Sudah Umrah Di Bulan Haji, Lalu Pulang Ke Negerinya, Apakah Bisa Dianggap Haji Tamattu’?

  • 3 min read
  • Aug 16, 2018
Umroh

Soal:

Mohon penjelasan tentang hukum mengerjakan umrah di bulan-bulan haji dengan niat untuk mengerjakan haji pada tahun yang sama; apakah dengan begitu saat kita pulang kembali ke kampung halaman kita serta-merta dianggap telah berhaji tamattu’ dan harus menyembelih hewan hadyu atau tidak? Perlu diketahui bahwa kami berniat melakukan haji ifrad dan kami sendiri bermukim di kota Madinah.

Jawaban:

Seorang yang berhaji tamattu’ adalah orang yang berihram untuk umrah di bulan-bulan haji hingga selesai (berumrah), lalu ia berihram lagi untuk haji pada tahun yang sama.

Salah satu syarat haji tamattu’ adalah bahwa ia tidak boleh melakukan perjalanan kembali ke negaranya meninggalkan Mekkah setelah melakukan umrah, karena jika pulang kembali ke negerinya lalu kembali lagi hanya untuk berhaji, maka ia dianggap melakukan haji ifrad, bukan lagi haji tamattu’. (Dengan begitu) ia tidak harus menyiapkan hewan hadyu, karena ia telah melakukan sebuah perjalanan baru lagi untuk ibadah haji. Dan jika dalam perjalanan itu, ia ingin melakukan haji tamattu’, maka ia harus berihram untuk umrah (lagi) dari miqat dalam perjalanannya yang kedua itu.

Adapun jika setelah menunaikan umrah, ia meninggalkan Mekkah ke tempat lain selain kampung halamannya –seperti jika ia pergi ke Jeddah-, lalu kembali lagi berihram untuk haji, maka ia masih dianggap menunaikan haji tamattu’, dan bepergiannya ke Jeddah tidak membatalkan tamattu’nya, karena ia tidak bepergian ke negeri asalnya.

Syekh Ibn Baz pernah ditanya tentang seorang yang menunaikan umrah di bulan Syawal, lalu pulang kembali ke kampung halamannya, lalu kembali ke Mekkah dengan niat haji ifrad, apakah ia masih bisa dianggap mengerjakan haji tamattu’ dan wajib menyembelih hewan hadyu? Maka beliau menjawab:

“Jika seseorang menunaikan umrah di bulan Syawal, lalu pulang kembali ke kampung halamannya, lalu datang lagi untuk mengerjakan haji ifrad; maka Jumhur ulama berpendapat bahwa ia tidak lagi berhaji tamattu’ dan tidak wajib menyiapkan hewan hadyu, karena ia telah pulang kembali ke kampungnya lalu kembali ke Mekkah untuk menunaikan haji ifrad. Inilah pendapat yang (juga) diriwayatkan dari Umar dan putranya (‘Abdullah bin Umar) radhiyallahu ‘anhuma, dan ini (sekali lagi) pendapat Jumhur.

Sementara yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: bahwa orang tersebut masih berhaji tamattu’ dan ia wajib menyembelih hewan hadyu, karena ia telah menggabungkan antara haji dan umrah di bulan-bulan haji pada tahun yang sama.

Adapun Jumhur ulama, mereka mengatakan: jika ia telah kembali ke kampung halamannya –sebagian dari mereka mengatakan: jika ia telah bermusafir sejauh jarak qashar-, lalu datang kembali dengan haji ifrad, maka ia tidak lagi berhaji tamattu’.

Dan pendapat yang paling kuat –wallahu a’lam- adalah pendapat yang diriwayatkan dari Umar dan putranya (Abdullah bin ‘Umar) radhiyallahu ‘anhuma: bahwa jika ia pulang kembali ke kampung halamannya, maka ia tidak lagi berhaji tamattu’ dan ia tidak berkewajiban membayar dam.

Adapun orang yang berangkat untuk haji dan seusai menunaikan umrah ia tinggal di Jeddah atau Thaif padahal ia sendiri bukan penduduk kota tersebut, lalu ia berihram lagi untuk haji, maka ini masih dianggap sebagai haji tamattu’. Kepergiannya ke Thaif atau Jeddah atau Madinah tidak mengeluarkannya dari haji tamattu’, karena ia datang untuk mengerjakan keduanya. Ia hanya bepergian ke Jeddah atau Thaif untuk satu keperluan. Begitu pula jika ia pergi ke Madinah untuk berziarah; semua itu tidak mengeluarkannya sebagai orang yang berhaji tamattu’; berdasarkan pendapat yang paling kuat dan rajih, sehingga ia wajib menyiapkan hewan hadyu untuk haji tamattu’, serta melakukan sa’i untuk haji seperti ia melakukan sa’i untuk umrahnya.” (Lih: Majmu’ Fatawa al-Syaikh Ibn Baz, 17/96)

Dan dalam Fatawa al-Syaikh Ibn Baz (17/98) juga dijelaskan:

“…Dan jika ia kembali berihram untuk umrah –maksudnya: dalam perjalanannya yang kedua-, lalu ia bertahallul, kemudian tinggal hingga tiba waktu berhaji, maka ia telah melakukan haji tamattu’. Sedangkan umrahnya yang pertama tidak membuatnya menjadi orang yang menunaikan haji tamattu’ menurut Jumhur. Namun ia menjadi haji tamattu’ dengan umrah yang terakhir (kedua-penj) yang ditunaikannya lalu ia tinggal di Mekkah hingga tiba waktu berhaji.”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan:

“Bila orang yang berniat haji tamattu’ pulang kembali ke negerinya, lalu ia memulai perjalanan baru lagi untuk berhaji dari negerinya, maka ia (dianggap) berhaji ifrad. Itu karena terputusnya umrah dan haji yang ditunaikannya dengan kepulangan kembali ke kampung halamannya. Sehingga memulai perjalanan (dari negerinya) berarti  ia telah memulai sebuah perjalanan baru untuk berhaji, dan dengan begitu hajinya menjadi haji ifrad. Maka dalam kondisi itu, tidak wajib baginya menyiapkan hewan hadyu untuk tamattu’.  Namun jika ia melakukan itu sebagai muslihat untuk menggugurkan kewajiban hewan hadyu, maka kewajiban menyembelih hewan hadyu itu tidak gugur (darinya), karena bermuslihat untuk menggugurkan kewajiban berkonsekwensi tidak gugurnya (kewajiban) itu. Sebagaimana bermuslihat untuk melakukan yang haram tidak berkonsekwensi kehalalannya.” (Lih: Fatawa Arkan al-Islam hal. 524)

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/40356