Shalat Witir Dengan 2 Kali Tasyahhud Dan 1 Salam Serta Qunut Sebelum Ruku’

0
43

Soal:

Di Islamic Centre tempat saya shalat bermazhab Hanafy,  mereka shalat witir 3 rakaat, di saat rakaat kedua mereka duduk tasyahud dan tidak salam, lalu bangkit melanjutkan rakaat ketiga. Kemudian setelah membaca al-Fatihah dan surat pilihan, mereka takbir namun tidak ruku’, tetapi membaca doa tahajud secara lirih, kemudian takbir kedua kalinya sebelum ruku’.

Apakah tata cara ini benar? Bila ternyata keliru, apa yang harus saya perbuat?

Jawaban:

Pertama:

Tata cara yang dilakukan oleh imam dan makmum lainnya dalam shalat witir 3 rakaat dengan dua tasyahud dan satu salam, serta doa qunut yang dibaca sebelum ruku’, kedua hal tersebut termasuk permasalahan populer yang diperselisihkan antara Madzhab Hanafy dan mayoritas ulama. Shalat witir dengan tata cara itu hukumnya makruh, karena shalat witir 3 rakaat mempunyai dua tata cara yang disyariatkan yaitu:

Pertama: Mengerjakan 3 rakaat secara berturut-turut dengan sekali tasyahud dan satu salam.

Kedua: Shalat dua rakaat kemudian salam, lalu shalat lagi satu rakaat.

Sedangkan witir 3 rakaat dengan cara dua kali tasyahud dan sekali salam, ada hadits yang melarangnya, minimal hukumnya makruh.

Adapun terkait bacaan qunut sebelum ruku’, memang tertera dalam sebuah hadits shahih menunjukkan hal itu, dan bagi yang berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah ruku’ juga mempunyai dalil tersendiri. Masalah ini tidak boleh diingkari terlebih ditentang, atau lebih buruk lagi yaitu tidak bermakmum di belakang imam tersebut.

Kedua:

Anda boleh shalat di belakang mereka, sekalipun tata caranya seperti yang Anda sebutkan tadi, karena apa yang mereka lakukan itu merupakan taklid dari seorang imam mujtahid, maka tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat di belakang mereka, atau berpecah belah di antara kalian, terlebih kalian berada di negara kafir, dan apa yang kalian perbuat semuanya memiliki catatan masing-masing dalam islam.

Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah –Rahimahullah– menuturkan,

“Mereka (para ulama) berselisih pendapat mengenai suatu permasalahan, yaitu jika seorang imam tidak mengerjakan apa yang diyakini makmum sebagai kewajiban,

Contohnya: Imam tidak membaca basmalah, sedangkan makmumnya meyakininya wajib, atau imam yang menyentuh kemaluannya tidak berwudhu lagi, sementara makmumnya berkeyakinan wajib berwudhu lagi lantaran batal. Atau imam shalat di atas hamparan kulit bangkai yang sudah disamak, sedangkan makmumnya meyakini bahwa menyamak tidak membuat kkulit bangkai menjadi suci.

Atau imam yang berbekam tidak wudhu lagi, sementara makmumnya meyakini bahwa orang yang berbekam harus wudhu kembali, pendapat yang benar dan meyakinkan ialah: bahwa shalatnya makmum tetap sah di belakang imamnya, sekalipun imamnya keliru dalam satu permasalahan, hal ini berdasarkan hadits shahih dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bahwasanya beliau bersabda,

يُصَلُّونَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

‘Mereka shalat mengimami kalian, apabila mereka benar maka kalian dan mereka tetap mendapat pahala, namun jika mereka keliru, maka kalian tetap mendapat pahala, sedangkan mereka tidak’.

Begitu juga, bila makmum mengikuti imam yang qunut dalam shalat Subuh atau witir, maka ia tetap qunut bersamanya, baik itu qunut yang dilakukan sebelum ruku’ atau sesudahnya. Jika imamnya tidak qunut, maka tidak qunut pula. Seandainya seorang imam menganggap suatu amalan hukumnya sunnah, sementara makmumnya tidak meyakininya, maka bila sang imam meninggalkannya demi menjaga persatuan dan keselarasan, hal itu akan lebih baik.

Contohnya: Shalat witir, dalam masalah ini ada tiga pendapat ulama:

Pertama: Witir harus dikerjakan 3 rakaat secara berturut-turut, layaknya shalat Maghrib, ini seperti pendapatnya ulama Irak.

Kedua: Witir harus ada satu rakaat terpisah setelah beberapa rakaat sebelumnya, ini seperti pendapatnya ulama Hijaz.

Ketiga: Kedua tata cara di atas boleh dikerjakan, sebagaimana yang tertera dalam mazhab Syafi’y, Ahmad, serta yang lainnya, dan inilah pendapat yang benar, meskipun mereka lebih memilih untuk memisahkan satu rakaat terakhir.

Apabila imam berpendapat untuk memisah satu rakaat terakhir, namun para makmum lebih meyakini bahwa shalat witir itu seperti Maghrib, lantas sang imam mengikuti keyakinan mereka, bertujuan untuk mengambil hati mereka, maka ini pun lebih baik. Sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– kepada Aisyah,

لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكَ حَدِيثُوْ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ وَلأَلْصَقْتُهَا بِالْأَرْضِ ولجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ بَاباً يَدْخُلُ النَّاسُ مِنْهُ وَ بَاباً يَخْرُجُوْنَ مِنْهُ

Kalaulah bukan lantaran kaummu baru masuk islam, niscaya aku akan merobohkan Kabah dan aku bangun kembali, lalu aku buat dua pintu, yang satu untuk masuk dan kedua untuk keluar orang-orang’. Beliau pun meninggalkan hal yang lebih utama, agar orang-orang tidak membenci beliau.  (Lih: Al-Fatawa al-Kubra, 2/476)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/66613

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here