Sahkah Ibadah Haji Orang Belum Melunasi Hutangnya?

  • 2 min read
  • Aug 16, 2018
Hutang

Soal:

Saya pergi menunaikan haji pada tahun 1422 H. Tapi saat itu, saya mempunyai hutang kepada beberapa orang. Penyebabnya adalah karena saya memberikan pinjaman kepada beberapa orang, namun mereka menipu saya dan tidak mengembalikannya kepada saya, sementara saya bertanggung jawab untuk mengembalikan dana tersebut.

Saya pernah bertanya kepada seorang Syekh tentang bolehnya berhaji tanpa membayar hutang, dan beliau menjawab bahwa itu boleh saja, karena Anda tahu bahwa Anda akan membayarnya insya Allah.

Bagaimana menurut Anda, apakah haji saya diterima? Karena saya berangkat sebelum melunasi hutang dan tanpa meminta izin dari pihak pemberi hutang.

Jika haji saya tidak diterima, maka apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

Tidak sepatutnya sang penanya menanyakan, begitu pula yang menjawab memberikan jawaban tentang diterima atau tidaknya ibadah di sisi Allah, karena persoalan diterima-tidaknya sebuah ibadah sepenuhnya kembali kepada Allah. Pertanyaan dan jawaban hanyalah bertanya tentang sah-tidaknya serta sempurna-tidaknya syarat dan rukun ibadah-ibadah tersebut.

Barang siapa yang menunaikan ibadah haji sementara ia memiliki hutang pada pihak lain, maka hajinya sah jika memenuhi syarat dan rukunnya. Masalah keuangan atau hutang tidak ada hubungannya dengan sah-tidaknya ibadah haji.

Meskipun yang paling utama bagi orang yang ingin berhaji dalam keadaan berhutang untuk tidak berhaji dan mengalihkan dana hajinya untuk melunasi hutangnya, karena secara syar’i –dengan adanya hutang itu- ia masuk kategori tidak mampu berhaji.

Berikut ini beberapa fatwa ulama al-Lajnah al-Da’imah terkait masalah ini:

  1. Ketika ditanya tentang orang yang berhutang untuk menunaikan ibadah haji, mereka menjawab: “Hajinya sah in sya’aLlah Ta’ala, dan pinjaman Anda itu tidak mempengaruhi sahnya ibadah haji tersebut.” (Lih. Fatawa al-Lajnah al-Da’imah 11/42)
  2. Di antara penjelasan mereka juga adalah:

“Salah satu syarat wajib ibadah haji adalah kemampuan. Dan salah satu wujud kemampuan adalah kemampuan finansial. Sehingga siapa yang memiliki hutang yang harus segera ditunaikan, dimana para pemilik piutang melarangnya berhaji kecuali setelah membayar hutangnya, maka ia tidak wajib berhaji karena ia termasuk orang yang belum mampu. Namun jika pemilik piutang itu tidak menuntutnya (segera membayar hutang-penj) dan ia tahu bahwa mereka bersikap toleran dalam hal itu, maka ia boleh pergi menunaikan haji. Dan boleh jadi ibadah haji itu menjadi jalan kebaikan untuk menunaikan hutangnya.” (Lih. Fatawa al-Lajnah al-Da’imah 11/46)

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/204986