Tentang Keutamaan Haji Mabrur, Baik yang Wajib Maupun Sunnah

  • 2 min read
  • Aug 16, 2018
Haji

Soal:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada kita dalam hadits: bahwa siapa yang berhaji dan tidak berbuat rafats dan kefasikan, ia akan pulang kembali seperti saat hari ia dilahirkan oleh ibunya. Apakah pahala ini khusus untuk haji fardhu saja? Atau juga berlaku pada orang yang melakukan haji sunnah? Apa ia juga kembali seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya? Dan jika hajinya mabrur juga tidak mendapatkan balasan selain surga? Atau itu khusus untuk haji fardhu saja?

 Jawaban:

Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan haji, di antaranya:

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1521) dan Muslim (no. 1350), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji karena Allah, lalu ia tidak berbuat ‘rafats’ dan berbuat fasik, ia akan kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.’

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1773) dan Muslim (no. 1349), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji mabrur itu tidak ada balasan untuknya selain surga.”

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzy (no. 738) dan al-Nasa’i (no. 2631), dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

‘Ikutkanlah antara haji dengan umrah, karena keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa, sebagaimana api menghilangkan kotoran (pada) besi, emas dan perak. Dan tidak ada balasan untuk haji yang mabrur kecuali surga.” (Dihasankan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Sunan al-Tirmidzi).

Keutamaan yang terdapat dalam hadits-hadits itu termasuk di dalamnya haji fardhu dan haji yang sunnah; dan itu karena keumuman lafazh dalam hadits-hadits tersebut.

Haji mabrur –sebagaimana dikatakan para ulama rahimahumullah- adalah ibadah haji yang tidak dicampuri oleh dosa.

Syekh Ibn Baz rahimahullah mengatakan:

“Haji mabrur adalah haji yang didalamnya sang hamba tidak melakukan kemaksiatan pada Allah, sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: ‘Siapa yang berhaji lalu ia tidak berbuat rafats dan berbuat fasik, ia akan kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.’” (Lih: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 16/334).

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/175235