Tidak “Ada” I’tikaf kecuali di Tiga Masjid

0
94

Pertanyaan:

Saya mendengar hadits bahwa i’tikaf tidak sah kecuali di Masjidil Haram, di Masjid Nabawi dan di Masjidil Aqsa. Apakah hadits tersebut shahih?

Jawaban:

Pertama:

Hadits yang dimaksud oleh penanya adalah hadist yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, (4/315) dari Huzaifah, ia berkata kepada ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhuma:

مررت على أناس عكوف بين دارك ، ودار أبي موسى ، ( يعني في المسجد ) وقد علمت أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم قال : ( لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة : المسجد الحرام ) . فقال عبد اللّه بن مسعود : لعلك نسيت وحفظوا ، وأخطأت وأصابوا .

“Saya melewati orang yang beri’tikaf antara rumah anda dan rumah Abu Musa (maksudnya di dalam masjid). Sungguh saya mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid: Masjid al-Haram.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Mungkin anda lupa dan mereka hafal, (mungkin) anda salah dan mereka benar.” (Dinyatakan shahih oleh al-Albany dalam ‘Silsilah al-Ahaadits al-Shahihah’ no. 2876)

Kedua:                           

Sementara hukum dalam masalah ini, Jumhur ulama berpendapat bahwa i’tikaf tidak disyaratkan di salah satu dari tiga masjid tersebut. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala:

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Kata ‘Masaajid’ dalam ayat ini bermakna umum mencakup semua masjid. Kecuali ada dalil yang menunjukkan tidak sahnya i’tikaf di dalamnya seperti masjid yang tidak ditegakkan shalat berjamaah di dalamnya karena orang yang beri’tikaf wajib melakukan shalat jamaah.

Imam al-Bukhary Rahimahullah telah mengisyaratkan kesimpulan dari keumuman ayat tersebut dengan mengatakan,

‘Bab beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir (Ramadan). Adapun i’tikaf dilakukan di semua masjid, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Dan kaum Muslimin masih melakukan i’tikaf di masjid-masjid negara mereka.” Sebagaimana yang disebutkan oleh at-Thahawy Rahimahullah dalam “Musykil al-Aatsar”, (4/205).

Syekh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah Ta’ala ditanya tentang hukum i’tikaf di tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Maka beliau menjawab:

“I’tikaf selain di tiga masjid yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha disyariatkan pada waktunya. Dan (i’tikaf) tidak dikhususkan di tiga masjid tersebut. Akan tetapi boleh dilakukan di sana dan selainnya. Ini adalah pendapat para Imam Mazhab yang masyhur seperti Imam Ahmad, Malik, al-Syafi’i, Abu Hanifah dan lainnya Rahimahumullah berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Kata ‘Masajid’ dalam ayat tersebut bermakna umum mencakup seluruh masjid yang ada di belahan bumi. Dan kalimat tersebut juga ada di akhir ayat-ayat puasa yang mana hukumnya mencakup seluruh umat di seluruh penjuru negara, yang berarti itu adalah ucapan yang ditujukan kepada semua orang yang berpuasa. Oleh karena itu hukum-hukum yang hubungan tersebut di akhiri dalam satu konteks dan ucapan  dengan firman Allah Ta’ala:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Itulah larangan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Sangat mustahil sekali Allah memerintahkan kepada satu ummat suatu perintah yang tidak menyeluruh dan hanya bisa dilakukan oleh segelintir di antara mereka saja. Sementara hadits Hudzaifah bin al-Yamaan Radhiyallahu ‘anhu:

 لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة

“Tidak (sempurna) ibadah i’tikaf kecuali di tiga masjid.”

Hadist ini jika terlepas dari cacat maka itu bermaksud menafikan/meniadakan kesempurnaan. Maksudnya bahwa i’tikaf yang paling sempurna adalah di tiga masjid tersebut, hal itu dikarenakan akan kemuliaan dan keutamaannya dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya. Susunan teks (dalam bahasa Arab) seperti itu banyak sekali. Maksud saya kalimat peniadaan tersebut dimaksudkan meniadakan kesempurnaan bukan meniadakan hakikat dan keabsahan. Seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا صلاة بحضرة طعام

“Tidak (sempurna) shalat dengan adanya makanan.” Dan hadits-hadits lainnya.

Tidak diragukan lagi bahwa hukum dasar dalam peniadaan adalah peniadaan hakikat syar’iyyah atau hissiyyah. Akan tetapi jika terdapat dalil yang menghalangi peniadaan itu, maka wajib mengikuti dalil tersebut, seperti hadits Huzaidah, itu jika ia terlepas dari cela.” (Lih: Fatawa al-Shiyam, hal. 493).

Syekh Ibnu Baz Rahimahullah ditanya, “Sejauh mana keabsahan hadits:

لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة

“Tidak (sempurna) i’tikaf kecuali di tiga masjid.”

Kalau hadits tersebut shahih, apakah benar bahwa tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid ini?

Maka beliau menjawab:

“I’tikaf di selain tiga masjid ini sah, akan tetapi disyaratkan masjid tempat i’tikaf tersebut dilaksanakan shalat berjamaah. Dan jika tidak, maka i’tikafnya tidak sah. Kecuali kalau ia bernadzar untuk beri’tikaf di tiga masjid tersebut, maka dia harus menunaikan i’tikaf di sana sebagai pelaksanaan nazarnya.” (Lih: Majmu Fatawa Ibnu Baz, 15/444).

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/49006

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here