Rukyat yang Jadi Patokan, Bukan Hisab

  • 2 min read
  • May 14, 2018

Pertanyaan:

Ada perselisihan sengit antara ulama dalam menentukan permulaan Ramadhan dan Idul Fitri. Di antara mereka ada yang memilih dengan rukyat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berlebaranlah karena melihatnya.”

Ada pula yang berdasar pada pendapat para ahli astronomi. Mereka berkata, “Para ahli falak telah sampai pada puncak pengetahuan tentang ilmu astronomi, di mana mereka sudah bisa mengetahui permulaan bulan qamariah.”

Manakah pendapat yang paling benar dalam masalah ini?

Jawaban:

Pertama, pendapat yang benar dan wajib beramal dengannya dalam masalah ini adalah apa yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَتِمُّوا ثَلَاثِينَ يَوْمًا

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berlebaranlah karena melihatnya. Jika pandangan kalian terhalangi oleh awan, maka genapkanlah bilangan (hari dalam sebulan menjadi tiga puluh hari).”

Bahwasanya yang menjadi patokan dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan lebaran adalah dengan melihat hilal (secara visual).

Syariat Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersifat universal dan kekal hingga hari kiamat. Dan syariat ini sesuai untuk setiap waktu dan tempat; apakah teknologi semakin canggih atau tidak. Demikian pula, sama saja apakah ada instrumen pendukung atau tidak, apakah di antara penduduk ada yang ahli hisab astronomi atau tidak. Sehingga jika berpedoman kepada rukyat, maka manusia bisa melakukan hal ini sepanjang zaman di negara manapun.

Hal ini berbeda dengan hisab yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Demikian pula instrumen yang tidak selamanya tersedia.

Kedua, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, termasuk bahwa ilmu astronomi dan ilmu-ilmu lainnya akan mengalami perkembangan pesat. Kendati demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala justru berfirman,

“Barang siapa di antara kalian yang melihat bulan maka hendaklah berpuasa (pada bulan itu).” (QS. al-Baqarah: 185).

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam datang dengan penjelasannya,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berlebaranlah karena melihatnya.” (Hadits).

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengaitkan puasa Ramadhan dan hari raya dengan rukyat hilal. Sebaliknya beliau tidak mengaitkannya dengan ilmu hisab padahal Allah Mahatahu bahwa kelak para ahli astronomi akan mengalami kemajuan pesat sehingga mampu menghitung posisi-posisi bintang dan benda-benda langit lainnya.

Maka wajib bagi seorang muslim memilih jalan yang telah Allah syariatkan untuk mereka melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu penentuan puasa dan hari raya berdasarkan rukyatul hilal. Dan hal ini merupakan konsensus dari para ulama.

Adapun mereka yang menyelisihi pendapat mayoritas ulama ini dan lebih cenderung kepada hisab astronomi maka ini adalah pernyataan yang aneh dan tidak bisa dijadikan sandaran.

(Lihat: Fatawa al-Lajnah al-Daimah 10/106).

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/1226

 

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *