Tidak Berpuasa Ramadhan Tanpa Udzur

  • 3 min read
  • May 28, 2018

Pertanyaan:

Saya tidak berpuasa di bulan Ramadhan, apakah saya akan diberi hukuman dan siksaan pada hari kiamat?

Jawaban:

Puasa Ramadhan adalah salah satu pilar yang membangun agama Islam. Dan Allah Ta’ala menjadikannya sebagai sebuah kewajiban atas orang-orang yang beriman dari umat ini sebagaimana Dia telah mewajibkannya kepada umat-umat sebelumnya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة:183)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. al Baqarah, 2:183).

Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة:185)

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaknya kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. al Baqarah, 2:185).

Ibnu Umar radhiallahu anhuma juga meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallah ‘alaih wa sallam yang berbunyi:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم).

“Islam dibangun di atas lima (pilar); Bersaksi bahwa tiada tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan haji dan menjalankan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no.8 dan Muslim no. 16).

Oleh karena itulah, barangsiapa yang meninggalkan puasa, maka pada hakikatnya dia telah meninggalkan salah satu dari rukun Islam dan telah melakukan sebuah dosa besar. Bahkan sebagian ulama salaf berpendapat bahwa dia telah kafir dan keluar dari Islam, nauzubillah min dzalik.

Pendapat ini berdasarkan sebuah riwayat yang berasal dari Abu Ya’la dalam Musnadnya, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

عُرَى الْإِسْلَامِ وَقَوَاعِدُ الدِّينِ ثَلَاثَةٌ عَلَيْهِنَّ أُسِّسَ الْإِسْلَامُ، مَنْ تَرَكَ مِنْهُنَّ وَاحِدَةً فَهُوَ بِهَا كَافِرٌ حَلَالُ الدَّمِ: شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَالصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ وَصَوْمُ رَمَضَانَ

“Tali buhul Islam dan pondasi agama itu ada tiga, di atasnya Islam dibangun. Barangsiapa yang meninggalkan salah satu darinya, maka dia telah kafir yang halal darahnya; Bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah, shalat wajib dan puasa Ramadhan.” (Hadits dishahihkan oleh al-Dzahaby, dihasankan oleh al-Haitsamy dalam Majma al-Zawaid (1/48), juga al-Mundziry dalam al-Targhib wa al-Tarhib no. 805 dan 1486, sedangkan al-Albany melemahkannya di dalam Silsilah al-Ahadits al-Dhaifah no. 94).

Imam al-Dzahaby rahimahullah berkata dalam kitab al-Kaba’ir hal. 64:

“Sudah jadi kesepakatan bersama bagi orang-orang beriman bahwa barangsiapa meninggalkan puasa Ramadhan tanpa sakit dan tanpa tujuan (yakni tanpa ada uzur yang diperbolehkan) maka dia lebih buruk dari pezina dan pecandu minuman keras, bahkan diragukan keislamannya dan dituduh sebagai orang zindiq dan ateis.”

Dan di antara dalil shahih yang menyatakan ancaman bagi orang yang meninggalkan puasa Ramadhan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahily radhiallahu anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ، فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ، فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا، فَقَالَا: اصْعَدْ، فَقُلْتُ: إِنِّي لَا أُطِيقُهُ، فَقَالَا: إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ، فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ، قُلْتُ: مَا هَذِهِ الْأَصْوَاتُ؟ قَالُوا: هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِي، فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَقَّقَةٍ أَشْدَاقُهُمْ، تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

“Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua orang yang mendatangiku lantas memegang kedua lenganku. Keduanya lalu membawaku ke sebuah gunung yang  terjal kemudian berkata: “Naiklah!”,  aku menjawab: “Aku tidak kuat”, lalu keduanya berkata: “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka akupun mendaki naik, dan ketika sampai di tengah gunung, tiba-tiba terdengar suara melengking keras. Aku berkata: “Suara apa itu?”, mereka menjawab: “Itu adalah teriakan penghuni neraka”. Kemudian mereka membawaku lagi, dan aku mendapati suatu kaum yang digantung terbalik dengan kaki di atas, mulutnya sobek dan mengeluarkan darah. Aku bertanya: ”Siapa mereka?”, mereka menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no.1986 dan Ibnu Hibban no.7491, hadits ini dishahihkan oleh al-Albany dalam Shahih Mawarid al-Zham’an no. 1509).

Syaikh al-Albany rahimahullah mengomentari hadits tersebut dan berkata:

“Ini adalah hukuman bagi orang yang berpuasa kemudian berbuka secara sengaja sebelum waktu berbuka. Lantas, bagaimana dengan mereka yang memang tidak berpuasa sama sekali? Kita memohon keselamatan dan kebaikan di dunia dan akhirat kepada Allah.”

Maka berikut nasihat kami bagi saudara penanya, hendaknya anda bertakwa kepada Allah Ta’ala dan berhati-hati terhadap kemarahan dan kemurkaan-Nya serta siksa-Nya yang pedih.

Bersegeralah bertaubat sebelum ajal menjemput anda, karena pada hakikatnya hari ini adalah saat beramal dan belum ada perhitungan, sedangkan esok (hari kiamat) adalah masa perhitungan tanpa ada kesempatan beramal.

Dan ketahuilah bahwa barangsiapa yang bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya, dan barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah sejengkal maka Allah akan mendekatinya sehasta karena sesungguhnya Dia adalah Maha Pemurah, Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (التوبة:104)

“Tidaklah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taubah, 9:104).

Jika anda mau mencoba untuk berpuasa dan mau mengetahui segala kemudahan, keindahan, ketenangan dan kedekatan dengan Allah, niscaya anda tidak akan pernah meninggalkannya.

Renungkanlah firman Allah di penghujung ayat yang berbicara tentang puasa:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (البقرة:185)

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (QS. al Baqarah, 2:185)

Juga firman-Nya:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة:185)

“Agar supaya kalian bersyukur.” (QS. al Baqarah, 2:185).

Hal ini dimaksudkan agar anda mengetahui bahwa puasa adalah anugrah yang harus disyukuri. Maka tidak heran jika sebagian ulama salaf berharap agar Ramadhan ada di sepanjang tahun.

Semoga Allah memberikan kepada anda petunjuk dan taufikNya, serta melapangkan dada anda agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/38747