Puasanya Orang yang Melihat Hilal Seorang Diri

0
133

Pertanyaan:

Seseorang dapat melihat hilal Ramadhan seorang diri, apakah dia harus berpuasa? Jika demikian, apa dalilnya?

Jawaban:

Siapa yang melihat hilal Ramadhan atau Syawal seorang diri, lalu dia memberitahu hakim atau penduduk negeri, namun mereka tidak menerima persaksiannya, apakah dia harus berpuasa seorang diri ataukah dia harus berpuasa bersama masyarakat?

Dalam hal ini ada tiga pendapat para ulama:

Pendapat pertama, dia mengamalkan rukyatnya sendiri dalam dua kasus; berpuasa di awal Ramadhan dan berlebaran seorang diri. Ini merupakan pendapat madzhab Syafi’i.

Akan tetapi, dia harus melakukannya secara diam-diam agar tidak tampak perselihannya dengan masyarakat, dan agar tidak menimbulkan prasangka buruk ketika orang-orang melihatnya berbuka sedangkan mereka masih berpuasa.

Pendapat kedua, hendaknya dia beramal berdasarkan rukyatnya sendiri di awal Ramadhan sehingga dia berpuasa seorang diri. Adapun di akhir bulan, dia tidak mengamalkan rukyatnya, tapi berlebaran bersama masyarakat.

Ini merupakan madzhab Jumhur ulama, yaitu Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad bin Hambal rahimahumullah.

Pendapat ini dipilih oleh Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata,

“Ini di antara bentuk kehati-hatian. Maka kita telah berhati-hati dalam berpuasa dan berlebaran. Dalam hal puasa, kami katakan kepadanya: ‘Berpuasalah’. Sedangkan dalam berlebaran, kami katakana: ‘Jangan lebaran dulu tapi (tetaplah) berpuasalah’.” (Lihat: al-Syarh al-Mumti’, 6/330).

Pendapat ketiga, ia tidak mengamalkan rukyatnya sendiri untuk berpuasa dan berlebaran, maka dia  harus berpuasa dan berlebaran bersama masyarakat. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad rahimahullah dalam salah satu riwayatnya. Juga dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan beliau berlandaskan pada banyak dalil.

Beliau berkata, “Pendapat ketiga, yaitu mengawali dan mengakhiri Ramadhan bersama masyarakat. Inilah pendapat terkuat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

صومكم يوم تصومون ، وفطركم يوم تفطرون ، وأضحاكم يوم تضحون

“Berpuasalah kalian pada hari mereka berpuasa, dan berbukalah kalian pada hari mereka berbuka, dan berkurbanlah pada hari mereka berkurban.” (HR. al-Tirmizi, dia berkata: “(Hadits ini) hasan gharib”. Dan diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan Ibnu Majah).

Al-Tirmizi meriwayatkan dari hadits Abdullah bin Ja’far dari Utsman bin Muhammad, dari al-Maqbury, dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الصوم يوم تصومون ، والفطر يوم تفطرون ، والأضحى يوم تضحون

“Puasa adalah hari mereka berpuasa dan berbuka adalah hari mereka berbuka dan berkurban adalah hari mereka berkurban.”

Al-Tirmizi berkata, “Ini adalah hadits hasan gharib.” Dia berkata, “Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan berkata, ‘Yang dimaksud adalah bahwa berpuasa dan berlebaran bersama masyarakat dan mayoritas masyarakat.”  (Lih: Majmu’ Fatawa, 25/114).

Beliau juga berdalil bahwa seandainya seseorang melihat hilal bulan Dzulhijjah seorang diri, namun tidak ada seorang pun dari ulama yang menanggapinya, maka dia wukuf di Arafah seorang diri.

Dia menyebutkan bahwa akar masalahnya adalah bahwa Allah Ta’ala mengaitkan hukum dengan hilal dan bulan, Allah Ta’ala berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (QS. al-Baqarah: 189).

Hilal adalah nama untuk sesuatu yang diumumkan sehingga semua orang tahu tentang itu. Jika hilal telah terbit di langit, namun belum diketahui orang dan belum mereka umumkan, maka dia belum disebut hilal.

Demikian pula dengan الشهر atau bulan berasal dari kata الشهرة yang berarti “terkenal”, jika perkara tersebut belum dikenal di tengah manusia, maka bulan itu belum dikatakan masuk.

Banyak orang yang keliru seperti dalam masalah ini, karena mereka mengira bahwa apabila hilal telah tampak di langit, maka malam itu merupakan awal bulan, baik dia tampak oleh orang-orang dan mereka umumkan ataupun tidak.

Padahal tidak demikian, karena bulan itu harus tampak dan orang-orang mengumumkannya. Karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

صومكم يوم تصومون ، وفطركم يوم تفطرون ، وأضحاكم يوم تضحون

“Berpuasalah pada hari kalian berpuasa, dan berbukalah pada hari kalian berbuka dan berkurbanlah pada hari kalian berkurban.”

Maksudnya hari ini yang kalian ketahui adalah waktu puasa, lebaran, dan idul Adha. Jika kalian belum mengetahuinya maka tidak ada hukum yang didasarkan padanya. (Lihat: Majmu’ Fatawa (25/202).

Lihat juga pandangan ulama-ulama madzhab dalam kitab al-Mughni, 3/47-49; al-Majmu’, 6/290; al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/18.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/66176

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here