Suami Melarang Istrinya Beri’tikaf

  • 3 min read
  • May 31, 2018

Pertanyaan:

Apakah termasuk hak suami melarang istrinya melakukan i’tikaf?

Jawaban:

Seorang istri tidak diperbolehkan beri’tikaf kecuali atas izin suaminya. Karena ketika ia beri’tikaf di masjid berarti ia meninggalkan hak suaminya.

Jika sang suami telah memberi izin, maka dia boleh menarik izinnya kembali dan boleh menyuruh istrinya keluar dari i’tikaf.

Ibnu Qudamah (al-Mughni, 4/485) mengatakan:

“Seorang istri tidak diperbolehkan beri’tikaf kecuali atas izin suaminya. Dan jika sang suami telah mengizinkan, kemudian dia ingin mengeluarkan istrinya dari i’tikaf setelah sang istri memulai i’tikafnya, maka hal itu dibolehkan baginya, itu jika i’tikaf yang istri lakukan bersifat sunnah, sebagaimana pendapat Imam al-Syafi’i.

Sedangkan jika yang dilakukan adalah i’tikaf wajib karena nadzar, maka dia tidak diperkenankan untuk mengeluarkan istrinya karena ia telah memulai i’tikaf dan diwajibkan bagi sang istri untuk menyempurnakannya seperti halnya dalam ibadah haji jika dia telah memulai berihram.”

Terdapat dalil dari sunnah yang menunjukkan dibolehkannya suami melarang istrinya untuk beri’tikaf kecuali atas seizinnya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhary, 2033 dan Muslim, 1173 dari ‘Aisyah Radhiyallahu ’anhaberkata:

“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ingin beri’tikaf, beliau shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikafnya. Dan beliau meminta untuk dibuatkan tenda maka dibuatkanlah. Ketika beliau ingin beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, Zainab meminta untuk dibuatkan tenda dan istri-istri beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam juga meminta untuk dibuatkan tenda maka mereka pun dibuatkan.

Ketika Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam telah selesai shalat fajar melihat banyak tenda, beliau bersabda, ‘Apakah betul ketaatan yang kalian inginkan?’ Kemudian beliau memerintahkan membongkar tendanya dan meninggalkan i’tikaf pada bulan Ramadhan sampai ia beri’tikaf pada sepuluh pertama bulan Syawal.”

Dalam riwayat al-Bukhary bahwa:

“’Aisyah meminta izin (untuk beri’tikaf) dan ia diberi izin. Kemudian Hafshah meminta ‘Aisyah untuk memintakan izin untuknya dan ‘Aisyah pun melakukannya.”

Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan:

“Perkataan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ini merupakan pengingkaran terhadap perbuatan istri-istri beliau sedangkan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam hanya mengizinkan sebagian dari mereka saja (sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh al-Bukhary). Sebab pengingkarannya karena beliau khawatir mereka tidak ikhlas dalam beri’tikaf dan hanya ingin berdekatan dengan beliau disebabkan kecemburuhan mereka terhadap Nabi atau kecemburuan Nabi terhadap mereka.

Oleh karena itu, beliau tidak suka jika mereka menetap di masjid sedangkan masjid adalah tempat berkumpulnya manusia, orang badui dan orang munafik pun hadir di dalamnya. Sementara mereka butuh keluar masuk untuk memenuhi kebutuhan mereka, yang mana itu bisa membuat hilangnya rasa malu mereka. Atau karena beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam melihat istri-istrinya berada di dalam masjid sedang beliau juga berada di dalam masjid, maka ia merasa seakan-akan berada di rumahnya karena keberadaan beliau bersama istri-istrinya. Sehingga hal itu dapat menghilangkan tujuan utama dari beri’tikaf yaitu terlepas dari istri/suami dan ketergantungan dunia dan lain semisalnya. Atau karena mereka dapat mempersempit masjid dengan tenda-tenda mereka.”

Hadits ini menunjukkan sahnya i’tikaf para wanita, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengizinkan mereka. Dan sesungguhnya beliau melarang mereka (beri’tikaf) setelah itu karena suatu alasan, di antaranya bahwa suami diperkenankan melarang istrinya dari melakukan i’tikaf tanpa seizinnya. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Maka jika sang suami telah mengizinkannya, apakah dia dibolehkan melarangnya setelah itu? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Al-Syafi’i, Ahmad dan Daud berpendapat dibolehkan melarangnya dan menyuruhnya untuk keluar dari i’tikaf (yang bersifat) sunnah.”

Ibnu al-Mundzir dan lainnya mengatakan: “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang wanita tidak boleh beri’tikaf sebelum meminta izin kepada suaminya. Jika wanita tersebut beri’tikaf tanpa seizin suaminya, maka ia berhak untuk menyuruhnya keluar. Sedangkan jika telah diberi izin, maka suaminya diperkenankan mencabutnya dan melarangnya.

Menurut pendapat Ahli Ra’yi (golongan yang mendahulukan akal daripada hadist), kalau suami telah memberi izin, kemudian melarang, maka dia (suami) berdosa dan istri dapat menolak. Sementara pendapat Malik, suami tidak berhak melarang hal itu. Maka hadits ini adalah bantahan atas pendapat mereka.” (Dinukil dari Fathu al-Bari).

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/48956