Tidak Dapat Izin Kantor: Bisakah Jadi Udzur Tidak Berhaji?

0
93

Soal:

Di musim haji, biasanya tekanan pekerjaan di tempat kami semakin banyak, sehingga pimpinan perusahan tidak mengizinkan kami untuk cuti perjalanan. Jika saya pergi tanpa persetujuannya, maka kemungkinan besar saya akan kehilangan pekerjaan.

Apakah ini bisa menjadi udzur untuk menunda ibadah haji sampai Allah memberikan kemudahan untuk itu –dan saya kira itu tidak dalam waktu yang lama insya Allah-?

Jawaban:

Pendapat yang kuat (rajih) dari berbagai pandangan para ulama dalam masalah ini adalah bahwa ibadah haji harus ditunaikan dengan segera bagi yang sudah mampu. Pelaksanaan rukun Islam yang agung ini tidak boleh ditunda.

Namun kadang seorang muslim sudah memiliki bekal dan kendaraan serta mendapatkan perjalanan yang aman, tapi ada penghalang-penghalang lain yang menghalanginya untuk menunaikan haji; maka yang seperti ini tentu saja memiliki udzur untuk tidak menunaikannya. Seperti jika ia harus mendampingi istri yang sakit atau ayah yang sekarat, atau seperti jika negara membatasi kuota jamaah haji dan ia tidak mendapatkan jatah untuk itu, atau faktor-faktor penghalang lainnya yang diakui secara syar’i.

Atas dasar itu, maka mereka yang mengalami udzur seperti itu, ia termasuk orang yang dianggap tidak mampu menunaikan ibadah haji, meskipun memiliki bekal dan kendaraan untuk itu.

Dan menurut kami, tidak adanya izin dari pihak kantor/instansi untuk seorang pegawai –baik negeri maupun swasta-untuk melakukan perjalanan ibadah haji dapat menjadi udzur bagi sang pegawai untuk tidak menunaikannya. Ia juga tidak harus meninggalkan (resign) dari pekerjaan tersebut jika pekerjaan itu halal. Tentu saja, sang pegawai sepatutnya berusaha untuk mengajukan permohonan izin itu setiap tahun dan melakukan berbagai upaya semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah haji, meskipun misalnya dengan mengambil cuti tanpa gaji jika itu tidak berpengaruh pada kewajibannya menafkahi keluarganya.

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Seseorang yang tidak mampu menunaikan ibadah haji karena pekerjaannya, maka ia tidak berdosa, karena ia (dianggap) belum mampu untuk melakukannya…” (Lih: Liqa’ al-Bab al-Maftuh hal. 92)

Beliau juga pernah ditanya:

“Saya datang ke negeri ini tidak lain agar dapat menunaikan ibadah haji. Namun saya khawatir majikan dimana saya bekerja tidak mengizinkan saya untuk menunaikan kewajiban ini. Sekarang ini saya berada di Saudi dan tinggal tidak jauh dari lokasi menunaikan ibadah haji. Saya berharap Allah menggugah majikan saya untuk mengizinkan saya menunaikan haji. Tapi jika ia tidak mengizinkan, apakah dengan niat saya menunaikan ibadah haji, saya sudah dianggap menunaikannya atau tidak? Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: ‘Sesungguhnya amal-amal itu tidak lain bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang itu tidak lain mendapatkan apa yang ia niatkan.’ Apakah ini termasuk dalam batas ‘kemampuan’? Mohon penjelasan dan motivasi kepada para majikan untuk memberikan kesempatan kepada tanggungan mereka untuk menunaikan haji di Baitullah.”

Syekh al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab:

“Kami berharap saudara-saudara kami, para majikan, mendapatkan hidayah dari Allah untuk memberikan keringanan kepada pekerja-pekerja mereka untuk dapat menunaikan ibadah haji, karena ini termasuk upaya tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Dan Allah telah memerintahkan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman:

‘Dan tolong menolonglah kalian untuk kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Mahakeras siksa(Nya).’ (al-Ma’idah: 2)

Karena hal ini dapat menjadi jalan hadirnya keberkahan dalam pekerjaan dan rezki mereka, karena dalam 10 hari ibadah haji itu –meskipun pekerjaan terhenti- namun Allah akan menurunkan keberkahan dalam pekerjaan yang tersisa dan menghasilkan kebaikan yang berlimpah. Jika hal ini dimudahkan, maka itulah yang kami harapkan dari saudara-saudara kami para majikan.

Namun jika tidak, maka sang pekerja ini dikategorikan sebagai orang yang belum mampu (berhaji), sehingga kewajiban haji gugur darinya, karena Allah Ta’ala berfirman:

‘Siapa yang mampu untuk menunaikannya.’ (Ali Imran: 97)

Sementara sang pekerja ini belum mampu.

Adapun pernyataan si penanya bahwa apakah (jika tidak mendapatkan izin), ia dianggap sudah menunaikan haji?, maka jawabannya tentu saja tidak. Tapi kewajiban menunaikan haji itu gugur darinya sampai ia mampu menunaikannya. Jika ia meninggal dunia sebelum sempat menunaikan haji, maka ia mati tidak dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, sebab ia belum wajib dan mampu menunaikan haji.” (Lih: Majmu’ Fatawa al-Syaikh Ibn ‘Utsaimin 21/62)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/155378

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here