Sakit dan Tidak Kuat Berpuasa

0
99

Pertanyaan:

Istri saya menderita sakit tekanan darah rendah sehingga menyebabkan ia lemah dan tidak mampu berpuasa. Jika ia berpuasa, maka ia akan kelelahan hingga pingsan.

Apa yang wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya?

Apakah boleh mengeluarkan sejumlah uang untuk memberikan makan kepada anak fakir?

Jika boleh, maka bolehkah ia memberikan uang ini kepada yayasan Islam penyalur sedekah yang memberikan perhatian untuk menyiapkan makanan dan membantu negara-negara yang tertekan karena perang?

Jawaban:

Pertama:

Jika penyakit ini tidak selamanya dan masih bisa sembuh, maka waktu kesembuhannya ditunggu dan saat itulah ia berpuasa menggantikan hari-hari yang ditinggalkannya itu.

Adapun jika penyakit itu berlangsung lama dan tampaknya tidak ada harapan lagi untuk sembuh, maka kewajiban untuk mengqadha’nya gugur darinya, sehingga wajib baginya memberi makan kepada orang miskin setiap hari pada bulan ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang selalu pingsan setiap kali hendak ia berpuasa, maka beliau menjawab:

“Jika puasanya adalah sesuatu yang wajib baginya dan ia tertimpa musibah berupa penyakit seperti ini, maka boleh membatalkan puasanya dan menqadha’nya. Jika hal musibah ini menimpanya setiap kali hendak ia berpuasa, maka ia cukup memberikan makanan kepada orang miskin setiap hari satu orang sesuai hari yang ia tinggalkan”. (Lih: Majmu’ Fatawa: 25/217)

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“Seorang yang lemah maka ia tidak wajib berpuasa. Hal ini berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Akan tetapi setelah kita mengamati, maka diketahui bahwa lemah terbagi dalam 2 jenis, yaitu (1) lemah yang sifatnya sementara dan (2) lemah yang bersifat selamanya.

Yang sifatnya sementara suatu saat lemah itu akan hilang, dan inilah yang dimaksud di dalam ayat. Sehingga, seorang yang lemah ini ditunggu hingga ia sehat, setelah itu ia wajib mengqadha’ puasanya. Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla:

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Adapun seorang yang lemah dan bersifat selamanya, maka yang seperti ini dikategorikan sebagai seorang yang tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Sehingga wajib baginya memberi makan setiap hari yang ia tinggalkan itu seoarang yang miskin.” (Lih: al-Syarh al-Mumti’: 6/324-325)

Kedua:

Kadar makanan yang wajib dikeluarkan pada kafarat puasa yaitu memberi makan pada setiap hari yang ditinggalkan seorang yang miskin. Takarannya  sha’ makanan pokok suatu negeri. Yaitu sekitar satu setengah kilogram (  kg) jika ditakar dengan kilo.

Disebutkan dalam Fatawa al-Lajnah al-Da’imah (10/167):

“Cukup bagimu memberi makan setiap hari yang Anda tinggalkan seorang yang miskin. Takarannya setengah sha’ yang mendekati satu setengah kilogram, berupa beras, atau gandum, atau selainnya yang menjadi makanan pokok negeri kalian.”

Ketiga:

Makanan harus diberikan kepada seorang yang miskin, yang tidak memiliki makanan pokok. Oleh karenanya, jika tidak ada orang miskin di negeri kalian, maka bisa diwakilkan pada orang lain yang akan keluar negeri untuk menyalurkan kafarah anda kepada orang-orang miskin.

Allah memerintahkan kita untuk melakukan apa yang kita sanggupi. Contohnya adalah jika pada negeri lain ada orang-orang yang sangat membutuhkan dan mereka memiliki hajat lebih banyak daripada hajat orang-orang yang tinggal di dalam negeri yang kita bermukim di dalamnya, maka boleh dipindahkan pada mereka sedekah dan kafarat tersebut.

 

Sumber: https://Islamqa.info/ar/221924

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here