  ini merupakan sesuatu yang biasa saja dan saya  tidak menerita penyakit apapun.

Ketika saya berpuasa, saya merasa sangat lemah pada jam-jam pertama dari puasa ini. Sehingga yang saya lakukan ketika berpuasa hanyalah menetap di rumah dan tidur, sebab saya tidak memiliki kemampuan untuk berjalan. Ibu saya berkata bahwa saya tidak memiliki penyakit, namun saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

Allah memberikan keringanan bagi seorang yang sakit untuk membatalkan puasanya pada bulan Ramadhan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi Anda, dan tidak menghendaki kesukaran bagi Anda. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Yang termasuk dikategorikan sebagai seorang yang sakit adalah seorang yang khawatir akan sakit karena melakukan puasa.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam al-Mughni (4/403):

“Sakit yang menjadikan seseorang boleh membatalkan puasanya adalah sakit keras yang akan bertambah jika seseorang menjalankan ibadah puasa atau dikhawatirkan proses kesembuhannya akan melambat. Seorang yang sehat dan khawatir akan jatuh sakit jika ia berpuasa, hukumnya seperti seorang yang sakit dan khawatir bertambah parah sakitnya dalam pembolehan membatalkan puasa.”

Sakit diketahui dengan adanya informasi dari dokter yang terpercaya atau berdasarkan pengalaman orang itu sendiri. Sehingga ketika ia berpuasa ia dapat merasakan merasakan puasa dapat membahayakannya atau sesuatu yang amat berat.

Anda telah menyebutkan bahwa Anda tidak menderita sakit apapun. Demikian pula para dokter telah berkata pada Anda bahwa turunnya berat badanmu itu merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja dan bukan disebabkan penyakit.

Oleh karenanya, jika beban yang Anda rasakan karena puasa yang amat berat bagi Anda, maka ini akan menjadi udzur bagi Anda dalam meninggalkan puasa. Namun jika Anda bisa bersabar dari beban itu dan Anda jadi terbiasa dengannya, maka wajib bagi Anda untuk berpuasa.

Para ulama  yang tergabung dalam Komisi Tetap Untuk Fatwa dan Riset Ilmiyah pernah ditanya:

“Saya memiliki seorang anak yang lemah fisiknya, sedangkan bulan Ramadhan telah tiba. Ibunya melarangnya berpuasa selama dua tahun, kemudian anak itu meninggal dunia sementara ia punya utang puasa 2 tahun. Aku ingin bertanya, apakah ibunya memiliki dosa dalam hal ini, sebab dialah penyebab hal ini. Apakah ibunya wajib mengqadha’ puasa anak kami?”

Mereka menjawab:

“Jika anak ini tidak dapat berpuasa karena kelemahan fisiknya, maka dia dihukumi sebagai seorang yang sakit. Oleh karenanya, ibunya tidak berdosa karena telah melarangnya berpuasa pada bulan Ramadhan.

Jika lemah fisiknya itu terus berlanjut dan ia tidak memiliki kemampuan untuk puasa hingga meninggal dunia, maka ibunya tidak wajib mengqadha’ puasa anaknya.

Adapun jika seandainya anak itu kuat untuk berpuasa walau fisiknya lemah tanpa ada beban berat yang bisa memburukkan keadaannya, namun hal itu tidak bermasalah baginya, maka ibunya telah berdosa karena telah melarangnya berpuasa pada bulan Ramadhan. Sehingga disyariatkan mengqadha’ puasa untuknya. Dan yang utama mengqadha’ puasa untuknya adalah ibunya, karena ia yang menjadi sebab akan utang puasa ini.” (Lih: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah: 10/376)

Nasehat saya kepada Anda sebelum Anda membatalkan puasa Anda: hendaklah Anda melakukan apa saja yang bisa menguatkan Anda dapat menyempurnakan puasa, seperti makan sahur di akhir malam. Anda juga tidak boleh memaksakan diri untuk melakukan kerja yang berat pada siang hari di bulan Ramadhan. Ambillah waktu untuk tidur dan istrahat. Minta saranlah kepada seorang dokter yang ahli tentang kasusmu ini. Semoga ia bisa memberikan kepadamu beberapa obat, yang bisa membantumu untuk melakukan puasa.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/140246