Ringkasan Cara Menghajikan Orang Lain

0
98

Soal:

Saya ingin berhaji pada tahun ini menggantikan ayah saya yang telah wafat. Perlu diketahui bahwa saya sudah berhaji beberapa tahun yang lalu, maka saya mohon diberikan penjelasan tentang cara terbaik untuk menunaikan haji sesuai dengan Sunnah. Apa perbedaan antara model-model ibadah haji? Dan mana yang paling utama untuk dikerjakan oleh seseorang untuk dirinya?

Jawaban:

Berikut ini ringkasan apa yang harus dilakukan oleh orang ingin berhaji sesuai dengan al-Sunnah yang shahihah:

  1. Pada hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, jamaah haji berihram dari Mekkah atau dari dekat wilayah al-Haram, dalam ihram haji itu hendaknya ia mengerjakan apa yang dikerjakannya saat berihram untuk umrah, yaitu: mandi, memakai wewangian dan shalat, lalu berniat untuk ihram haji dan bertalbiyah. Cara bertalbiyah dalam haji sama dengan cara bertalbiyah dalam umrah, hanya saja di sini ia mengucapkan: “Labbaika hajjan” sebagai ganti dari ucapan: “Labbaika ‘umrah” (yang diucapkan untuk umrah). Jika ia khawatir ada halangan yang menghalanginya untuk menyempurnakan hajinya, hendaknya ia mempersyaratkan diri dengan mengucapkan: “Wa in habasani haabisun, fa mahallii haitsu habastanii” (Artinya: Dan jika ada halangan yang menghalangiku, maka tempat tahallul-ku adalah dimana Engkau menahanku.”

Namun jika ia tidak khawatir dengan adanya halangan itu, maka ia tidak perlu mempersyaratkan diri untuk itu.

  1. Kemudian ia pergi ke Mina, lalu bermalam di sana dan mengerjakan shalat 5 waktu di sana: Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh.
  2. Jika matahari telah terbit pada hari ke-9, hendaknya ia bergerak menuju Arafah, dan mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar secara qashar dan menjamaknya di sana, lalu bersungguh-sungguh berdoa, berdzikir dan beristighfar hingga matahari terbenam.
  3. Jika matahari telah terbenam, ia pun bergerak menuju Muzdalifah. Di sana ia mengerjakan shalat Maghrib dan Isya saat tiba, lalu ia bermalam hingga tiba waktunya shalat Subuh. Kemudian ia berdzikir kepada Allah Ta’ala dan berdoa sampai matahari terbit.
  4. Kemudian ia bergerak menuju Mina untuk melempar Jumrah Aqabah –yaitu jumrah yang paling terakhir dan terdekat dengan Mekkah- sebanyak 7 butir batu kecil seukuran biji kurma kurang lebih, satu demi satu sambil bertakbir pada setiap batu yang dilemparkannya.
  5. Kemudian ia menyembelih hewan hadyu, yaitu seekor kambing, atau sepertujuh bagian dari seekor unta, atau sepertujuh bagian dari sapi.
  6. Lalu ia mencukur habis rambutnya bagi kaum pria. Adapun kaum wanita, maka ia cukup memotong pendek dan bukan mencukur habis. Memotongnya (untuk wanita) sekadar ukuran satu ruas jari untuk semua bagian rambutnya.
  7. Kemudian berangkat ke Mekkah lalu mengerjakan thawaf haji.
  8. Lalu ia kembali ke Mina untuk bermalam di sana selama beberapa malam, yaitu: malam ke 11 dan 12 Dzulhijjah, dan melontar ketiga jumrah setelah matahari tergelincir, masing-masing dengan 7 butir batu satu demi satu. Dimulai dari Jumrah Shughra –yaitu yang paling jauh dari Mekkah-, lalu Jumrah Wustha –dimana ia berdoa setelah melontar di kedua tempat tersebut-, kemudian melintar Jumrah Aqabah tapi tidak ada doa sesudahnya.
  9. Jika ia sudah menyelesaikan lontar Jumrah pada hari ke-12, maka jika ia mau, ia dapat bergegas dan meninggalkan Mina. Tapi jika ia mau, ia dapat menunda dan bermalam 1 malam lagi pada malam ke-13 dan melontar ketiga Jumrah setelah zawal seperti sebelumnya. Dan menunda lebih utama, meskipun tidak wajib, kecuali jika matahari pada tanggal 12 terbenam dan ia masih berada di Mina; maka pada saat itu ia harus tinggal sampai selesai melontar ketiga Jumrah setelah zawal.

Namun jika matahari terbenam pada hari ke-12 dan ia masih berada di Mina tanpa bermaksud untuk itu, seperti: jika ia sudah berangkat dan berkendara namun terlambat keluar akibat kemacetan dan yang semacamnya, maka ia tidak harus tinggal dan menunda keberangkatannya, karena terbenamnya matahari terjadi tanpa dikehendakinya.

  1. Maka apabila hari-hari Tasyriq itu telah berakhir dan ia hendak pulang ke negerinya, ia tidak boleh pergi sampai mengerjakan Thawaf Wada’ di Baitullah sebanyak 7 putaran, kecuali wanita haid dan nifas, keduanya tidak wajib mengerjakan Thawaf Wada’.
  2. Bila seseorang mengerjakan haji sebagai naib (pengganti) untuk orang lain –baik kerabatnya maupun bukan kerabatnya-, maka ia harus terlebih dahulu mengerjakan haji untuk dirinya sendiri sebelumnya. Sifat dan tatacaranya tidak berbeda dari sifat haji (yang telah disebutkan) kecuali pada niatnya, dimana sang penanya berniat untuk haji dan menyebutkan nama orang yang dihajikan dalam talbiyah dengan mengatakan: “Labbaika ‘an Fulan”, lalu dalam doa pada semua manasik ia berdoa untuk dirinya dan mendoakan orang yang dihajikannya.

Kedua:

Adapun jenis-jenis haji ada 3 jenis: tamattu’, qiran dan ifrad.

Haji tamattu’ adalah berihram untuk umrah di bulan haji –yaitu: Syawal, Dzulqa’dah dan 10 hari pertama Dzulhijjah- sampai selesai. Kemudian pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) berihram lagi untuk haji dari Mekkah atau di dekatnya pada tahun yang sama dimana ia berumrah tersebut.

Haji qiran adalah berihram untuk umrah dan haji secara bersamaan, dan ia tidak bertahallul kecuali pada hari Nahr (10 Dzulhijjah), atau ia berihram untuk umrah lalu memasukkan niat hajinya sebelum melakukan thawaf untuk umrah.

Haji ifrad adalah berihram untuk haji dari miqat atau dari Mekkah –jika ia seorang yang mukim di sana-, atau dari tempat yang terletak sebelum miqat, kemudian ia tetap dalam keadaan berihram sampai hari Nahr (10 Dzulhjjah) jika ia membawa hewan hadyu. Namun jika ia tidak membawa hewan hadyu, maka disyariatkan baginya untuk membatalkan hajinya dan mengalihkannya kepada umrah; dimana ia melakukan thawaf, sa’i dan mencukur pendek rambutnya, lalu bertahallul sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka yang berihram untuk haji namun tidak membawa serta hewan hadyu.

Begitu pula dengan yang menunaikan haji qiran jika ia tidak membawa hewan hadyu, ia disyariatkan untuk membatalkan haji qirannya menjadi umrah, berdasarkan yang kami sebutkan.

Sedangkan jenis manasik yang paling utama adalah haji tamattu’ bagi yang tidak membawa hewan hadyu, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dan menegaskannya kepada para sahabatnya.

Kami menyarankan kepada Anda –untuk lebih mengetahui hukum-hukum haji dan umrah- agar merujuk kepada kitab Manasik al-Hajj wa al-‘Umrah karya Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Anda dapat menemukannya di situs resmi  beliau.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/27090

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here