Seorang yang Selalu Keluar Kota; Apakah Mendapatkan Keringanan Musafir?

0
94

Pertanyaan:

Kami adalah para navigator suatu perusahaan kapal. Kami selalu bepergian dari satu negeri ke negeri lain. Keadaan kami selalu seperti ini dalam kurun waktu 3 atau 4 bulan.

Apakah kami dikategorikan sebagai musafir sehingga bisa mengqashar dan menjamak shalat?

Ketika kami kembali ke kampung halaman dan menunggu kapal untuk bepergian pada hari tersebut, dimana masa tunggunya sekitar 4 jam, apakah kami juga dikategorikan sebagai musafir pada keadaan ini?

Sebagai tambahan informasi bahwa ada beberapa orang pekerja yang tinggal dekat dengan pelabuhan.

Ketika hari istrahat, ada pekerja yang tidak pulang ke rumahnya karena alasan jauh, apakah ia dikategorikan sebagai musafir?

Jika kami dihukumi sebagai musafir, bolehkah kami mengqashar shalat dalam perjalanan kami menuju kapal?

Jawaban:

Pertama:

Para pekerja yang kerjanya selalu bepergian seperti para navigator kapal, masinis kereta, supir mobil angkutan dan pilot pesawat, jika mereka melakukan safar, maka berhak mendapatkan rukhshah (keringanan) safar dalam perjalanan mereka.

Jika mereka telah sampai pada tempat bermukim, maka mereka harus menyempurnakan shalat. Sebab sifat safar telah hilang dari diri mereka, sebagaimana mereka diwajibkan juga untuk menyempurnakan shalat ketika singgah di suatu negeri dan meniatkan mukim disana selama 4 hari atau lebih –berdasarkan pendapat mayoritas ulama- .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“…Boleh mengqashar shalat bagi seorang yang terbiasa melakukan safar pada satu negeri yang ia niatkan menetap di sana, seperti pedagang yang membawa makanan dan selainnya, seorang yang bepergian dengan menunggangi keledai dengan membawa barang-barangnya, atau seorang pembawa surat yang memberi maslahat bagi kaum muslimin, atau para navigator kapal yang memiliki tempat tinggal di darat.

Adapun orang-orang yang hidup di atas kapal bersama istrinya dengan memiliki seluruh perlengkapan yang bisa memenuhi keperluan dirinya dan selalu bepergian dalam kondisi seperti itu, maka mereka tidak boleh mengqashar dan membatalkan puasanya.” (Lih: Majmu’ Fatawa: 25/213)

Syaikh Abd al-Aziz bin Baz rahiamhullah pernah ditanya:

“Bagaimana hukum seorang laki-laki yang selalu bepergian, seperti supir antar kota. Apakah yang lebih utama baginya mengqashar shalat atau menyempurnakannya? Dan dalam keadaan itu, bisakah ia mendapatkan beberapa rukhshah safar?”

Beliau menjawab:

“Seorang pekerja yang memang aktifitasnya selalu bepergian, seperti supir taksi atau penunggang unta, jika ia melakukan safar dengan menunggangi unta seperti yang terjadi pada masa lalu, maka ia boleh menjamak shalat selama ia melakukan safar.

Jika ia telah sampai di negerinya, maka ia tidak boleh menjamak dan mengqashar. Jika ia juga telah sampai pada suatu negeri yang ia niatkan menetap di sana lebih 4 hari, maka ia tidak boleh menjamak dan mengqashar. Adapun jika selama berada dalam kondisi safar, atau dalam hukum safar dan tabiatnya selalu bepergian, maka ia berhak mendapat rukhshah safar berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits. Kedua kondisi tadi dan yang lainnya berhak mendapatkannya.

Olehnya, seseorang yang terbiasa melakukan safar karena perkerjaannya sebagai seorang penunggang unta atau supir taksi, maka ia boleh mengqashar shalatnya ketika safar dan di tempat ia bermukim pada suatu negara, jika mukimnya itu hanya 4 hari atau lebih kurang dari itu.” (Lih: Fatawa Nur ‘ala al-Darb)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“Mengqashar shalat berhubungan dengan safar. Olehnya, selama seseorang melakukan safar, maka ia disyariatkan mengqashar shalatnya, baik ia sering melakukan safar atau jarang melakukannya, jika ada satu daerah yang menjadi tempat ia menetap disana dan ia mengetahui bahwa itu adalah daerahnya.

Dari sini, seorang supir truk mendapat keringanan safar berupa bolehnya mengqasharshalat, mengusap khuf selama 3 hari 3 malam, tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan beberapa keringanan lainnya yang masuk dalam kategori rukhshah safar.” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin: 15/264)

Oleh karena itu, kalian boleh melakukan rukhshah safar pada dua keadaan, yaitu saat kalian bepergian ke dua negara yang kalian sebutkan pada pertanyaan ini dan saat kalian menetap di negara itu selama kurang dari 4 hari, berdasarkan pendapat mayoritas ulama.

Kedua:

Adapun mengqashar shalat di pelabuhan, maka hal ini memiliki beberapa keadaan:

Pertama: seorang pegawai perusahaan itu berasal (bermukim) dari daerah lain dan bukan termasuk penduduk kota pelabuhan tersebut. Keadaan seperti ini dihukumi sebagai seorang musafir. Tidak ada beda untuknya antara pelabuhan yang ada di daerahnya atau di daerah yang lain. Yang menjadi patokan adalah tempat mukimnya.

Kedua: ia bermukim di kota dimana pelabuhan berada dalam wilayah kota tersebut. Dalam kondisi ini, jika seseorang telah sampai di pelabuhan kota tersebut, maka terputuslah padanya hukum safar. Sehingga ia tidak mendapat rukhshah safar; berupa qashar shalat, jamak dan keringanan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.

Jika ia baru memulai safarnya, tidak boleh baginya melaksanakan satupun dari rukhshahitu selama ia berada di pelabuhan. Yang dibolehkan baginya adalah melakukan rukhshahsafar jika telah berada di perbatasan kota yang ia tinggal.

Ketiga: Ia bermukim pada daerah yang memiliki pelabuhan, namun pelabuhan itu berada di luar perbatasan kota dan tidak bersambung dengan tempat tinggal penduduk. Kondisi seperti ini tidak menghilangkan hukum safar padanya hanya karena ia telah sampai di pelabuhan. Ia boleh melakukan rukhshahrukhshah safar, sampai ia masuk perbatasan kota.

Jika ia baru mulai melakukan safar, maka ia melakukan rukhshah safar itu ketika meninggalkan perbatasan daerahnya, walau ia berada di pelabuhan, atau tempat selain itu.

 

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/192168

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here