Shalat Tahajud Berjamaah Dengan Keluarga

0
109

Soal:

Saya berniat menghidupkan malam Qadar (Lailatul Qadar) di masjid, tetapi  belum mampu. Lantas saya pun shalat tarawih di rumah berjamaah bersama istri dan anak-anak. Apakah shalat saya ini sah?

Pertanyaan kedua: Saya shalat 12 rakaat mengimami keluarga, namun saya membacanya dengan suara lirih tidak mengeraskannya. Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Pertama:

Shalat Tarawih di rumah dibolehkan, tidak berdosa, hanya saja mengerjakannya di masjid secara berjamaah lebih utama. Para ulama di Komite al-Lajnah al-Da’imah pernah ditanya:

“Pada bulan Ramadhan, di waktu shalat tarawih, apakah saya harus pergi ke masjid atau shalat di rumah, saya hanya seorang makmum bukan imam, dan saya suka membaca al-Qur`an serta mendengar bacaanku sendiri. Apakah berdosa bila saya shalat di rumah, maksudnya shalat tarawih?”

Mereka menjawab:

“Tidak masalah, Anda shalat tarawih di rumah, karena ia hukumnya sunnah, tetapi mengerjakannya dengan imam di masjid lebih utama, sebagai bentuk penerapan kita terhadap sunnah Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– dan para sahabatnya –Radhiyallahu ‘anhum-.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– kepada para sahabatnya, tatkala beliau mengimami mereka shalat tarawih pada beberapa malam hingga sepertiga malam dan di antara sahabat ada yang mengatakan: ‘Sekiranya Anda shalat sunnah bersama kami sepanjang malam’,

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka Allah akan mencatatnya sebagai shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad (5/159) dan status sanadnya hasan dari haditsnya Abu Dzar –Radhiyallahu ‘anhu-.”

(Lih: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah, 7/201-202).

Kedua:

Shalat tarawih termasuk shalat yang dikerjakan dengan bacaan keras, sebagaimana tertera dalam riwayat hadits dari para sahabat –Radhiyallahu ‘anhum– tentang shalat tarawih di masa khalifah Umar bin al-Khathab –Radhiyallahu ‘anhu– , yang Ubay bin Ka’ab dan sahabat lainnya pun pernah menjadi imam dan memanjangkan bacaannya.

Akan tetapi, membaca dengan suara keras dilakukan pada shalat yang memang disyariatkan membaca keras, dan dengan suara lirih dilakukan pada shalat yang disyariatkan bersuara lirih, ini berlaku bagi imam hukumnya sunnah, tidak wajib. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan mazhab imam Maliky, Syafi’y, dan Hanbaly.

Di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (16/188) disebutkan,

“Mayoritas ulama berpendapat, bahwa mengeraskan bacaan di shalat Jahriyah dan melirihkan bacaan di shalat lirih termasuk dari rangkaian sunnah dalam shalat. Sementara mazhab Hanafy berpendapat, bahwa mengeraskan bacaan di dalam shalat Jahriyah dan melirihkan di shalat lirih hukumnya wajib.”

Di dalam Nur ‘ala ad-Darb (ash-Shalah/ 218) Syekh Ibn Utsaimin –Rahimahullah– berkata,

“Mengeraskan bacaan dalam shalat Jahriyah bukanlah wajib, namun memang ia lebih utama. Jika seseorang membaca dengan suara lirih dalam shalat Jahriyah maka shalatnya tetap sah; karena Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ

‘Seseorang belum dikatakan telah shalat bila tidak membaca Umm al-Qur`an (surat al-Fatihah)’.”

Sebenarnya bacaan itu sendiri tidak membatasi seseorang untuk membaca secara keras atau lirih, sehingga bila seseorang membaca dengan suara keras atau lirih, maka ia telah menunaikan kewajibannya. Akan tetapi lebi baik, jika ia membacanya dengan suara keras di saat memang sunnahnya keras, seperti pada dua rakaat pertama shalat Maghrib dan Isya, serta dalam dua rakaat shalat Subuh.

Apabila ada seseorang menjadi imam dan sengaja tidak mengeraskan bacaannya, namun kurang sempurna. Adapun bila seseorang shalat sendiri dalam shalat yang sunnahnya mengeraskan bacaan, maka ia boleh memilih antara mengeraskan atau melirihkan bacaan, dan dilihat pula pilihan manakah yang lebih membuat dirinya khusyuk, maka ia lakukan.”

Di dalam Fatawa al-Lajnah al-Da’imah (6/392) disebutkan,

“Disebutkan secara valid dalam sebuah hadits, bahwa Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– mengeraskan bacaannya dalam dua rakaat shalat Subuh, dua rakaat pertama shalat Maghrib dan Isya. Dan hukum mengeraskan suara di dalam shalat-shalat tersebut sunnah.

Sebagai umat beliau, maka kita disyariatkan agar meneladani beliau, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala,

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Dan berdasarkan hadits shahih dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– ,

صَلُّوا كَمَا رَأَيتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihatku shalat.”

Jika seseorang membaca lirih pada shalat yang sunnahnya membaca keras, maka ia telah meninggalkan sunnah, namun shalatnya tetap sah.”

Kesimpulannya: Shalat Anda tetap sah, dan tidak ada masalah.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/81146

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here