Tidak Bisa Berpuasa Karena Mengonsumsi Obat

0
83

Pertanyaan:

Apa hukum bagi seseorang yang tidak berpuasa kecuali menggunakan obat-obatan. Jika ia tidak meminum obat-obatan itu, maka ia akan mengalami sakit kepala sebelah yang sangat berat bahkan menyebabkan mual-mual.

Karena khawatir terjatuh dalam masalah ini, sejak kecil ia tidak memperdulikan hari-hari yang telah ia tinggalkan, sebab keadaannya sama saja seperti itu, karena ia terkena penyakit sensitif. Bolehkah ia membayar fidyah pada hari-hari yang ia tinggalkan itu dengan bersedekah pada orang-orang miskin?

Jawaban:

Jika puasa memberatkannya, maka boleh baginya untuk membatalkan puasanya. Ia tidak perlu menggunakan obat-obatan agar dapat melaksanakan puasa. Sebab seorang seorang mukallaf tidak harus memenuhi syarat wajib puasa.

Jika seorang doker telah mengabarkan padanya bahwa kondisinya ini tidak bisa diharapkan kesembuhannya, sedang puasa selalu menyebabkan ia mengalami sakit kepala sebelah yang sangat berat, maka ia boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah sesuai hari-hari yang ia tinggalkan. Dan hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk menghitung hari yang ia tinggalkan sejak ia baligh, lalu membayar fidyah untuknya.

Dasar pembolehan tidak berpuasa bagi seorang yang sakit adalah firman Allah Azza wa Jalla:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini ditujukan untuk orang yang sakit yang bisa mengqadha’ puasanya pada masa yang akan datang.

Adapun penyakit yang tidak ada harapan lagi akan kesembuhannya –berdasarkan ketetapan para dokter-, maka ia boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah setiap harinya kepada 1 orang miskin. Takarannya  sha’ beras atau selainnya (jika dikilogramkan kira-kira sebanding dengan 1kg).

Pada kondisi ini ia disamakan dengan kondisi para orang tua yang telah berusia lanjut, yang sudah tidak mampu lagi berpuasa. dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (QS. Al-Baqarah: 184)

Imam Bukhary meriwayatkan (4505) dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: “Orang tua laki-laki atau perempuan yang telah berusia lanjut yang tidak mampu lagi berpuasa, maka mereka harus memberi makan seorang miskin sebanyak hari yang ia tinggalkan.”

Imam al-Nawawy rahimahullah berkata:

 “Al-Syafi’i dan para sahabatnya berpendapat: Orang tua yang berusia lanjut yang merasa berat menjalankan puasa dan seorang yang sakit yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya, mereka tidak perlu berpuasa. Tidak ada perselisihan dalam masalah ini. Akan dinukil dari Ibnu al-Mundzir akan adanya kesepakatan para ulama dalam masalah ini. Mereka wajib membayar fidyah berdasarkan pendapat yang benar dari dua pendapat ulama.” (Lih: al-Majmu’ : 6/261).

Kami memohon kepada Allah agar Allah memberikannya kesembuhan.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/94037

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here